Kamis 07 November 2019, 23:00 WIB

Asmara dan Warisan Jadi Motif Pembunuhan di Jember

Antara | Nusantara
Asmara dan Warisan Jadi Motif Pembunuhan di Jember

(ANTARA/ Zumrotun Solichah)
Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal (tengah) berbincang dengan tersangka BS (istri korban) saat pers rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/10/

 

KAPOLRES Jember AKBP Alfian Nurrizal mengatakan asmara dan warisan menjadi motif pembunuhan korban Sugiono yang jasadnya dicor di bawah lantai musala rumahnya di Desa Sumbersalak, Kabupaten Jember, Jawa Timur.  

"Untuk motif pembunuhan yakni asmara dan warisan, serta dendam, sehingga kedua tersangka tega membunuh korban saat yang bersangkutan tertidur pulas di rumahnya," kata Alfian Nurrizal di Mapolres Jember, Kamis (7/11).

Aparat kepolisian menetapkan istri dan anak korban masing-masing berinisial BS, 47, dan BR, 27, sebagai tersangka pembunuhan Sugiono alias Surono, 51, bahkan kedua tersangka sengaja merencanakan pembunuhan tersebut untuk menguasai harta korban yang sehari-hari menjadi petani kopi dengan penghasilan sekitar Rp90 juta per tahun.  

"Terkait asmara, BS mengaku cemburu dengan seorang perempuan berinisial I yang diduga sebagai selingkuhan suaminya dan saat diminta keterangan I mengakui kedekatannya dengan Sugiono, namun ia juga mengaku dekat dengan BS yang menjadi istri korban," katanya.

Tidak hanya itu, BS juga menikah siri dengan pria berinisial J setelah sebulan kematian korban dengan disaksikan tersangka BR, namun suami siri tersangka BS tidak mengetahui adanya pembunuhan itu dan tidak tahu ada jasad Sugiono yang dikubur di bawah lantai musala yang dicor tersebut.

"Sementara untuk motif warisan, kedua tersangka tergiur untuk menguasai harta korban dari hasil panen kebun kopinya sebesar Rp90 juta hingga Rp100 juta per tahun, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh korban pada akhir Maret 2019," katanya.  


Baca juga: Alasan Brigadir AM Tembak Mahasiswa masih Didalami


Tersangka BR juga merasa dendam dan sakit hati kepada ayahnya karena tidak memberinya uang yang banyak, padahal ia tahu penghasilan ayahnya cukup besar dari hasil panen kebun kopinya seperti Agustus 2019 mencapai Rp100 juta.

"Yang merencanakan ide pembunuhan korban yakni kedua tersangka (ibu dan anak) yang memiliki peran masing-masing, sehingga bersekongkol membunuh korban dan menguburnya di bawah lantai musala yang dicor," ujarnya.

Namun, setelah terjadi pembunuhan dan hasil keuntungan kebun kopi yang cukup besar tidak dinikmati oleh tersangka BR, justru dinikmati sendiri oleh ibunya dan suami sirinya, sehingga BR dendam kepada ibunya dan J, sehingga menuduh J yang membunuh ayahnya dalam keterangan yang disampaikan tersangka kepada penyidik.   

"BR merupakan residivis kasus penganiayaan berat yang korbannya adalah Bu Nyai di desa setempat, sehingga pernah dipenjara selama 2 tahun 8 bulan," ucap mantan Kapolresta Probolinggo itu.

Kedua tersangka yakni istri dan anak korban dijerat Pasal 340 KUHP sub Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.  (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More