Jumat 08 November 2019, 18:43 WIB

Meluruskan Prasangka, Menjelaskan Fakta

Charles Meikyansah - Anggota DPR RI/ SC Kongres Nasdem bid Rekomendasi | Opini
Meluruskan Prasangka, Menjelaskan Fakta

Ist
Ist

Truth is whatever people will believe – Roger Ailes

MENJELANG  perhelatan kongres Partai NasDem, banyak rumor yang berhembus. Memang politik akan selalu berkelindan dengan rumor. Mungkin, kalau saya tidak salah memperhatikan, sejauh ini covered media terhadap kongres Partai NasDem merupakan yang terbesar dibanding kongres partai lain.

Serangkaian peristiwa politik dan puncaknya safari NasDem ke TB Simpatupang, kantor PKS, menimbulkan banyak syak wasangka. Setidaknya yang paling banyak ditanyakan adalah apakah NasDem keluar dari koalisi dan menjadi partai oposisi?

Banyak analisis yang “utak atik matuk” memprediksi NasDem sedang memainkan politik catur, NasDem sedang zig-zag yang beredar di beberapa grup sosial media. Tujuanya membuat gaduh agar mendulang akumulasi elektoral dari memainkan simpati publik.

Analisis seolah-oleh mendapatkan pembenaran ketika rumor bahwa presiden tidak diundang dalam kongres partai NasDem, atau Anies Baswedan diberi panggung dalam kongres sedang berhembus kencang di beberapa linimasa.

Beginilah kalau semesta politik kita masih dihiasi rumor bukan lagi perdebatan gagasan yang kontruktif. Begitu banyak tulisan dan analisis yang retoris menjelaskan kalau NasDem sedang memainkan politik catur, sedang memainkan opera untuk kepentingan pemilu 2024.

Serentetan prasangka dan analisis yang retoris celakanya mendapatkan atensi yang luas dari publik. Dengan demikian, saya akan menggunakan medium untuk meluruskan prasangka, agar kita jernis memandang politik.

Menjawab semuanya saya akan menyitir dan memodifikasi quote dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “politik sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”

Seputar Kongres

Seputar pembukaan Kongres NasDem yang tidak dibuka oleh presiden, merupakan sikap NasDem untuk menjadi partai oposisi. Langkah politik untuk menjauhkan partai dari pusat kekuasaan, sekaligus strategi mengakumulasi empati publik “seolah-olah NasDem” merupakan partai yang di dzalimi oleh presiden.

Retorika diatas sejatinya tidak tepat karena kehilangan kontek dalam membaca. Kongres kali ini berbeda dengan kongres partai NasDem terdahulu. Kongres ke-2 kali ini bertepatan dengan ulang tahun partai NasDem yang ke-8.

Kongres dilakukan pada 8-10 November, sedangkan ulang tahun NasDem pada tanggal 11 November. Dengan waktu yang relatif berbarengan, tentu panitia harus mengatur jadwal agar tidak berbenturan dengan jadwal presiden karena tidak mungkin dua momen sekaligus dibuka oleh presiden.

Karena momen ulang tahun adalah momen berharga, maka NasDem memutuskan untuk mengundang presiden di acara ulang tahun. Tidak hanya presiden, NasDem juga mengundang seluruh pimpinan partai politik baik partai koalisi maupun partai oposisi. Baik dari Ibu Megawati, Airlangga Pribadi, Prabowo, Muhaimin Iskandar, Suharso Manoafra maupun SBY, Zulkifli Hasan dan Sohibul Iman.

Selain itu NasDem juga mengundang seluruh tokoh bangsa dan perwakilan negara sahabat. Mengapa ulang tahun ke-8 kali ini begitu penting bagi NasDem? Karena pada ulang tahun ke-8, NasDem mendapatkan kado yang spesial yaitu kenaikan yang signifikan baik perolehan suara secara nasional maupun kursi di parlemen sekaligus mampu memenangkan presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amien dalam pilpres.

Lalu bagaimana dengan kongres? Karena kongres dilakukan di Jakarta, maka Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta yang akan membuka kongres. Kenapa kok Anies? Karena kalau kongres dilakukan di Sulawesi Tenggara, maka yang akan membuka kongres NasDem adalah Gubernur Ali Mazi yang merupakan kader NasDem.  As simple as that

Terkait apakah pada kongres kali ini NasDem memutuskan untuk menjadi partai oposisi? Sebenarnya sudah saya tulisakan sebelumnya di kanal Medcom.id dengan judul Melampaui Kalkulasi Politik, Meneguhkan Demokrasi yang Bermutu. Tapi agar publik mengetahui setidaknya secara sederhana bahwa apa yang dilakukan NasDem belakangan ini merupakan cara NasDem untuk merawat demokrasi.

Membangun koalisi yang kritis dan konstruktif perlu tidak hanya sebagai check and balances tetapi juga sebagai alternatif tawaran kebijakan agar demokrasi kita tumbuh  bermutu. Dalam demokrasi, kritis dan konstruktif itu hal yang biasa dan perlu. Pada pemerintahan pertama presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla, NasDem merupakan partai pertama yang mendukung sekaligus partai yang tidak sepi memberikan masukan yang konstruktif bagi pemerintah apabila kebijakan-kebijakanya menyengsarakan rakyat.

Jangan lupa bahwa NasDem merupakan partai yang “all out” dalam memenangkan Joko Widodo – Ma’ruf Amien dalam pilpres 2019. Jadi kalau ada rumor NasDem mengambil langkah zig zag itu sangat berlebihan karena kita sekarang sedang “bulan madu” atas kemenangan presiden Joko Widodo.

Dengan menempatkan kader-kader terbaik NasDem di pemerintahan, merupakan cara NasDem untuk terus memastikan pemerintahan memang benar-benar bekerja untuk rakyat.

Fokus Kedepan.

Bagi NasDem, 2024 masih sangat jauh. NasDem sudah banyak belajar dari rentetan pemilukada dan pilpres. NasDem benar-benar “data and evidence based” dalam memutuskan keputusan-keputusan politik, dan itu yang membuat kami tumbuh diatas pertumbuhan partai-partai lainya.

NasDem bukan partai kemarin sore yang sesuai dengan nalar para penulis partikelir yang mencoba memisakan NasDem dengan Presiden Joko Widodo. Politik tidak bisa hanya dilihat dari apa yang nampak karena dalam politik ada Unintended consequences, yang biasanya memiliki benefit lebih besar.

Yang jelas, NasDem akan terus bermitra dengan pemerintah dan terus memastikan agar kerja pemerintah memang untuk mewujudkan cita – cita kemerdakaan. Pilpres sudah usai, jauh lebih strategis bagi NasDem pada kongres kali ini adalah bagaimana NasDem dapat memenangkan kontestasi pemilukada 2020.

Selebihnya, menutup tulisan tidak ada kata yang paling pas dari megutip dan memodifikasi quote pram bahwa “politik itu sederhana, tafsirnya saja yang luar biasa”. (OL-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More