Kamis 07 November 2019, 16:08 WIB

Ekonom Percaya dengan Data dari Badan Pusat Statistik

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Ekonom Percaya dengan Data dari Badan Pusat Statistik

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

 

EKONOM senior Anton Gunawan menyarankan agar para pengamat perekonomian menjadikan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai data yang kredibel.

"Tentunya, saya melihat BPS itu sebagai sumber dari data yang harus dipercaya. Walaupun kita sadar ada perbedaan pendapat yang mungkin akan katakanlah nothing is perfect. Tapi setidaknya itu bisa mencerminkan ekonomi keseluruhan," kata Anton di workshop bertema Meningkatkan Wawasan Statistik kepada Media di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (7/11).

Hal itu dikarenakan ekonom memiliki keterbatasan untuk mencakup data mendetail seperti yang dimiliki oleh BPS. Data yang dirilis BPS, lanjut Anton, kerap dijadikan acuan untuk memprediksi seperti apa gerak perekonomian nasional ke depan.

"Harusnya digunakan sebagai penuntun untuk melihat oh ternyata ekonominya seperti ini. BPS harusnya lebih dipercaya, walaupun ada titik-titik di mana kita harus bicara untuk mengimprove data dari BPS," terangnya.

Kelengkapan sumber data yang dimiliki BPS, diakui Anton tidak dimiliki oleh ekonom. Sebut saja untuk memprediksi pertumbuhan nasional, ekonom, imbuh dia hanya bisa melihat pola berdasarkan informasi yang dimiliki dan data yang telah dipublikasi sebelummya.

"Sedangkan BPS itu melihatnya dari banyak detail yang kami ekonom tidak bisa lihat. Kita mencobanya dengan melihat pola, dimensi yang sebelumnya ataupun mungkin beberapa informasi yang bisa kita masukkan untuk memprediksi, oh ternyata polanya akan seperti ini," jelas Anton.

"BPS mempunyai data yang sangat mendetail. Kita hanya memiliki data yang dapat kita lihat dan kita akses atau kita kumpulkan," kata Anton.

"Saya tidak sama sekali akan berani untuk mengatakan saya tidak percaya dengan metode yang dilakukan oleh BPS, apalagi sudah dilakukan monitoring oleh lembaga internasional," sambungnya.

Seyogyanya ekonom tidak mengatakan apa yang menjadi prediksinya ialah yang paling benar. Selain keterbatasan sumber data, pengetahuan merinci di tiap sektor juga dinilai menjadi salah satu yang menjadi kelemahan ekonom secara umum.

Anton menyinggung ihwal laporan Capital Economics yang meragukan rilisan data dari BPS. Ia meragukan lembaga survei itu memiliki data mendetail dan menggambarkan fakta yang ada.

"Saya tidak yakin Capital Economics, melihat sampai ke detail, bahkan saya saja gak tahu soal perdagangan, saya gak ngerti datanya seperti apa. Tapi saya mencoba membuat model dalam metodologinya. Walaupun hasilnya tidak akan sama, mungkin forecast (prediksi) nya cukup dekat," tutur Anton.

Diketahui sebelumnya, Capital Economics mencurigai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu bertahan dikisaran 5% di saat pelemahan terjadi di banyak negara. Menurut rilisnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya berada dikisaran 4,5%, jauh di bawah laporan BPS.

"Peneliti aktivitas ekonomi Indonesia kami menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh pada realisasi yang jauh lebih lemah," demikian penggalan rilis Capital Economics. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More