Senin 04 November 2019, 12:01 WIB

Perang Dagang Amerika-Tiongkok Dongkrak Investasi Emas

Rudi Kurniawansyah | Ekonomi
Perang Dagang Amerika-Tiongkok Dongkrak Investasi Emas

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc.
Investasi emas

 

DAMPAK berlarut-larutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok justru mendongkrak minat investor untuk berinvestasi pada emas. Pasalnya, ketidakpastian global mendorong investasi emas menjadi pilihan yang lebih menguntungkan bagi para investor.

CEO PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Teddy Prasetya mengatakan, kinerja perusahaan investasi emas sepanjang Januari hingga September tahun ini didorong oleh penguatan tren positif dari produk derivatif emas. Di tengah ketidakpastian kondisi global akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, negosiasi brexit dan fluktuasi nilai tukar mata uang di beberapa negara membuat para investor cenderung berinvestasi pada emas lantaran bersifat safe haven.

"Kami percaya investasi perdagangan berjangka menjadi pilihan yang tepat dan menarik saat ini. Peluang keuntungan bisa diperoleh dari dua arah pada saat naik maupun turun. Para investor hanya perlu memiliki bekal analisa yang jeli agar risiko bisa diminimalisir dan tetap profit dalam segala kondisi," terangnya.

Dia menjelaskan, sepanjang kuartal III tahun 2019,  PT RFB berhasil menghimpun total volume transaksi sebesar 1,08 juta lot atau naik 27,80% dibandingkan tahun sebelumnya pada posisi yang sama. Posisi teratas masih ditempati oleh RFB dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 17,44% berdasarkan data top five perusahaan pialang berjangka yang dirilis oleh PT Bursa Berjangka Jakarta.

Secara keseluruhan, lanjutnya, volume transaksi bilateral atau sistem perdagangan alternatif masih mendongkrak angka kinerja perseroan dengan pencapaian sebesar 822.752 lot atau mengalami kenaikan 34,45%.

Sementara itu untuk volume transaksi multilateral atau komoditi meski porsinya belum terlalu besar namun tetap tumbuh sebesar 10,47% menjadi 259.170 pada kuartal III tahun ini.

Berbicara soal rapor biru yang memuaskan itu, Teddy mengatakan posisi terdepan diraih berkat dukungan yang kuat dari berbagai pihak, antara lain para broker, karyawan, self regulatory organizations (SRO), regulator dan segenap nasabah.

Kualitas pelayanan dan transparansi adalah kunci strategi RFB. Oleh karena itu, bukan hanya volume transaksi yang meningkat juga pertumbuhan nasabah baru terus bergerak. Total nasabah baru sampai 30 September 2019 mencapai 41,46% menjadi 2.774 nasabah dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Persebaran nasabah baru masih didominasi mulia dari wilayah Jakarta, kemudian Bandung, Palembang, Medan, Surabaya, Pekanbaru, Solo, Semarang dan Yogyakarta.

"Hingga akhir tahun 2019, kami optimistis target 1,5 juta lot akan tercapai. Seiring waktu, kami terus meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, edukasi, dan sosialisasi yang lebih luas. Ini sejalan dengan pendekatan customer centric yang kami jalankan yaitu memfokuskan segala sesuatu pada kebutuhan nasabah," jelasnya.(OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More