Rabu 06 November 2019, 08:40 WIB

Produktivitas Pertanian Harus Digenjot

Hilda Julaika | Ekonomi
Produktivitas Pertanian Harus Digenjot

Dok. Youtube
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan Franky O Widjadja

 

KEBUTUHAN pangan nasional akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi secara signifikan. Pada 2045 penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 350 juta jiwa.

"Artinya kita harus meningkatkan produksi pangan secara signifikan untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan Franky O Widjadja dalam Rakornas Kadin di Jakarta, kemarin.

Franky mengatakan dibutuhkan komitmen dari para pelaku usaha untuk menjunjung keta-hanan pangan nasional.

Menurut dia, Indonesia bisa berdikari dalam hal pangan hanya akan terwujud bila produktivitas petani ditingkatkan.

Franky menjelaskan lebih lanjut, untuk meningkatkan produksi dari sektor pertanian dibutuhkan bibit tanaman pangan yang unggul atau berproduksi tinggi. Bibit tanaman pun harus ditopang dengan ketersediaan serta penggunaan pupuk yang berimbang, melibatkan sumber daya manusia yang terlatih dan berkualitas, dan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Selain itu, perlu kehadiran lembaga yang menjamin penyerapan atau pembelian hasil panen (off taker), serta didukung dengan sistem pendanaan yang terbuka dan inklusif berbasis teknologi dan informasi.

Namun, hingga sejauh ini, sistem perbibitan dan perbenihan komoditas pangan di Indonesia belum terkoordinasi dengan baik. Bibit dan benih yang tersebar belum terstandardisasi dengan baik dan sertifikasi masih terbatas. Implikasinya, harga bibit terhitung cukup mahal dan Indonesia masih melakukan impor bibit untuk memenuhi pasokan.

"Maka, Kadin mengajukan agar pemerintah mengeluarkan payung kebijakan yang mengatur perbibitan dan perbenihan komoditas pangan secara nasional agar dapat terkoordinasi dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan, hingga cara menanamnya," jelasnya.

 

Riset pertanian

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menekankan perlunya kerja sama berbagai pihak untuk mendorong riset dan inovasi peningkatan produktivitas hasil pertanian. Apalagi tantangan di sektor pertanian yang ada saat ini cukup beragam.

 "Terutama dikaitkan dengan keterbatasan lahan, dikaitkan dengan perubahan iklim. Yang ketiga harus memperhatikan kawasannya sendiri karena barangkali Indonesia ini dengan diversifikasi iklimnya mengakibatkan benih di satu tempat berbeda dengan tempat lain," ujar Bambang saat Rakornas Kadin.

Kemenristek pun, lanjutnya, sangat mendorong integrasi antara pemerintah, penelitian, dan dunia usaha di sektor pertanian ini, baik di hulunya maupun di industri hasil pertanian (hilir).

"Kita ingin mempertemukan dunia usaha tersebut dengan komunitas peneliti sehingga apa yang dikembangkan peneliti baik di perguruan tinggi maupun di lembaga penelitian bisa langsung nyambung dengan kebutuhan market," harapnya.

Selain pemanfaatan teknologi, pemerintah juga menginginkan adanya kerja sama antara petani dan dunia usaha. Bambang juga menilai perlu ada model kemitraan dari petani dengan skala bisnis kecil kepada industri yang berskala menengah besar.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, di masa depan, para petani harus bisa menjalankan usaha dengan lebih efektif dan efisien. Karena itu, imbuh Syahrul, dibutuhkan peran penyuluh pertanian yang memiliki ilmu dan kemampuan andal untuk membimbing para petani. (Pra/X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More