Selasa 05 November 2019, 08:20 WIB

Mayoritas Anak Ingin Jadi Youtuber dan Pengusaha

Sisilia | Humaniora
Mayoritas Anak Ingin Jadi Youtuber dan Pengusaha

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan materi di sela-sela program Kemenkeu Mengajar di SDN Kenari 1, Jakarta, kemarin.

 

RIUH suara antusias siswa kelas VI SDN Kenari 01, Jakarta Pusat, ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani memasuki kelas mereka. Para murid tingkat akhir sekolah dasar itu tidak menyangka bakal menerima pengajaran dari seorang Sri Mulyani di kelas mereka, kemarin.

Sri datang tepat pukul 09.00 WIB dan disambut tarian Selamat Datang gaya Betawi. Menkeu terbaik se-Asia Pasifik sejak 2017-2019  itu pun senang melihat semangat dan keceriaan para siswa yang menyambutnya di kelas.

Ia pun memulai pertanyaan tentang negara apa saja yang bertetangga dengan Indonesia. Sri menyebut ada Malaysia, Kamboja... kemudian anak-anak melanjutkan ada Filipina, Vietnam.

Lalu Sri Mulyani bertanya lagi. "Kemenkeu, apa itu Kemenkeu?"

"Kementerian Keuangan," jawab murid-murid serentak.

Sri juga sempat bertanya apakah di antara mereka ada yang bercita-cita jadi dirjen pajak atau menteri keuangan.

"Tetapi mayoritas anak ingin menjadi youtuber, atlet internasional, pilot, sampai pengusaha sukses," jelasnya.

Seusai mengajar, Sri menjelaskan program Kemenkeu Mengajar sudah yang keempat kalinya dan diselenggarakan di seluruh Indonesia. Lewat program tersebut, pihaknya memperkenalkan Kementerian Keuangan kepada anak-anak. Harapannya supaya  mereka memahami tugas Menteri Keuangan RI dalam mengatur uang negara.

"Sebetulnya yang menarik, ya tadi anak-anak itu punya pengetahuan dasar yang baik, tetapi tidak dikaitkan dengan narasi. Selama mengajar 1 jam lebih saya memaparkan apa tugas Kemenkeu secara umum, yakni mengatur uang negara dan mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur," tutur Sri kepada wartawan.

Ia pun menjelaskan kepada para siswa tentang bagaimana untuk mencapai kemakmuran dan keadilan. Salah satunya lewat keuangan negara. "Tadi dibuatkan role playing bagaimana mengumpulkan pajak, sumber pajak dari mana saja, dan Menkeu harus mengalokasikan kebutuhan yang banyak tersebut."

Sri mengaku sangat terkesan lewat permainan peran di kelas tersebut, anak-anak tahu ketika dia menanyakan langsung penting atau tidaknya penerimaan pajak. "Ada yang bilang tidak perlu membayar pajak, tetapi temannya berkata kita harus membayar pajak. Saya tanya kenapa kalian harus bayar pajak? Mereka menjawab untuk kepentingan bersama."

Menurut Sri, lewat jawaban spontan anak-anak tersebut terlihat solidaritas mereka luar biasa. Baginya itu merupakan pesan atas sikap anak-anak mengenai pentingnya membayar pajak.

"Role playing kepada anak usia dini merupakan cara dalam memperkenalkan fungsi-fungsi keuangan negara secara mudah. Waktunya singkat, tapi  efektif  dalam pemberian pengetahuan dan pasti membekas dalam ingatan mereka," ungkapnya.

Sri berharap dengan role playing para siswa menyadari bahwa Indonesia harus diurus bangsa sendiri. (Sisilia/X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More