Sabtu 09 November 2019, 23:00 WIB

Rinaldy Arviano Yunardi Mengangkat Indonesia tanpa Melukai Budaya

Suryani Wandari | WAWANCARA
Rinaldy Arviano Yunardi Mengangkat Indonesia tanpa Melukai Budaya

MI/ARYA MANGGALA
Rinaldy A. Yunardi berpose diantara karya-karyanya.

Bukan tidak bangga, Rinaldy berhati-hati dalam mengekspos budaya Indonesia karena tidak ingin melukai warisan nenek moyang.

KEMBALI menyabet penghargaan tertinggi World of Wearable Art (WoW), Rinaldy Arviano Yunardi menjadi orang ketiga dalam 32 tahun sejarah ajang itu, yang bisa dua kali meraih Supreme WoW Award. WoW merupakan salah satu kompetisi desain paling bergengsi di dunia yang berlangsung di New Zealand dan diikuti desainer dari lebih 100 negara.

Di luar ranah kompetisi, nama besar Rinaldy tidak terbantahkan dengan sederet selebritas dunia yang jadi kliennya. Sebut saja Pink, Madonna, Katy Perry, Lady Gaga, Jennifer Lopez, Mariah Carey, Beyonce hingga keluarga Kardashian.

Semua itu membuat Rinaldy masuk ke sosok-sosok pahlawan masa kini bagi nama Indonesia di internasional. Di sisi lain, pria yang belajar desain secara autodidak ini punya prinsip soal kehati-hatian dalam mengekspos budaya. Lalu, bagaimana pula ia memandang evolusi desain aksesori saat ini? Berikut perbincangannya dengan Media Indonesia, Selasa (29/10) di Jakarta.

Sejak karya pertama Anda, yakni mahkota dari bahan akrilik yang dibuat di bengkel paman ada hingga kini menjadi pemenang dua Supreme Award WoW, bagaimana Anda sendiri melihat evolusi desain Anda?

SAYA menilai memang sangat berkembang. Namun, saya juga merasa harus tetap dalam konteks bertanggung jawab, apalagi dalam mengembangkan budaya tentu harus ada yang dipertahankan. Saya selalu memikirkan untuk tidak terlalu mengekspos budaya Indonesia karena bisa merusak. (Dalam WoW 2019, Rinaldy memilih mengambil budaya Tanah Air lewat penggunaan teknik anyaman tradisional. Sementara itu, bentuk karya cenderung ke futuristik). Namun, soal prinsip ini, kembali lagi ke desainernya. Saya enggak bisa melarang yang mau mengekspos budaya, masing-masing punya idealis. Cuma buat saya kejujuran dalam hati saja. Bagaimana dan sejauh mana kita mencintai apa yang sudah dikerjakan sebelumnya oleh nenek moyang. Dan selain itu, juga bertanggung jawab untuk feysen Indonesia ke depan.

 

Selama 24 tahun berkarya, bagaimana Anda menerapkan soal prinsip mencintai karya nenek moyang dan bertanggung jawab untuk masa depan fesyen Indonesia itu?

Contohnya, saya selalu mempertahankan teknik handmade. Karena budaya Indonesia dari dulu kan kerajinan tangan, handmade sekaligus nilai hati dan nilai seninya ada di sana. Belum lagi kerjaan tangan itu perlu kesabaran, kalau mesin kan cetak beres. Bagi saya, keluwesan tangan itulah seni.

 

Dari beragam karya yang ikut di WoW, bagaimana Anda melihat dan mengartikan perkembangan seni dunia?

Seni bisa mengungkapkan banyak arti, tergantung dari senimannya. Lewat seni, berita dan pesan pun dapat disebarkan. Detail cerita pun bisa dibangun. Kini pencinta seni pun mulai berkembang. Hal ini bagus sekali sebagai alat untuk membawa pesan untuk dunia seperti halnya karya Lady Warrior (karya Rinaldy di WoW 2019) yang menceritakan makna tentang perempuan yang kuat.

Warrior kan keras, kaku. Tapi saya memberikan makna seorang kesatria yang tak perlu tampil menggunakan pisau atau pedang karena kita di dunia inikan mau damai. Sekarang berjuang itu tidak dengan senjata, tetapi harusnya dengan kedamaian dan cinta kasih. Ini tentang wanita yang berjuang untuk apa yang dihadapinya, wanita memperjuangkan hidupnya di keluarga, masyarakat, Indonesia, dan dunia.

 

Bisa diceritakan soal awal perjalanan Anda hingga bisa terjun ke dunia desain?

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang desainer. Saya lulusan SMA pada 1890 jurusan IPS. Mama dulu pengajar bikin bunga dari kertas krep, sedangkan Papa buat tas dari kulit. Jadi, mungkin dari darah mereka berdua yang membuat saya bisa punya rasa seni. Pertama kali mengenal aksesori, khususnya tiara adalah dari (alm) Kim Tong (desainer bridal), tapi saya hanya tenaga marketing-nya. Kemudian, saya pernah kerja di toko elektronik. Suatu hari saya menemukan bahan-bahan lucu, termasuk akrilik lalu saya coba bikin tiara. Saya juga dapat kesempatan baik dari teman-teman. Saya ingat waktu itu Sebastian Gunawan dan Didi Budiardjo menyuruh saya melengkapi karya mereka dengan anting, gelang, headpieces, dan kalung.

 

Sepenting apa aksesori menurut Anda dalam kita berpenampilan? Apakah lebih kuat ketimbang busana?

Tentu penting sekali. Aksesori itu kan termasuk kacamata, gelang, kalung, tali pinggang, dan sepatu. Busana dan aksesori rasanya tidak bisa dipisahkan, mereka harus sejalan untuk membuat total look, yang mana bisa menampilkan dirinya yang indah dan serasi.

 

Bagaimana cara Rinaldy untuk mendeskripsikan seni ke dalam aksesori yang diinginkan klien?

Kami harus banyak bicara karena yang memakainya dia. Jadi, saya perlu tahu apa yang dia perlukan dan tampilkan. Kalau saya menciptakan sesuatu tanpa bertanya, akhirnya dia enggak bisa membawakannya. Saya ingin agar pemakainya juga happy, yang mana dia juga mengerti mengapa saya menggunakan suatu bahan sehingga bisa menimbulkan aura dan keindahan karya saat dipakai seseorang.

 

Meski sudah mendandani selebritas top dunia, Anda juga tetap mengeluarkan koleksi untuk pasar yang lebih luas. Apakah ini lebih ke sisi bisnis atau memang juga langkah Anda dalam lebih memasyarakatkan art accessories?

Kalau saya, alangkah lebih senang jika karya saya bisa dinikmati secara luas karena apa yang Tuhan berikan kepada saya itu adalah talenta yang begitu besar. Kenapa saya berpikir hanya segmentis tertentu? Jadi, sebisa mungkin membuat karya yang bisa dimiliki memiliki mereka. Tujuan saya juga ingin melihat mereka bahagia dan ingin sekali talenta ini bisa lebih luas dinikmati orang.

 

Anda telah menyebut keberhasilan dalam membuat karya-karya yang dikenakan selebritas dunia adalah berkat kerja sama dengan publicist Faye Liu yang berbasis di Singapura. Bagaimana awal perkenalan Anda dengannya?

Pertemuannya itu dia mencintai karya saya, terus sering ngobrol, saling mengerti, terjadilah saling hubungan baik. Kebetulan suaminya seleb juga sehingga dia nawarin karya untuk dipakai. Akhirnya banyak yang melirik. Dia selalu mendorong saya untuk bikin terus, dia selalu meyakini kalau saya bisa. Saya bersyukur hubungan kami baik, itu semua karena kami bekerja agar semua saling senang.

 

Target selanjutnya apa?

Saya tidak pernah berharap koleksi saya dipakai orang tertentu. Tugas saya hanya berkarya saja saat ini, sedangkan mimpi yang ingin sekali diwujudkan adalah ingin punya museum karena fesyen juga merupakan sejarah budaya. Kita punya itu dan ingin sekali punya museum, tentu bukan museum sendiri karena biayanya akan banyak. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More