Kamis 07 November 2019, 19:15 WIB

Panembahan Reso, Mahakarya WS Rendra untuk Pemerintahan Saat ini

Fetry Wuryasti | Weekend
Panembahan Reso, Mahakarya WS Rendra untuk Pemerintahan Saat ini

MI/Fetry
Tim pementasan Panembahan Reso,(Ka-ki) sutradara Hanindawan Sutikno, Ken Zuraida (istri WS Rendra), Ine Febrianti, Auri Jaya (Produser).

GenPi.co, BWCF Society dan Ken Zuraida Project, bekerjasama dengan Ciputra Artpreneur sebagai venue partner, menghidupkan kembali mahakarya WS Rendra, dramawan Indonesia yang melegenda dengan ribuan sajak dan pertunjukan lakon budaya dalam tajuk: Panembahan Reso.
 

Panembahan Reso pertama kali dipentaskan Bengkel Teater pada 26-27 Agustus 1986. Pertunjukan itu sebagai kritik budaya WS Rendra terhadap praktik-praktik kekuasaan rezim Orde Baru yang represif terhadap masyarakat.

Menonton Panembahan Reso bagaikan menyaksikan drama kekuasaan dengan permainan atau intrik yang menyertainya. Kisah ini merupakan karya Rendra yang merefleksikan bagaimana di suatu pemerintahan, perebutan kekuasaan diraih dengan cara-cara licik dan penuh darah. Demi kekuasaan, anak-istri, saudara, dan sahabat pun dikorbankan.

Panembahan Reso sejatinya merupakan epos yang merefleksikan betapa hasrat membabi buta terhadap kekuasaan selalu menimbulkan aspek-aspek delusional seorang pemimpin dan pengikutnya. Sejumlah pengamat budaya mengatakan, Panembahan Reso mampu membedah secara dalam watak dan psikologi seorang pemimpin yang kehilangan kontrol terhadap akal sehat dan terseret ke ilusi-ilusi pribadi.

Budayawan Garin Nugroho mengungkapkan semangat Rendra penting di era sosial media dan pemilu yang baru saja usai. Pasalnya Rendra mencampur pamflet dan susastra. Pada karya media sosial sekarang mayoritas hanya berupa pamflet, kata-kata tanpa kemanusiaan. Rendra memiliki kemampuan menggabungkan keduanya, mengkritisi tapi dengan keindahan susastra, yaitu keindahan kemanusiaan terkecil dan kemaestroan di dalam bahasa dan sastra.

"Selayaknya pemuda sekarang menonton Panembahan Reso, untuk belajar dari WS Rendra di abad media sosial, yaitu untuk memahami bahwa kemajuan zaman tanpa kemanusiaan maka peradaban akan hancur," jelas Garin di Jakarta, Selasa (5/11).

Akan banyak sentilan-sentilan karya WS Rendra yang dinilai masih sangat relevan dengan masa kini.  "Salah satu dialognya, kenapa raja atau pemimpin diberi mahkota? Karena kebusukan akan kekuasaan tertutupi oleh mahkota. Oleh karena itu masyarakat harus membaca bahwa keindahan mahkota kekuasaan politik 2019 ini apakah menutupi kebusukan kekuasaan atau tidak. Ini pertanyaan yang ada di dalam dialog di Panembahan Reso. Selain itu ada kalimat kalau mencari pemimpin itu jangan berjudi dan berdalil dengan kata-kata. Maka Rendra mengatakan lewat Panembahan Reso bahwa dalam memilih pemimpin harus yang punya kenegaraan dan berikhlas untuk rakyat, jangan yang mulutnya bergincu atau relevan di hari ini yang bertagar viral," ujar Garin.

Pindah Lokasi

Setelah 34 tahun berlalu, Panembahan Reso akan dipentaskan kembali pada 25-26 Januari 2020, di Teater Ciputra Artpreneur, Jakarta. Mereka yang terlibat dalam pementasan ini adalah gabungan seniman teater, tari, musik yang berasal dari Solo, Yogyakarta, dan Jakarta.

Produser pementasan, Auri Wijaya mengatakan seharusnya diselenggarakan pada 19-20 Desember di Taman Ismail Marzuki. Namun komplek itu tengah direnovasi hingga harus dipindahkan dan diundur hingga Januari 2020.

"Alasan dipentaskan kembali karena ini satu-satunya karya dia yang layak dipentaskan di era perubahan dan masih relevan. Karena karya ini hasil kesaksian seorang Rendra, bukan reportase. Dipersingkat waktu pertunjukkan dari 7 jam menjadi tiga jam, tanpa mengurangi makna," jelas Auri.

Panembahan Reso disutradarai Hanindawan dan asisten sutradara Sosiawan Leak. Pertunjukan ini diperankan Sha Ine Febriyanti, Whani Darmawan, Ucie Sucita, Sruti Respati, Ruth Marini, Maryam Supraba, Gigok Anugoro, Jamaludin Latif, dan Dimas Danang Suryonegoro. Serta puluhan pemain teater lainnya.  Selain itu, pementasan ini didukung penata musik, penata tari, penata cahaya, penata set & artistik dan penata suara.

Kerja kolaborasi seniman antar kota yang berpusat di Solo dalam proses kreatifnya ini, telah dimulai sejak Maret lalu. Kekuatan musik dalam format semi orchestra yang didukung oleh 15 pemusik, akan menghadirkan dinamika komposisi yang bertolak dari musik-musik nusantara, begitu juga dengan koreografi tari kontemporer, yang juga akan dibawakan oleh 20 penari. (M-3)

Baca juga : Bali Fashion Trend Angkat Tema Sustainable Fashion
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More