Rabu 06 November 2019, 14:29 WIB

Menjadi Kilang Kian Ramah Lingkungan

Lilik Darmawan | Nusantara
Menjadi Kilang Kian Ramah Lingkungan

MI/Lilik Darmawan
Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, Jateng membangun pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi sebagian kebutuhan listrik perkantoran.

 

KILANG minyak Cilacap yang dikelola oleh Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) dibangun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Saban hari, sebanyak 348 ribu barrel minyak mentah diolah untuk berbagai berbagai produk baik BBM dan non-BBM. Dengan mengolah BBM, Kilang Cilacap terus berbenah, salah satunya adalah menjaga komitmen pro lingkungan. Komitmen semakin nyata, ketika perusahaan minyak pelat merah itu merampungkan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC). Sebab, produk yang dihasilkan Pertamina RU IV Cilacap lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Setelah empat tahun proses pembangunan, akhirnya pada 31 Juli lalu, PLBC diserahterimakan ke Pertamina. Kini, RU IV Cilacap memproduksi lebih banyak bahan bakar berkualitas dengan standar Euro 4. Dengan rampungnya PLBC, maka kemampuan produksi Pertamax dari Kilang Cilacap mengalami peningkatan signifikan dari 1 juta barrel menjadi 1,6 juta barrel per bulan.

"Jelas ini akan mengurangi impor BBM, terutama Pertamax. PLBC juga berdampak positif pada upaya pemerintah untuk memperluat cadangan devisa negara. Dan bahkan berkontribusi terhadap GDP Indonesia sekitar 0,12%," jelas Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang dalam keterangan tertulisnya beberapa waktu lalu.

PLBC mampu menghasilkan produk perdana dari unit light naphtha hydro treating (LNHT) dan Isomerization (LN-Isom) sebagai bahan baku untuk membuat BBM berkualitas RON 92. Itu berarti, Pertamina telah membuktikan kalau produksi yang dihasilkan merupakan BBM ramah lingkungan setara Euro 4. Sebelumnya, produksi yang dihasilkan adalah spesifikasi gasoline dengan RON 88, kemudian dinaikkan spesifikasinya menjadi RON 92.

Maka proyek PLBC yang menelan investasi US$392 juta yang menghasilkan produk ramah lingkungan itu, juga berdampak positif bagi lingkungan. Itulah mengapa proyeknya dinamakan PLBC, karena langit di atas kilang akan semakin “membiru�. Produk yang dihasilkan lebih rendah polusinya dengan kandungan oktannya tinggi, yakni 92.

Diharapkan dengan adanya PLBC, maka kilang minyak Cilacap tak hanya memasok kebutuhan 33% BBM secara nasional saja, tetapi juga harus terus meningkatkan kinerja dari berbagai aspek, mulai dari teknologi hingga kapasitas sumberdaya manusia. Setidaknya ada dua manfaat besar, ketika PLBC beroperasi. Yakni menghasilkan BBM yang makin ramah lingkuingan serta mampu menurunkan impor BBM. Dengan begitu, maka dapat menekan pengurangan devisa yang biasanya dipakai untuk biaya impor BBM.

Energi Baru Terbarukan

Komitmen pro lingkungan tak hanya memproduksi BBM yang ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan energi bersih di kawasan kilang.  Environmental Section Head Pertamina RU IV Cilacap Arjon Siagian menjelaskan, tugas utama Pertamina RU IV adalah mengolah minyak mentah menjadi berbagai jenis produk, terutama untuk mencukupi kebutuhan nasional.

"Namun demikian, Pertamina RU IV tidak hanya mandek di situ saja. Kini, Pertamina juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang telah terpasang di lingkungan kilang maupun perumahan. Sehingga, dari sisi korporat akan lebih efisien terutama dalam anggaran, di sisi lain tentu lingkungan bakal semakin baik, sebab tidak ada pencemaran yang dihasilkan," ungkap Arjon.

Menurutnya, pada awalnya EBT yang berupa PLTS terpasang di area perumahan dinas Pertamina RU IV Cilacap dengan kapasitas terpasang 106 ribu KWH per bulan. Dengan kapasitas itu, mampu menunjang 9-11% dari total energi fasilitas penunjang.

"Kalau di sisi lingkungan, berimbas pada reduksi gas rumah kaca (GRK) 883,2 ton CO2 setiap tahunnya. Tentu saja, ada penghematan anggaran untuk energi juga, senilai Rp142 juta setiap bulannya," kata dia.

Kemudian, lanjut Arjon, teknologi tersebut diaplikasikan di Green Building Head Office (HO) Pertamina RU IV Cilacap.

"Kapasitas PLTS yang terpasang di atas green building HO, rata-rata 2.200 KWH per bulan atau mencapai 16% dari total energi penunjang di gedung perkantoran itu. Dengan kapasitas tersebut, maka akan ada pengurangan GRK sebanyak 1,54 ton karbon setiap bulannya dan menghemat sekitar Rp3 juta," katanya.

Menurutnya, secara total, PLTS yang terpasang di HO maupun rumah dinas mencapai 1,8 MWH. Dari sinilah kemudian, Pertamina RU IV mulai melakukan penerapan teknologi tersebut tidak hanya di kawasan kilang saja, melainkan juga untuk masyarakat luas.

"Saat ini, Pertamina RU IV telah mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan pembangkit listrik surya dan ayu (angin) di Dusun Bondan, Kecamatan Ujung Alang, Kampung Laut," tambah Arjon.

Dengan adanya pembangkit listrik tenaga hybrid antara surya dan angin, maka masyarakat setempat yang sebelumnya belum teraliri listrik, kini mendapatkan manfaatnya. Dengan kapasitas 12 Kilo-Watt Peak (KWp), maka telah mampu melayani 37 keluarga dari total 78 keluarga yang ada. Tak hanya untuk kebutuhan keluarga, melainkan juga untuk mengembangkan UMKM di dusun setempat.

Peneliti Senior Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ropiudin menyatakan pengembangkan PLTS yang dikembangkan oleh Pertamina RU IV Cilacap tentu sangat positif.

"Sebab, dengan adanya PLTS, maka ada sebagian kebutuhan listrik yang dapat dipenuhi sendiri. Sebagai BUMN, Pertamina khususnya RU IV Cilacap perlu ikut aktif dalam mengembangkan dan menerapkan energi terbarukan. Sebab, energi terbarukan merupakan energi masa depan. Pertamina menyadari jika energi fosil bakal semakin berkurang,
sehingga perlu move on juga. Dari perusahaan yang hanya mengurus energi fosil, ke perusahaan yang nantinya mumpuni dalam menerapkan energi
terbarukan," jelas Ropiudin.

baca juga: BPBD Babel Bentuk Satgas Banjir

Hal itu juga merupakan bagian dari upaya dan komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca pada Protokol Kyoto dan Protokol Copenhagen.

"Serta menjadi bagian dan mengonstribusikan pada Sustainable Development Goals (SDGs): Affordable and Clean Energy atau energi yang
terjangkau dan bersih seperti yang nerupakan goal ketujuh dari SDGs yang telah dicanangkan oleh PBB," tandasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More