Jumat 08 November 2019, 09:10 WIB

Dukung Revolusi Mental Melalui Tulisan

Nisrina Kirana | Weekend
Dukung Revolusi Mental Melalui Tulisan

MI/Ramdani
Herjunot Ali

BANYAK cara yang dapat dilakukan guna mendukung pemerintahan, seperti yang dilakukan aktor Herjunot Ali. Aktor berusia 34 tahun ini mengungkapkan buah pikirannya melalui tulisan yang mendukung revolusi mental di Indonesia.

Pria yang akrab disapa Junot ini merasa masyarakat Indonesia saat ini sering narrow-minded dan judgemental. Kebanyakan hanya melihat berdasarkan dua cara pandang, yakni kearifan lokal atau sisi agama.

Sejak 2017, melalui akun Instagramnya Junot konsisten menggunakan tagar #BRBGKLTR (Berbagi Kultur). Tagar itu sebagai refleksi diri Junot mengungkapkan kisah perjalanannya dalam suatu persepsi, agar bisa memberikan perspektif dan cara pandang baru bagi masyarakat.

“Gerakan Berbagi Kultur ini sebagai sumbangan moral obligation aku sebagai generasi muda supaya bisa ngasih suatu implementasi yang jelas terkait dengan revolusi mental yang menurut ku berguna bagi generasi saat ini,” kata Junot di sela kunjungannya ke kantor Media Indonesia, Selasa (5/11).

Salah satu bahasan yang diangkat #BRBGKLTR terkait dengan inferior kompleks yang seolah-olah sudah terpatri dalam mental dan pikiran sebagian masyarakat Indonesia. Pemikiran ini membuat orang Indonesia menjadi lebih ke arah bangga yang berlebihan (over proud).

“Kalau bahasa Indonesia diucap dalam film Hollywood, hal tersebut menjadi sebuah pencapaian, atau jika orang Indonesia berkiprah di luar negeri dan itu menjadi suatu yang prestise, padahal biasa saja karena memang sebetulnya kita ini mampu, so just make it casual,” ucap Junot.

Tidak hanya itu, melalui #BRBGKLTR Junot mengajak masyarakat Indonesia menggunakan media sosial secara positif, dibandingkan menghakimi atau nyiyir. Junot mengajak follower-nya berbagi kisah menggunakan tagar #BRBGKLTR, yang nantinya dapat dijadikan pembelajaran dan renungan diri bagi setiap insan. Saat ini tagar itu sudah berusia dua tahun dan sudah banyak cerita yang dijadikan pembelajaran dan renungan.

Junot berencanakan menjadikan kisah-kisah itu sebagai buku. Melalui buku itu, Junot ingin mengajak masyarakat mencari sebuah kebenaran di zaman sekarang yang segalanya terkesan absurd. Buku yang rencananya diterbitkan pada 2020 itu mencakup lima subjek tentang ketidakpastian, validation (pengakuan dalam hidup), hubungan antar manusia, kompetisi, dan eksistensi.

“Buku ini berupa crowd sourcing, buku dari kita untuk kita. Meskipun apa yang kita resahkan saat ini sebagai millenial, tidak akan langsung mengubah mindset seseorang setelah membaca buku ini. Tapi aku berharap, buku ini bisa dinikmati 30 sampai 40 tahun lagi. Ini adalah legacy kita untuk membentuk Indonesia yang kita harapkan, jadi ini adalah sebuah manifesto,” tutup Herjunot.  (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More