Kamis 07 November 2019, 16:31 WIB

Panglima TNI: Spektrum Ancaman Kompleks Butuh Organisasi Adaptif

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Panglima TNI: Spektrum Ancaman Kompleks Butuh Organisasi Adaptif

Antara
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto

 

ORGANISASI yang tidak responsif dengan tantangan dan ancaman baru akan tenggelam dan digilas perubahan. Spektrum ancaman yang sangat kompleks pun tetap memerlukan organisasi yang adaptif.

Pernyataan itu disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dihadapan 566 perwira siswa Sesko AD, Sesko AL, dan Sesko AU 2019, di Gedung Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/11).

"Untuk menjadi organisasi yang adaptif, TNI membutuhkan perwira-perwira yang adaptif pula. Perwira yang tidak alergi dengan perubahan, mampu melihat tren, bersinergi, dan tidak berpikiran sempit,” ujarnya.

Diperlukan pula adanya perubahan mindset para perwira bahwa situasi saat ini sangat dinamis, cepat berubah, dan membutuhkan respons tinggi. Sudah bukan zamannya para komandan berleha-leha di kursi empuknya.

Para komandan, sambung dia, wajib turun ke lapangan untuk melihat fenomena dan tren perubahan ancaman, kondisi masyarakat, anak buah, dan senantiasa berpikir antisipatif.

“Terlebih dengan dunia gadget dewasa ini. Jangan kemudian komandan hanya sibuk dengan gadgetnya, abai terhadap perkembangan anak buah. Pembinaan anggota tidak dapat dilepaskan dari tugas dan tanggung jawab setiap dansat (komandan satuan)."

Mantan Kepala Staf TNI AU, itu menegaskan pendidikan seperti SeskoTNI maupun sesko angkatan harus mencetak SDM unggulan berupa perwira-perwira berkualitas.

Hadi membeberkan, konsep operasi masa kini yang sedang dikembangkan ialah operasi multidimensi berbasis network centric warfare. Operasi TNI pun tidak lagi mengandalkan metode peperangan konvensional semata, namun perlu dibarengi dengan pelibatan Siber TNI, Puspen TNI, intelijen, teritorial, satgas dukungan, dan upaya diplomasi.

Menurut dia, network centric warfare merupakan metoda peperangan berbasis pada konektivitas jaringan komunikasi dan data secara real time dari markas ke unit-unit tempur. Untuk mempercepat proses pengambilan keputusan komando juga tetap didasarkan pada data-data dan informasi terkini.

“Oleh karenanya dibutuhkan dukungan teknologi tinggi untuk memiliki kemampuan network centric warfare, salah satunya adalah melalui program interoperability kodal yang sudah diajukan ke Kementerian Pertahanan melalui mekanisme pengadaan alutsista luar negeri,” tukasnya.

Hadi menambahkan, dalam konteks kekinian, Pusat Penerangan TNI tidak lagi sebagai institusi penerangan masyarakat, namun sudah harus berubah menjadi media warrior yang melaksanakan media warfare untuk memenangkan opini publik. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More