Senin 04 November 2019, 15:15 WIB

Pemburu Utang, Bentuk Lain dari Keserakahan

Fetry Wuryasti | Weekend
Pemburu Utang, Bentuk Lain dari Keserakahan

MI/Fetry Wuryasti
Pertunjungan Teater Pemburu Utang.

KERAJAAN miskin yang rakyatnya miskin dengan maklumat kemiskinan, memiliki tradisi memberikan sumbangan setiap hari. Sumbangan yang diberikan bisa berupa uang atau barang. Mereka menyetor selayakya sumbangan sukarela, namun wajib. Bila tidak, akan dihitung menjadi utang yang akan menumpuk setiap harinya.

Setiap hari ada sosok penagih pimpinan kerajaan. Tingkahnya layaknya rentenir, menugaskan tukang pukul untuk mendekati warga untuk menagih. Ia tidak sendiri, bersama si akuntan sekaligus tukang catat mendaftarkan jumlah utang sumbangan yang harus dibayar warga.

Setiap hari kehidupan di kerajaan ini diisi kejar-kejaran antara warga miskin dan penagih. Padahal warga sudah bekerja keras mengumpulkan uang sebagai tukang kelontong atau menjual diri di losmen atau rumah bordil. Setiap harta hasil jerih payah warga di setor kepada orang instansi negara.

Miskin yang menjadi gaya hidup ini disebabkan kondisi negara yang dinyatakan bangkrut akibat utang yang terlalu menumpuk. Alhasil, negara tidak sanggup menanggung beban utang dan rakyat yang harus menanggung seluruh utang negara.

Kondisi tersebut diperparah aturan yang mewajibkan setiap warga negara membayar utang. Bagi warga yang masih memiliki aset dan kekayaan akan disita untuk menyelamatkan keutuhan negara tersebut.

Akibat aturan itu, maka seluruh rakyat memilih menjadi miskin. Ramai-ramai mereka memiskinan diri dan memilih menjadi gelandangan. Dampak  kepura-puraan itu menjadikan barang-barang mewah yang sebelumnya menjadi status sosial, menjadi tak berarti.

Yang dicari justru barang atau benda yang paling jelek, rusak, dan rombeng. Akhirnya kemiskinan menjadi mode dan gaya hidup terpopuler di negara tersebut.

Meski sudah memiskinkan diri, negara tetap memungut denda. Bila tak mampu membayar, mereka dianggap berutang pada negara dan harus membayarnya dengan cara mencicil atau kredit dengan bunga  tinggi.

Hanya saja, masyarakat tidak sadar semua itu proyek yang dirancang negara agar orang-orang menikmati segala macam bentuk kemiskinan. Ketika banyak masyarakat yang menderita, selalu ada yang mengambil keuntungan dari penderitaan tersebut.

Kisah satir ini dibungkus dengan guyon bahasan kekinian, mulai dari isu KPK, sumpah berjalan kaki Yogyakarta-Jakartanya Amien Rais, Menteri Pertahanan Prabowo, dan kebiasaan tidurnya anggota DPR dalam teater bertema Pemburu Utang, merupakan pentas Indonesia Kita ke-34. Kali ini ide kreatif digagas Butet Kertaradjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto, serta diselenggarakan Djarum Foundation bersama Kayan Production & Communications.

Buter Kertaradjasa mengatakan cerita ini menggambarkan betapa di Indonesia masih terhampar kemiskinan. "Dari cerita ini mungkin nanti menteri keuangan mendapat inspirasi untuk bikin perjuangan, mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan Indonesia," ujar Butet, di Jakarta, Jumat (1/11) malam.

Penampilan teater ke-34 ini menjadi perayaan bersama bagi Indonesia Kita, bukan sebagai program kebudayaan, melainkan Indonesia yang dicintai. "Karena tidak ada lagi kampret dan cebong, semua sudah bersekutu, bersatu dalam semangat persatuan Indonesia. Tidak ada mantan lagi di sana. Karena mantan capres pun bisa menjadi menteri pertahanan. Hanya di jalan kebudayaan kita bisa bersekutu dengan cara ciamik seperti ini," tukas Butet.

Indonesia sejak zaman kerajaan hingga demokrasi, belum pernah terbebas dari korupsi. Keserakahan diungkapkan sastrawan Heru Joni Saputra menjadi bermuaranya.

Pertunjukan "Pemburu Utang" adalah gambaran satire atas keserakahan. Ketika suatu negeri sudah bangkrut karena utang dan korupsi, bukan berarti keserakahan akan berhenti begitu saja. Di dalam kebangkrutan sebuah negeri, keserakahan tetap muncul dengan wajah barunya.

"Keserakahan, dalam bentuk paling sederhananya, adalah suatu kehendak untuk selalu mendapatkan untung. "Untung" tidak selalu berarti "kaya". Tak ubahnya seperti orang yang hidup dari satu tren ke tren lainnya' bila keuntungan berarti kekayaan, maka orang-orang serakah akan berlomba-lomba menjadi kaya. Bila keuntungan bisa didapatkan lewat korupsi, maka orang-orang serakah akan menjadikan korupsi sebagai pekerjaan tetap. Bahkan bila keuntungan berarti kemiskinan? maka orang-orang serakah akan berpacu-pacu menjadi miskin. Inilah sisi ironis yang diusung oleh pertunjukan "Pemburu Utang"," ujar Heru Joni Putra. (M-3)

Baca juga : Catatan dari Debutan Gudfest

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More