Selasa 05 November 2019, 06:30 WIB

Ancaman Kenaikan Kredit Bermasalah masih Teratasi

Ihfa Firdausya | Ekonomi
Ancaman Kenaikan Kredit Bermasalah masih Teratasi

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nz.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan

 

Ancaman kenaikan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di perbankan dapat teratasi selama stabilitas pertumbuhan ekonomi terjaga.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan menyebut stabilitas pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan menjaga angka NPL di bawah 3%.

Ia menuturkan NPL saat ini berada di angka 2,6%. "Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, turunnya suku bunga bunga rupiah dan suku bunga global, maka NPL masih bisa terjaga terjaga di bawah 3%," ungkapnya dalam diskusi Economic Outlook di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin.

Ia menilai sisi industri dan makroekonomi Indonesia masih aman dengan pertumbuhan ekonomi 5,1%.

"Pertumbuhan ekonomi akan stabil sekitar 5%. Yang menjadi support perbankan itu kan pertumbuhan ekonomi," tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Independen Bank BCA Raden Pardede menyebut ketatnya likuiditas dan ancamaan peningkatan NPL tidak lepas dari perkembangan ekonomi global yang melambat. Faktor eksternal tersebut turut memengaruhi kekhawatiran pasar dan memicu penundaan investasi maupun konsumsi..

"Kalau permintaan terhadap barang tidak ada, ngapain orang investasi? Itulah kejadian yang sekarang. Itulah yang seharusnya kita waspadai. Ekonomi sulit, kekhawatiran ada, likuiditas semakin sulit diperoleh," ungkapnya

Menurutnya, karena perlambatan ekonomi global merupakan sesuatu di luar kontrol pemerintah, NPL ke depan pun tergantung situasi yang ada.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depan. Apakah NPL turun? Mudah-mudahan turun," imbuhnya.

Di sisi lain, menurut Raden, pertumbuhan kredit cukup melemah.

"Memang BI sudah melakukan usaha untuk memajukan ekonomi, mereka melonggarkan suku bunga dan syarat-syarat makroprudensial. Tapi so far kita belum melihat pertumbuhan yang meningkat," katanya.

Namun, perlambatan ekonomi global saat ini diyakininya tidak akan sampai membawa resesi terhadap perekonomian nasional.

"Saya kasih catatan besar bahwa Indonesia masih lebih baik. Pertumbuhan kita pun saya pikir tidak akan mengarah ke resesi. Kita tidak akan ke sana," pungkasnya.

Wakil Ketua Umum V Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) La Ode Saiful Akbar mengatakan peningkatan NPL turut dipicu penguasaan proyek konstruksi oleh BUMN.

Hal itu menyebabkan pengusaha-pengusaha swasta di sektor tersebut hanya berperan sebagai subkontraktor.

Berdasarkan rilis Bank Indonesia, kata La Ode, kredit yang paling tinggi realisasinya ialah bisnis konstruksi.

Perkuat peran

Dalam kesempatan berbeda, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) siap memperkuat peran industri sektor jasa layanan keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang saat ini kontribusinya dinilai masih rendah.

"Dalam Indonesia Banking Expo (IBEX) tahun ini kita akanmendiskusikan sektor keuangan secara menyeluruh dapat sejalan dengan visi dan misi Presiden Joko Widodo dalam hal pembangunan ekonomi," kata Ketua Steering Committee IBEX 2019 Ahmad Siddik Badruddin di Mandiri Club, Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan kontribusi terhadap peningkatan gross domestic product (GDP) akan dilakukan melalui acara bertema Consolidate to evaluate dengan memberikan rekomendasi pokok-pokok pemikiran layanan jasa keuangan di Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan.

"Memberi masukan kepada stakeholders terkait industri perbankan, konsolidasi di sektor keuangan dan bisnis fintech untuk menciptakan ekosistem keuangan yang kuat, efisien, dan efektif di masa depan," tandasnya. (*/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More