Selasa 05 November 2019, 20:56 WIB

Larang Koruptor Maju Pilkada, KPU: Kami Dengar Suara Publik

Larang Koruptor Maju Pilkada, KPU: Kami Dengar Suara Publik

Dok.MI
Komisioner KPU Wahyu Setiawan

 

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) RI menegaskan, pelarangan mantan terpidana korupsi untuk mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 sejalan komitmen bahwa korupsi merupakan musuh bersama.

"Kami juga mendengar suara masyarakat. Semua lembaga negara kan sepakat bahwa korupsi itu musuh kita bersama," kata Komisioner KPU Wahyu Setiawan, di Jakarta, hari ini.

Menurut dia, KPU tetap akan mencantumkan dalam norma Peraturan KPU (PKPU) bahwa calon kepala daerah maupun calon wakil kepala daerah itu harus memenuhi syarat, salah satunya bukan mantan narapidana korupsi.

Ia menjelaskan, KPU baru melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPR dan pemerintah terkait PKPU Nomor 3/2017 yang di dalamnya terdapat aturan mantan terpidana kasus korupsi dilarang mencalonkan diri dalam pilkada.

"Rapat konsultasi itu kan konteksnya bukan setuju tidak setuju. Rapat konsultasi itu memang diperintahkan diamanatkan oleh UU bahwa rancangan PKPU itu harus dikonsultasikan dengan DPR, dalam hal ini Komisi II dan pemerintah," katanya.

Baca juga: KPU Perjuangkan Batasi Eks Koruptor

Namun, kata Wahyu, KPU juga punya pandangan-pandangan yang berdasarkan aturan hukum, salah satunya putusan rapat pleno KPU.

Soal larangan eks terpidana koruptor mencalonkan diri pada pilkada, kata dia, KPU mencoba mengambil peran yang memungkinkan masyarakat pemilih itu mendapatkan pilihan calon yang relatif lebih baik.

Penandaan calon eks koruptor pada surat suara juga mungkin saja dilakukan, tetapi KPU lebih melihat efektivitasnya jika langsung diatur dalam regulasi.

Wahyu membandingkannya dengan orang yang terbukti berjudi secara hukum saja dilarang untuk mencalonkan diri, sementara orang yang jelas korupsi justru diperbolehkan.

"Mohon maaf, sekali lagi saya tidak mengecilkan ya, orang yang berjudi, berzina itu saja tidak bisa, bagaimana dengan mantan napi korupsi yang daya rusaknya itu secara sosial lebih dahsyat?," katanya.

Senada dengan itu, Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi menjelaskan, FGD terkait PKPU itu masih akan dilanjutkan hingga pekan depan karena pertanyaannya masih sangat banyak.

"Masih akan dilanjutkan di hari Senin (11/11). Belum ada kesimpulan sama sekali. Tanya jawabnya kan masih banyak itu. Pemerintah juga belum menyampaikan sikap soal dua draft PKPU," katanya.(OL-4)

Baca Juga

Istimewa/DPR

Alihkan Anggaran Pemindahan IKN untuk Penanganan Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 April 2020, 13:15 WIB
Menurut Guspardi, pengalihan anggaran untuk penanganan virus Covid-19 yang sudah mewabah hampir seluruh provinsi di Indonesia harus segera...
ANTARA/Aprillio Akbar

Komisi II DPR Minta Pemerintah Tunda Pemindahan Ibu Kota

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Senin 06 April 2020, 12:48 WIB
Dalam komposisi APBN 2020, anggaran pembangunan infrastruktur mencapai Rp400 triliun, termasuk anggaran pemindahan ibu...
Istomewa/DPR

Siapkan Skenario Guna Jaga Stok Pangan Nasional

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 April 2020, 12:34 WIB
DPR RI mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk tetap dapat menstabilkan dan menjaga stok pangan nasional agar tidak terjadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya