Senin 04 November 2019, 16:18 WIB

Anies Tidak Perlu Malu Akui Salah Susun Rancangan APBD

Selamat Saragih | Megapolitan
Anies Tidak Perlu Malu Akui Salah Susun Rancangan APBD

MI/MOHAMAD IRFAN
Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Basri Baco

 

KALANGAN DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Golkar meminta Gubernur DKI, Anies Baswedan, supaya tidak sungkan mengakui adanya kesalahan dalam penyusunan anggaran. Sebab, pengakuan tersebut bakal menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi masalah untuk melakukan pembenahan secara simultan.

"Jangan malu untuk mengakui pemerintahan sebelumnya lebih transparan. Akui saja supaya ada perubahan yang lebih baik," kata Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Basri Baco, di Jakarta, Senin (4/11).

Basri memberi pernyataan itu sebagai respon adanya permasalahan anggaran yang tidak wajar hingga menjadi kontroversi sekarang ini. Pasalnya sejak publik menyoroti adanya anggaran pengadaan lem aibon senilai Rp82 miliar, jajaran Pemprov DKI memberi penjelasan yang berbeda-beda.

Sementara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, malah menyalahkan sistem e-budgeting yang menurutnya tidak canggih. Belakangan dua orang Kepala SKPD memilih mengundurkan diri. "Ya diakui saja ada masalah supaya bisa berubah lebih baik. Semangat perbaikan harus ada dan kita mendukung," ujar Basri.

Baca juga: Persoaalan Utama Anies ialah Transparansi Anggaran

Menurut dia, penting bagi seluruh pihak untuk menyadari terlebih dulu adanya permasalahan pengelolaan anggaran. Ketika adanya kesepahaman maka langkah pembenahan dapat dilakukan secara cepat.

"Penyusunan anggaran memang harus transparan. Terlebih lagi kondisi zaman sudah lebih canggih maka manajemen penganggaran harus mengikutinya. Jangan seperti sekarang ini, anggaran RAPBD DKI besar tetapi manajemen penganggarannya kacau," terangnya.

Pihaknya mendukung langkah gubernur yang membentuk tim ad hoc untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran disiplin pegawai dalam menginput data anggaran Kebijakan Umum APBD Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) DKI tahun 2020.

Golkar DKI juga mendukung langkah gubernur memperbarui sistem e-budgeting di DKI. Namun selama belum adanya kesadaran bersama untuk memperbaiki, pihaknya khawatir persoalan serupa bakal terulang kembali.

"Kita menduga banyak persoalan yang begini. Maka dari itu mari kita satu kata, satu irama untuk melakukan pembenahan dan Pemprov DKI bisa menjadi contoh panutan di Indonesia," katannya.

Golkar mendukung alokasi anggaran di DKI selama peruntukannya tepat bagi publik. Seandainya gubernur mengalokasikan Rp1 trilun untuk mengadakan peniti pun didukung asalkan bisa menjawab kebutuhan masyarakat.

Pihaknya menyadari kondisi tersebut belum muncul. Maka tidak heran banyak pihak menyoroti penganggaran di DKI, jelas Basri.

Karena itu, lanjutnya, menjadikan alokasi anggaran Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) sebesar Rp19,8 miliar sebagai contoh penganggaran yang tidak tepat guna. Tim tersebut sejauh ini dianggap tidak memiliki kontribusi dalam pembangunan Ibu Kota.

"Kita tidak mempersalahkan anggaran, boleh-boleh saja tetapi tugasnya apa? Bicara profesional bukan kecil-besarnya anggaran tetapi peruntukannya apa. TGUPP banyak yang komplain ke kami karena maksimalisasinya tidak ada," kata Basri. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More