Selasa 05 November 2019, 05:20 WIB

Bisnis Properti 2020 akan Lebih Baik

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Bisnis Properti 2020 akan Lebih Baik

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Suasana sebuah kompleks perumahan bersubsidi di kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Senin (7/10/2019).

 

Peraturan daerah yang tumpang tindih sangat memperlambat proses dari para pengembang dalam berinvestasi dan membangun hunian.

Bisnis properti diyakini pada tahun depan akan memiliki kondisi yang lebih baik jika dibandingkan dengan tahun ini. Salah satu sektor yang digadang-gadang menjadi penyumbang pertumbuhan yaitu perumahan rakyat.

"Dengan rendahnya pertumbuhan di 2019, kami optimistis properti tahun depan akan membaik, khususnya di sektor perumahan rakyat. Kuncinya tetap di stimulus dari pemerintah yang saat ini masih sangat terbatas mengingat saat ini tambahan FLPP masih diperjuangkan," tutur Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya saat dihubungi, kemarin.

Stimulus lain yang dibutuhkan pengembang, jelas Bambang, terkait deregulasi peraturan daerah. Soalnya, peraturan daerah yang tumpang tindih sangat memperlambat proses dari para pengembang dalam melakukan investasi dan pembangunan hunian.

"Khususnya kemudahan pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) akan sangat membantu. Begitu juga ke depan terkait sistem subsidi uang muka yang sedang dimatangkan agar saat program berjalan ketersediaan dananya sudah ada," terang Bambang.

Bambang optimistis pasar untuk perumahan MBR masih sangat besar. Akan tetapi, untuk mendorong pasar tersebut sebagai pertumbuhan dibutuhkan stimulus yang kontinu dalam pelaksanaan.

Untuk segmen lain, seperti kelas menengah, kelas atas, dan high end, menurutnya, tetap membutuhkan kreativitas para pengembang untuk menarik pembeli. Selain itu, pelonggaran pajak serta pengawasan dalam pelaksanaannya juga dibutuhkan.

Hal tersebut dipandang Bambang sebagai suatu hal yang penting agar investor tidak takut dalam membeli properti. "Sektor menengah tentu selalu berkaitan dengan bunga KPR yang bersaing dan pengawasan perpajakan yang bersahabat," jelas Bambang.

Terkait proyeksi pertumbuhan sektor properti, pihaknya memproyeksikan angka antara 2%-3% di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2020 sebesar 5,2%-5,3%, REI memperkirakan sektor properti bertumbuh hingga 7%-9%.

Moderat

Coldwell Banker Commercial (CBC) sebelumnya memprediksi pasar properti pada 2020 masih moderat sebagai dampak pelemahan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Ini didasarkan dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun depan dari 3,5% menjadi 3,4%.

"Masih ada ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, berikut konflik geopolitik. Kinerja pasar properti berbagai kota di Indonesia diproyeksi akan moderat pada tahun depan," ujar Managing Partner of Strategic Advisory Coldwell Banker Commercial (CBC), Tommy Bastamy, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kendati begitu, lanjut dia, sentimen positif dari permintaan sudah terjadi dalam beberapa periode terakhir. Hal itu diharapkan menjadi sinyal transaksi penyewaan atau pembelian properti.

Tommy juga menyoroti pembentukan Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Joko Widodo-Ma'aruf Amin yang berpotensi membawa angin segar bagi pasar properti domestik. "Pada tahun depan, pertumbuhan sektor properti di sejumlah kota terus berkembang," ungkapnya.

Tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta maupun kota besar lain, bisnis properti juga bakal berkembang di daerah lain, seperti Surabaya, Bandung, dan Medan. Ini disebabkan perkembangan aktivitas ekonomi dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah. (Tes/S-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More