Selasa 05 November 2019, 18:45 WIB

Pola Asuh Salah Picu Prevalensi Stunting Tinggi

mediaindonesia.com | Nusantara
Pola Asuh Salah Picu Prevalensi Stunting Tinggi

Istimewa
Kepala Bidang Pengujian Balai Besar POM, Padang Provinsi Sumbar Dra. Hilda Murni,Apt.MM

 

KESALAHAN pola asuh menjadi faktor penyumbang gizi buruk pada anak di beberapa daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi. Hal ini erat kaitannya dengan pola pemberian makanan sehari-hari untuk menunjang pertumbuhan balita.

Anak akan mempunyai pertumbuhan yang baik meskipun dalam kondisi ekonomi lemah, jika ibu memberikan pola asuh yang baik dalam pemberian makanan sehari-hari.

Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), sebagaimana diketahui merupakan salah satu propinsi dengan prevalensi stunting tinggi, yaitu mencapai 30,8%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, sepanjang 2018, terdapat 6.793 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) bergizi buruk, 15.942 baduta bertubuh pendek (stunting), 6.685 bayi berbadan sangat kurus. 

Tidak saja baduta, kondisi memprihatinkan juga terjadi pada anak di bawah lima tahun (balita). Sedikitnya, 28.898 anak terdata kurang gizi. Sebanyak 59.641 balita stunting, dan 19.667 orang berbadan sangat kurus.

Jika ditotalkan, jumlah baduta dan balita mencapai 137.626 orang. Masing-masing, 35.691 orang kurang gizi. Lalu, 75.583 bayi mengidap stunting dan 26.352 bayi berbadan sangat kurus.

“Di samping kondisi ekonomi, akar dari ketidakseimbangan gizi ini disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kebutuhan gizi keluarga, jenis makanan hingga pengaturan ragam makanan,” kata Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI)  Arif Hidayat pada acara Edukasi Pangan Sehat Bergizi di Padang, Sumbar, Selasa (5/11) .

“ Karenanya, saat ini Provinsi Sumbart pun gencar melakukan pelatihan dan edukasi gizi, baik untuk tenaga kesehatan maupun langsung ke masyarakat umum,” kata Arif pada acara yabng digelar bersama Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumbar.

Menurut Arif,  rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi mengakibatkan banyak terjadi mispersepsi dan orang tua yang keliru memberikan asupan gizi untuk anak.

“Sebagian masyarakat beranggapan semua susu adalah sama. Bahkan setiap minuman yang berwarna putih pun diasumsikan sebagai susu yang dapat memenuhi kebutuhan anak seperti susu kantal manis,” jelas Arif.

Pada kesempatan yang sama, Dra. Hilda Murni,Apt.MM Kepala Bidang Pengujian Balai Besar POM, Padang Provinsi Sumbar mengatakan visual dengan manampilkan Susu Kntal Manis di dalam gelas itu tidak boleh.

 “Karena sudah jelas dikatakan susu kental manis (SKM) bukan untuk asupan gizi, melainkan hanya dapat dijadikan sebagai topping,” kata Hilda.

Sementara itu, Dra. Noor Rochmah Pratiknya, Wakil Majelis Kesehatan PP Aisyiyah mengatakan perlu ada pengawalan terhadap kesehatan generasi penerus bangsa.

“Tanggung jawab kesehatan masyarakat memang ada di tangan pemerintah. Namun pekerjaan rumah ini akan lebih efektif dan efisien bila dilakukan oleh seluruh elemen yang ada termasuk keluarga sebagai elemen terkecil dalam sebuah Negara,” jelas Noor Rochmah. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More