Rabu 06 November 2019, 16:56 WIB

Memberdayakan Peran Perempuan di Pedesaan

Mediaindonesia.com | Ekonomi
 Memberdayakan Peran Perempuan di Pedesaan

Istimewa
Salah satu pertemuan mitra perempuan pedesaan dengan agen lapangan.

 

TIDAK dimungkiri bahwa mayoritas perempuan yang tinggal di pedesaan di Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta mengalami keterbatasan dalam mengakses informasi. Padahal tidak jarang mereka menjadi motor dalam sebuah keluarga lantaran sang suami sibuk bekerja.

Berangkat dari kenyataan itu,  PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha selaku perusahaan teknologi finansial alternatif investasi berdampak sosial
mengadakan pertemuan majelis atau kelompok mitra beranggotakan 10-25 setiap pekan. Pertemuan itu untuk memberi pendampingan dan pendidikan mengenai tata kelola usaha dan keuangan.

Aria Widyanto selaku Chief Risk and Sustainability Officer Amartha mengungkapkan hal tersebut.  Pihaknya, selalu menerjunkan agen lapangan yang bertugas untuk menjembatani jurang tersebut.
 
"Dengan metode ini, Amartha dapat menjembatani kesenjangan yang muncul dari rendahnya tingkat pendidikan dan akses informasi perempuan di pedesaan," papar Ario di Jakarta, Rabu (6/10).

Baca juga: Fintech Bakal Mobilisasi Dana Masyarakat

Dengan pendampingan itu, kata dia, pengetahuan para perempuan desa tentang literasi keuangan semakin meningkat. Kesadaran dan tanggung jawab mereka dalam mengelola keuangan pun lebih baik.

Untuk semakin meningkatkan pelayanan mereka, Amarta juga mengadakan survei untuk para mitra mereka. Dalam hal ini mereka menggandeng Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada.

Dari hasil survei itu diketahui bahwa para perempuan di pedesaan diketahui lebih memilih fintek peer-to-peer (p2p) lending dibandingkan jasa keuangan formal lainnya.  Sejumlah pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan tersebut adalah jarak yang jauh dengan bank, jumlah pinjaman yang dapat diajukan terlalu besar, syarat administrasi yang lebih kompleks, hingga sudah terbiasa dengan transaksi tunai.

"Hasil dari survei itu memang menunjukan ada lonjakan pendapatakan, terutama para perempuan pengusaha mikro di pedesaan," ujar  Sekretaris Eksekutif CfDS UGM, Dewa Ayu Diah Angendari.

Riset kolaboratif ini dilakukan pada delapan puluh delapan responden di delapan kota di Jawa (Bandung, Bogor, Subang, Sukabumi, Banyumas, Klaten, Kediri, dan Mojokerto).  Riset dilakukan dengan menggabungkan metode survei, wawancara dan focus group discussion. (Ant/A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More