Jumat 08 November 2019, 00:20 WIB

Susi Pudjiastuti Berbagi Gagasan Menjaga Laut

Atikah Ishmah Wahyuni | Humaniora
Susi Pudjiastuti Berbagi Gagasan Menjaga Laut

ANTARA
Susi Pudjiastuti

 

DUA pekan setelah lengser, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, 54, benar-benar mewujudkan omongannya dulu, ingin berlibur setelah tidak jadi menteri. Dari akun media sosialnya, Susi diketahui tengah berlibur ke Jepang, sejak awal pekan ini.

Susi membagikan foto dirinya bersama cucunya dengan latar laut dan sebuah kapal pesiar di akun Instagram-nya. "Yokohama Jepang. Birunya langit, birunya laut," tulis perempuan asal Pangandaran itu, Senin (4/11).

Namun, ini bukan liburan biasa sebab dalam perjalanan itu ia juga tetap berbagi gagasan melindungi laut bersama dengan sejumlah tokoh dunia dalam forum global Leading Women for the Ocean di Yokohama.

Leading Women for the Ocean bertujuan mengumpulkan pemimpin perempuan dari seluruh dunia untuk mendorong aksi yang konkret untuk menyehatkan laut. Leading Women for the Ocean merupakan platform yang didirikan Akie Abe, terdiri dari pimpinan perempuan di seluruh dunia yang memiliki perhatian khusus terhadap kesehatan dan keberlanjutan laut.

"Saya diundang Akie Abe untuk berbicara dalam forum Leading Women for the Ocean. Saya juga diminta untuk bergabung sebagai anggota Leading Women for the Ocean tersebut," kata Susi yang juga founder komunitas Pandu Laut Nusantara.

Dalam kesempatan itu, Susi berbagi gagasan dan pengalamannya menjaga serta melestarikan sumber daya laut dan perikanan Indonesia dan global.

Saat menjadi menteri kelautan dan perikanan periode 2014-2019, Susi melakukan terobosan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan kunci berbasis tiga pilar yang menjadi trademark-nya, yakni kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Salah satu kebijakan Susi yang paling terkenal, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia internasional ialah memberantas penangkapan ikan ilegal diiringi penenggelaman kapal pelaku kejahatan, hingga akhirnya ia dikenal dengan jargon 'Tenggelamkan.' Tercatat 556 kapal ikan ilegal, baik domestik maupun asing ditenggelamkan.

 

Tolak plastik

Pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) itu juga dikenal aktif menyuarakan penggunaan plastik sekali pakai. Di acara Gala Dinner Sailor of The Seas yang juga digelar di Yokohama, seruan penolakan plastik itu digaungkan bersama sejumlah tokoh dunia.

"Helo, kami, Susan Rockefeller, Madam Abe, dan saya Susi Pudjiastuti. Kami menolak penggunaan plastik sekali pakai," cicit Susi dalam unggahan video di akun Twitter-nya, Rabu (6/11) malam.

Ketiganya tampak memamerkan kalung dengan liontin berbentuk persegi warna emas. "Mari bekerja sama," ujar Rockefeller.

"Jangan pakai plastik sekali pakai," tambah Akie Abe, istri Perdana Menteri Jepang.

Sailor of The Seas adalah organisasi nonprofit yang didirikan David Rockefeller Jr dan istrinya, Susan Rockefeller, keluarga miliarder terkaya di Amerika Serikat.

Saat menjabat sebagai menteri, aksi Susi menolak botol sekali pakai viral ketika dirinya menghadiri acara Ignite the Nation yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Ini botol plastik aku kurang suka. Hindari pemakaian plastik sekali pakai," kata Susi sambil sedikit menyela materi pembicaraan yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Peran dan komitmen Susi menjaga sumber daya laut dan perikanan mendapat pengakuan luas dari domestik dan dunia internasional. Beberapa di antaranya, Globe Asia Magazine pada 2019 menobatkannya menjadi 99 Most Inspiring Women in Indonesia.

Di tingkat global, Foreign Policy Magazine tahun ini memilihnya sebagai Top 10 Global Thinkers Under the Category of Defense and Security. Susi juga mendapatkan penghargaan Peter Benchley Ocean Award (2017), Leader for Living Planet Award (WWF, 2016), dan The BBC 100 Women (2017). (Medcom.id/Ant/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More