Jumat 08 November 2019, 01:45 WIB

Sekjen PBB Kecam Penggunaan Peluru Tajam

Melalusa Susthira K | Internasional
Sekjen PBB Kecam Penggunaan Peluru Tajam

AFP
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres

 

SEKRETARIS Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Irak dengan menembakkan peluru tajam langsung ke arah demonstran di ibukota Irak, Baghdad. Demonstrasi yang meletus sejak bulan lalu tersebut terus berlanjut mengguncang Baghdad dan Irak selatan hingga saat ini.

Guterres juga menyatakan kekhawatirannya yang seriusnya atas meningkatnya jumlah korban tewas maupun dan terluka dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di Irak.

“Laporan tentang penggunaan berlanjut peluru terhadap demonstran adalah mencemaskan,” terang Guterres dalam sebuah pernyataan, Rabu (6/11).

Untuk itu, Guterres menyerukan agar semua tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap demonstran diselidiki secara serius. Ia juga memperbarui permohonannya agar dilangsungkannya dialog yang berarti antara pemerintah dan demonstran.

Setelah hampir dua minggu menggunakan gas air mata untuk memukul mundur demonstran, pasukan Keamanan Irak kembali menggunakan peluru tajam pada Senin (4/11). Di ibukota Baghdad, para demonstran berkumpul di Alun-alun Tahrir dan menyebar ke jembatan-jembatan terdekat yang mengarah ke tepi barat Sungai Tigris.

Sekelompok demonstran mencoba untuk menyeberangi jembatan Al-Shuhada pada Rabu (6/11), namun upaya mereka disambut dengan peluru tajam yang dilancarkan pasukan keamanan Irak.

“Polisi anti huru hara menghantam kami dengan tongkat di kepala kami dan kami melempari mereka dengan batu. Tetapi kemudian mereka mulai menembakkan peluru ke arah orang-orang,” ujar seorang demonstran, Mahmoud, yang dirawat oleh petugas medis.


Gunakan gas air mata

Di sisi lain, operasional kembali berjalan di pelabuhan dan kilang minyak di Irak selatan pada Kamis (7/11). Pekerjaan itu dapat beroperasi setelah pengunjuk rasa yang menutup jalan selama sepekan meninggalkan kedua area.

Para demonstran anti-pemerintah telah memblokir jalan di pelabuhan komoditas Umm Qasr. Kondisi itu akhirnya membuat operasi berhenti selama lebih dari sepekan. Pada Rabu, mereka menghentikan kapal tanker bahan bakar yang akan masuk atau meninggalkan kilang minyak Nassiriya, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan di selatan.

Blokir yang dilakukan demonstran membuat penghentian tangki bahan bakar yang mengangkut bahan bakar ke pompa bensin di kilang Nassiriya, sehingga membuat kekurangan bahan bakar di provinsi Dhi Qar. Kilang baru-baru ini memproduksi sekitar setengah dari kapasitasnya.

Pemerintah menyatakan, pemblokiran Umm Qasr pun, telah membuat negara itu kehilangan lebih dari 6 miliar dolar AS. Tempat tersebut merupakan bagian vital karena menerima impor biji-bijian, minyak nabati, dan pengiriman gula yang memberi makan suatu negara yang sebagian besar bergantung pada makanan impor.

Kerusuhan anti-pemerintah di Irak yang dimulai di Baghdad dipicu kurangnya pekerjaan dan layanan yang buruk. Demonstrasi itu telah berlangsung selama berminggu-minggu dan menyebar ke kota-kota selatan. Selama protes berlangsung, banyak korban terluka dan menewaskan lebih dari 250 orang di tengah penumpasan brutal oleh pasukan keamanan.  (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More