Sabtu 09 November 2019, 20:51 WIB

Demonstran Cile Bakar Gedung Universitas dan Jarah Gereja

Melalusa Suhstira Khalida | Internasional
Demonstran Cile Bakar Gedung Universitas dan Jarah Gereja

AFP/Javier Torres
Bentrokan demonstran Cile dengan petugas keamanan

 

DEMONSTRASI di Cile yang memasuki pekan ketiga ditandai dengan semakin kerasnya aksi massa. Pada Jumat (8/11), demonstrasi diwarnai dengan aksi pembakaran sebuah gedung universitas dan penjarahan sebuah gereja di Cile.

Awalnya, para demonstran terlibat bentrok dengan polisi yang telah mendirikan barikade untuk melindungi Universitas Pedro de Valdivia yang terletak di ibukota Cile, Santiago.

Saksi mata melaporkan, tak lama kemudian atap kayu dari gedung administrasi Universitas Pedro de Valdivia yang berumur 100 tahun mulai terbakar. Petugas pemadam kebakaran mengaku kesulitan mencapai lokasi kebakaran akibat kerumunan massa.

Tak jauh dari lokasi tersebut, para demonstran menjarah gereja La Asuncion, yang dibangun pada 1876. Mereka lalu menyeret furnitur gereja ke luar dan membakarnya.

Ketika malam hari, para demonstran lantas memblokir jalan di dekat pusat perbelanjaan kelas atas yang selama ini dianggap sebagai simbol Cile yang modern dan sejahtera.

Baca juga : AS Bantu Meksiko Perangi Kartel

Para demonstran lalu mendirikan barikade di dekat pusat perbelanjaan yang telah hampir dua minggu ditutup akibat kerusuhan. Mereka meneriakkan dan menyerukan slogan-slogan menentang Presiden Cile Sebastian Pinera yang konservatif.

Sementara itu, demonstran yang melintasi istana kepresidenan meneriakkan slogan-slogan yang ditujukan kepada Presiden Pinera dan menuntut dirinya mundur dari jabatannya. Mereka juga mencerca polisi yang menjaga gedung itu.

"Saya datang untuk menghancurkan mitos-mitos bahwa demonstrasi ini menggunakan kekerasan," terang seorang demonstran, Cristian.

Sebelumnya, puluhan ribu massa telah lebih dulu berkumpul di Plaza Baquedano atau yang dikenal dengan Plaza Italia. Memasuki demonstrasi pekan ketiga, demonstran lalu mengubah nama alun-alun monumental di pusat kota Santiago tersebut menjadi Dignity Plaza.

Pada Kamis (7/11) lalu, Pinera mengumumkan serangkaian langkah-langkah untuk memperketat ketertiban umum sesudah demonstrasi anti-pemerintah kian meluas.

Pada hari yang sama, polisi mengatakan hampir 10 ribu orang telah ditangkap dan sebagian besarnya telah dibebaskan sejak demonstrasi meletus di Cile pada pertengahan Oktober lalu.

Sebelumnya, Pinera telah mengumumkan sejumlah langkah guna meredam aksi demonstrasi. Di antaranya, mengubah susunan kabinetnya, bantuan bagi usaha kecil dan menengah yang terdampak kerusuhan, hingga undang-undang yang menjamin upah bulanan minimum sekitar 465 dolar AS atau sekitar Rp6,5 juta.

Namun, upaya tersebut agaknya belum signifikan meredam massa turun ke jalan. Para demonstran terus menuntut agar Pinera yang merupakan miliarder sayap kanan itu mundur sebagai presiden Cile.

Baca juga : Pinera tidak akan Mundur sebagai Presiden Cile

Warga Cile juga menyerukan reformasi konstitusi yang disebut berasal dari era kediktatoran Augusto Pinochet pada 1973 hingga 1990.

Demonstrasi yang awalnya memprotes kenaikan tarif metro kemudian memicu kerusuhan sipil terburuk di Cile dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Aksi pembakaran, penjarahan dan bentrokan antara demonstran dan aparat polisi menjadi situasi harian yang kini mewarnai salah satu negara paling stabil di Amerika Selatan tersebut.

Kemarahan warga Cile tersebut dipicu atas upah dan pensiun yang rendah, pelayanan kesehatan dan biaya pendidikan yang mahal serta kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan miskin.

Media lokal menyebut setidaknya 20 orang telah tewas dalam demonstrasi memprotes ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang meletus sejak Jumat (18/10). (AFP/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More