Selasa 05 November 2019, 20:55 WIB

Meski Dilindungi, Burung Isap Madu Banyak Diperjualbelikan

Bayu Anggoro | Nusantara
Meski Dilindungi, Burung Isap Madu Banyak Diperjualbelikan

Ist
Burung Isap Madu

 

PARA pecinta burung madu masih banyak yang belum mengetahui bahwa peliharaannya itu termasuk hewan yang dilindungi. Selain akan mengancam jumlah populasi, ketidaktahuan inipun berpotensi mengancam ekosistem karena burung tersebut berperan dalam proses penyerbukan alami tanaman di hutan.

Hal ini terungkap dalam diskusi bertemakan 'Selamatkan Burung Isap Madu dan Pohon Saninten', di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo), Selasa (5/11). Acara yang diinisiasi Kelompok Kerja Wartawan Gedung Sate ini dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan dan Satwa Nasional 2019.

Kurator Bandung Zoo, Panji Ahmad Fauzan, mengatakan, saat ini masyarakat khususnya penggemar kicau masih banyak yang memelihara burung isap madu. Bahkan, mereka pun sering menggelar lomba suara satwa yang berukuran kecil tersebut.

Padahal, menurutnya, pemerintah telah menetapkan burung tersebut sebagai hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

"Ada sanksi tegas terhadap para pelanggarnya, baik pidana maupun denda," katanya.

Dia menyayangkan karena kini burung tersebut masih banyak diperjualbelikan di pasaran. Menurut Panji, hal ini terjadi karena masih ada yang beranggapan bahwa populasi burung tersebut masih banyak. Padahal, kata dia, suatu hewan dikategorikan dilindungi bukan hanya karena populasinya yang sedikit, tetapi karena peranannya yang sangat penting dalam menjaga ekosistem alam.

"Sehingga inilah pertimbangan utama kenapa burung isap madu masuk sebagai hewan yang dilindungi," katanya.

Dia menjelaskan, burung isap madu memiliki paruh yang panjang untuk menghisap nektar. Ini menjadi media yang baik dalam penyebaran pohon berbunga di hutan tropis. Oleh karena itu, dia khawatir keberadaan burung ini akan terancam sehingga berdampak terhadap kondisi hutan yang semakin kritis.

"Karena ketiadaan tanaman baru sebagai pengganti tanaman lama," katanya seraya kembali menegaskan bahwa alasan inilah pemerintah menetapkan semua burung isap madu sebagai hewan yang dilindungi.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini masyarakat masih banyak yang belum bisa membedakan antara burung isap madu dengan kolibri. Menurutnya, kedua jenis tersebut sangatlah berbeda meski memiliki bentuk yang hampir sama.

Burung isap madu, lanjut dia, berukuran sekitar 11-12 cm. Penyebarannya meliputi Afrika, Australia, hingga Indonesia. Menurut dia, di Indonesia terdapat sekitar 14 jenis burung isap madu.


Baca juga: Pemkab Purwakarta Fokus Bangun Infrastruktur


"Sebetulnya ini adalah satwa yang kritik, artinya dia sulit untuk ditemui, karena posisinya sulit diidentifikasi," katanya.

Sedangkan burung kolibri hanya ditemukan di Amerika Selatan. Burung ini pun memiliki ukuran yang lebih kecil. Tidak lebih dari 6,35 cm.

"Jenisnya ada sekitar 300an," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Barat, Sanggara Yudha, mengatakan, setiap orang harus memiliki kepedulian terhadap hewan terutama yang dilindungi. Menurutnya, terdapat beberapa ciri bentuk kepedulian kita terhadap satwa, yakni diberi kebebasan, rasa aman, dan bisa berkembang biak.

"Kita harus bisa melestarikan satwa-satwa kita," katanya.

Dia membenarkan masih banyak masyarakat yang memelihara burung isap madu. Namun, menurut dia kecintaan tersebut belum diiringi dengan cara pelestariannya. Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak mengambil burung tersebut dari alam liarnya.

"Jangan mengambil, menangkap, berburu dari alam. Konsepnya bisa dengan penangkaran. Pengembangnbiakan secara terkontrol," katanya.

Cara ini diperlukan agar memudahkan dalam pendataan burung tersebut.

"Agar gampang memonitor," katanya.

Sekretaris Kelompok Kerja Wartawan Gedung Sate, Taufik Hidayat, mengatakan, pihaknya menggelar diskusi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap populasi burung tersebut. Terlebih, menurutnya saat ini kondisi alam semakin rusak dengan semakin derasnya laju pembangunan.

"Dalam memperingati Hari Cinta Puspa dan Tanaman Nasional ini kami ingin menggugah masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, termasuk hewan-hewan yang berfungsi terhadap keseimbangan alam," katanya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More