Kamis 07 November 2019, 07:50 WIB

Perubahan Kurikulum untuk Melatih Kompetensi

Syarief Oebaidillah | WAWANCARA
Perubahan Kurikulum untuk Melatih Kompetensi

MI/Susanto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

SETELAH sekian lama tidak berbicara terbuka dengan jurnalis, Mendikbud Nadiem Makarim akhirnya angkat bicara. Saat pertemuan dengan Forum Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan (Fortadikbud) di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (6/11), alumnus Sekolah Bisnis Universitas Harvard ini bicara panjang-lebar membahas berbagai isu di bidang pendidikan dan kebudayaan, termasuk isu terkait rencana perubahan kurikulum, zonasi, dan ujian nasional (UN), kebudayaan, pendidikan karakter, dan sejumlah topik lainnya.

Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum.

Untuk mengetahui lebih jauh paparan Nadiem, berikut wawancara wartawan Media Indonesia, Syarief Oebaidillah, bersama Fortadikbud dengan menteri termuda Kabinet Indonesia Maju yang akrab disapa Mas Menteri. Berikut petikannya.

 

Presiden Jokowi meminta Anda merombak kurikulum dengan menerapkan aplikasi teknologi. Tanggapan Mas Menteri?

Ada satu topik mengenai teknologi dan kurikulum. Sesuai arahan Presiden, maksudnya perubahan kurikulum bukan berarti pada konten saja yang berubah, tetapi esensi dari arahan Presiden ialah penyederhanaan. 

Cara penyampaian harus berbeda, harus melatih arahnya, melatih kompetensi, tidak menghafal informasi, itu maksud Presiden. Hal ini menjadi pekerjaan rumah saya untuk bisa mengubahnya. Ini bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat karena butuh pemikiran sangat matang dan butuh insight dari guru-guru dan pihak lain.

Jadi, basis melakukan berbagai penyempurnaan dan penyederhanaan dan perubahan kurikulum, itu mengacu kepada guru.

 

Jadi guru acuan utama dalam membenahi kurikulum?

Ya. Satu, arahnya jangan menghafal informasi. Kedua, pelibatan stakeholder, yaitu guru dalam penyusunan kurikulum. Ketiga, sistem atau metode. 

 

Bagaimana dengan penerapan aplikasi teknologi?

Ada berbagai macam objektif teknologi sebagai pendamping untuk menciptakan banyak hal. Dengan teknologi, kita bisa mencapai pemerataan lebih baik sehingga konten-konten, misalnya pelatihan guru dan pelatihan pembelajaran, dapat lebih terjangkau di daerah-daerah terpencil.

 

Kabarnya Mas Menteri telah bertemu organisasi-organisasi guru. Apa saja yang dibahas?

Ya, saya senang sekali bertemu dengan pemimpin organisasi guru. Walaupun banyak keragaman organisasi guru, sebenarnya feedback dari mereka banyak yang sama.

Mereka ingin kebebasan dan kemerdekaan untuk hal yang terbaik bagi murid. Itu membuat saya sangat terharu mendengar motivasi mereka. Menurut saya, yang terpenting dari guru ialah purpose atau tujuan dia atau hatinya.

Hatinya guru mau ke mana? Jika hatinya itu untuk murid, yang terbaik untuk murid, kompetensi yang dia pelajari dari mana pun untuk mencapai yang terbaik bagi muridnya.

Ini cara kita melihat guru dari sisi terpenting itu ialah kenapa dia menjadi guru. Dari situ kita berikan berbagai macam resource dan kebebasan untuk melakukan apa yang terbaik bagi muridnya tentunya dengan berbagai macam narasumber, resource, dan juga dengan pendanaan yang layak untuk sekolah, fasilitas, dan lain-lain.

 

Bagaimana kelanjutan sistem zonasi dan ujian nasional (UN)?

Kami sedang mengkaji kembali dan melihat feedback orangtua, guru, masih kami kumpulkan. Jadi, mohon tunggu dulu karena hal seperti ini implikasinya banyak. Kami juga melihat kalangan daerah yang harus kami kaji untuk melakukan finalisasi ke depan. Senada dengan zonasi, UN juga kami kaji. Jadi, saya belum putuskan apa-apa.

 

Apakah UN tahun ini masih ada?

Ya, tahun 2020 masih ada sembari dikaji.

 

Bagaimana dengan program penguatan pendidikan karakter, apa tetap dilanjutkan?

Iya, dilanjutkan dan dibesarkan, dijadikan suatu hal yang lebih tangible untuk generasi milenial kita. Jangan lupa, sekarang kebanyakan orangtua dan murid merupakan generasi milenial dan guru-guru pun banyak yang muda. Jadi, cara kita menyampaikan pendidikan karakter tidak bisa dengan cara hanya membaca buku ini, kurikulumnya ini, tidak cukup.

 

Pendidikan tinggi kembali dikelola Kemendikbud, apa program Anda?

Nah, pendidikan tinggi isunya banyak overlap dengan pendidikan dasar dan menengah. Jadi, saya tadi bicara itu sebenarnya isu untuk keduanya. Namun, perguruan tinggi, menurut saya, ialah kesempatan untuk mengakselerasi prinsip-prinsip inovasi tadi.

 

Saat menutup perbincangan, Nadiem meminta wartawan memaklumi jika ia tampil informal di kantornya. Misalnya, sesekali bercelana jins. Dia pun berniat mengubah paradigma Kemendikbud yang sebelumnya sebagai operator dan regulator menjadi pelayanan publik, melayani unit-unit pendidikan, melayani guru-guru, melayani perguruan tinggi. (X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More