Kamis 07 November 2019, 19:58 WIB

Masih dikelola Secara Parsial, Daur Ulang Sampah Belum Prioritas

Indriyani Astuti | Humaniora
Masih dikelola Secara Parsial, Daur Ulang Sampah Belum Prioritas

Antara/Basri Marzuki
Pekerja mengumpulkan biji sampah plastik yang telah dicacah, di industri pengolahan sampah palstik Duta Recycling, di Palu, Sulawesi Tengah

 

PERMASLAHAN terkait sampah masih dikelola secara parsial sehingga penyelesaiannya di Indonesia tidak komperehensif. Sampah kemasan dari produk yang bernilai ekonomi seperti botol atau plastik yang bisa didaur ulang, justru tidak termanfaatkan dengan baik dan menimbulkan permasalahan lingkungan.

Padahal potensi dari sampah kemasan apabila dimanfaatkan dapat menghasilkan bisnis ekonomi sirkular.

Hal itu  disampaikan oleh Asosiasi Kemasan dan Daur Ulang Untuk Lingkungan Berkelanjtuan di Indonesia (Praise) yang didirikan oleh enam perusahaan antara lain Danone, Unilever, Indofood, Coca Cola, Nestle dan Tetra Pak dalam acara temu media di Jakarta, pada Kamis (7/11).

Sustainable Business Advisor Unilever Sinta Kaniwati mengatakan, permasalahan sampah yang berasal dari kemasan produk, harus diatasi dengan memilah sampah dari sumbernya pada tingkatan rumah tangga.

Ketika masyarakat sadar bahwa ada sampah yang bernilai ekonomi, diharapkan sebagian sampah tidak berakhir ke tempat pembuangan akhir. Melainkan kembali menjadi bahan baku untuk didaur ulang.

Baca juga : Masyarakat Harus Terbiasa Kurangi dan Pilah Sampah

"Namun di Indonesia pengelolaan sampah untuk bisa didaur ulang masih banyak dilakukan oleh sektor informal," ujarnya.

Sektor informal itu yakni pemulung dan pengepul. Mereka yang dianggap selama ini berperan dalam pemilahan sampah.

Tantangan lain yang dihadapi, selain belum tumbuhnya kesadaran memilah sampah secara masifm, lanjut Sinta, ialah belum terintegrasinya sistem pengelolaan sampah. Setelah sampah dipilah, belum banyak industri daur ulang yang akan mengelolanya.

"Industri mendorong ada upaya solusi terintegrasi, misalnya sejak sampah produk mulai didesain. Pada saat mendesain, kami punya peran besar, ketika ada label daur ulang saat pengumpulan lebih mudah dan ada nilai ekonominya," ucapnya.

Sinta menambahkan, ekonomi sirkular telah diterapkan di sejumlah negara antara lain Jepang. Hadirnya ekonomi sirkular dari sampah kemasan sangat diharapkan oleh industri di Indonesia.

Selain menghemat bahan baku karena proses daur ulang menjadi lebih pendek, industri juga bisa berkontribusi mengurangi jejak karbon.

"Daur ulang yang lebih pendek, membuat karbon yang dikeluarkan dari pemrosesan sampah lebih sedikit dan emisi dari pembakaran sampah yang tidak didaur ulang saat juga berkurang. Emisi dari pembakaran sampah berkontribusi pada efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global," tukasnya.

Kendala lain, menurut Public Affair and Communication Director Coca Cola Triyono Prijosoesilo yakni kondisi geografis di Indonesia yang luas.

Baca juga : Manfaatkan Kulit Rambutan untuk Penyegar Wajah

Luasnya wilayah menjadi tantangan dalam mengumpulkan dan mengelola sampah sebab setiap daerah mempunyai kendala masing-masing. Namun, ada daerah yang sudah dianggap berhasil melakukan pengelolaan sampah dengan baik antara lain Kota Surabaya.

"Artinya harus ada kemauan politik dari kepala daerah," tuturnya.

Dalam mendorong ekonomi sirkular, peran pemerintah, imbuh Triyono, sangat penting terutama menyiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia yang terampil dalam pengelolaan sampah.

Triyono mengungkapkan sejauh ini hanya satu perusahaan daur ulang yang mampu mensuplai bahan baku kemasan plastik jenis PET yang aman untuk wadah makanan atau minuman.

"Kamipun masih impor untuk resin plastik," ungkapnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More