Senin 04 November 2019, 16:04 WIB

Berbagai Pihak Bersama-sama Atasi Sampah di Pulau Dewata

mediaindonesia.com | Nusantara
Berbagai Pihak Bersama-sama Atasi Sampah di Pulau Dewata

Istimewa
Trash booms, teknologi terjangkau untuk jebakan sampah, yang dipasang di Sungai Ye Poh di Desa Kerobokan Kelod, Bali.

 

PULAU Bali dikunjungi sekitar 16 juta wisatawan setiap tahun dan menyumbang US$7,6 miliar atau sekitar Rp100 triliun pada 2018 atau sekitar 40% dari pendapatan negara dari sektor pariwisata.

Sayangnya, pada 2019, telah terjadi penurunan jumlah pengunjung yang signifikan yang menyebabkan penurunan belanja pariwisata di Bali yang mencapai 8%. Salah satu alasan utama para turis asing tidak kembali ke Bali adalah sampah. Bali menghasilkan sekitar 1,6 juta ton sampah per tahun dan 20% dari sampah tersebut adalah sampah plastik.

Namun beruntung, sejumlah pihak peduli dan berupaya mengatasi persoalan sampah di Pulau Dewata. Sebuah perusahaan minuman Bir Bintang bekerja sama dengan aktivis lingkungan Gary Bencheghib, pendiri Make A Change World meluncurkan kampanye untuk memperkenalkan budaya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab untuk melindungi Bali.

Kampanye tersebut mencakup pemasangan 100 trash booms di sekitar Bali, solusi teknologi terjangkau untuk jebakan sampah yang dikembangkan perusahaan startup lingkungan asal Jerman, Plastic Fisher. Trash booms secara efektif dapat menghentikan sampah masuk ke sungai, saluran air, dan pantai Bali.

"Setiap orang yang mengunjungi Bali akan selalu senang memiliki pengalaman bersama Bintang. Ini adalah komitmen kami untuk mendukung pariwisata Indonesia dan memastikan Bali terus menjadi tujuan bintang,” kata Mariska van Drooge, Marketing Director PT Multi Bintang Indonesia Niaga, di Bali (02/11).

“Kami percaya cara terbaik untuk mencegah sampah ke pantai dan laut dimulai dari budaya perilaku kelola sampah yang bertanggung jawab dan mencegah sampah ke sungai,” ujar  Mariska van Drooge.

Upaya mengatasi sampah di Bali mendapat sambut dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Maritim dan Investasi). “Kami senang Multi Bintang ikut terlibat, kami harapkan semua bisa ikut terlibat,” kata Safri Burhanuddin, Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia.

 "Dalam 10 tahun terakhir, kami telah meluncurkan ekspedisi di beberapa sungai paling tercemar di dunia dan telah melihat sendiri perlunya tindakan sesegera mungkin. Jadi, untuk merayakan sepuluh tahun berdiri, kami sangat senang untuk berkontribusi ke tempat awal semuanya dimulai yaitu Bali," kata Gary Bencheghib.

Sebagai permulaan, akan ada tiga trash booms sungai di anak-anak Sungai Ayung, jalur air terpenting di Bali. Trash booms pertama telah dipasang di Sungai Ye Poh di Desa Kerobokan Kelod. Sedangkan, trash booms yang lain akan dipasang beberapa minggu mendatang dan selanjutnya akan diikuti oleh kampanye edukasi interaktif soal tata kelola sampah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya untuk tidak membuang sampah di sungai.

“Kami menciptakan trash booms yang efektif dan terbuat dari bahan-bahan lokal untuk memberikan solusi pengumpulan sampah di sungai yang sederhana dan efisien sesegera mungkin. Alat ini mudah dirakit dan dirawat. Sebelumnya, kami telah berhasil mengimplementasikan ini di Sungai Citarum," kata Moritz Schulz, Leading Engineer Plastic Fischer.

Untuk melacak perkembangan dan keefektifan kegiatan ini, sebuah platform online bernama River Watch diaktifkan untuk memantau sungai dan memberikan edukasi publik. Platform online ini diharapkan menjadi platform sungai bersih di seluruh dunia. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More