Senin 04 November 2019, 04:20 WIB

Pendidikan Karakter Era Nadiem

Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma | Opini
Pendidikan Karakter Era Nadiem

Dok. Pribadi
Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma

PENUNJUKKAN Nadiem Makarim sebagai Mendikbud RI dalam Kabinet Indonesia Maju mengejutkan banyak pihak. Betapa tidak, pengusaha sukses ini belum pernah mengelola pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, dan kini harus menakhodai sebuah kementerian yang sangat strategis dan sarat beban persoalan. Dalam sebuah kesempatan, videonya kemudian viral, Nadiem memberikan paparan sangat menarik mengenai pengembangan SDM RI menuju ekonomi digital.

Di mata beliau, setidaknya terdapat empat hal penting yang wajib masuk kurikulum pendidikan. Pertama, bahasa Inggris dan ini wajib sejak SD agar anak memiliki kemampuan berkomunikasi secara internasional. Ke depan, kecenderungan belajar mandiri dari sumber-sumber belajar di luar sekolah dan PT semakin menguat.

Kedua, pemrograman dan koding komputer, untuk mengenalkan secara lebih dini bahasa pemrograman dan penalaran, serta mengembangkan spesialisasi dan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.

Ketiga, mentorship dan coaching, universitas kelas dunia membutuhkan staf pengajar kelas dunia.

Keempat, statistik dan psikologi, agar gaya berpikir yang timbul berdasarkan data. Kepemimpinan karena kepiawaian pengelolaan SDM. Skala dan informasi sebagai landasan kebijakan. Penulis sependapat sepenuhnya, tapi di mana pendidikan karakter?

 

Pendidikan karakter berkelanjutan

Siswa, berikut mahasiswa, belajar bertindak berdasarkan nilai-nilai utama dalam mengembangkan perilaku prososial. Dalam mengomunikasikan perasaan, mendengarkan secara aktif, dan keterampilan menolong, misalnya, dapat dikembangkan melalui pembelajaran lintas umur, mediasi konflik, layanan PT, dan komunitas.

Jika mereka tumbuh dalam karakter ini, berarti mahasiswa belajar mengembangkan pemahaman yang semakin mendalam tentang nilai-nilai utama, lebih komit untuk hidup berlandaskan nilai-nilai, serta memiliki kapasitas dan kecenderungan yang lebih kuat untuk berperilaku sesuai nilai-nilai yang diyakini.

Oleh karenanya, program-program pendidikan karakter yang berdiri sendiri, pada awalnya memang bermanfaat atau merupakan salah satu unsur yang dapat membantu upaya pengembangan karakter yang berkesinambungan. Namun, jelas bukan pengganti yang memadai bagi pendekatan holistis yang mengintegrasikan pengembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan perguruan. Daripada hanya menunggu kesempatan untuk muncul, lebih baik dengan sengaja dan proaktif, sivitas akademika mengambil langkah konkret mengembangkan karakter. Penelitian menunjukkan, langkah nyata dan proaktif seluruh komponen pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter.

Institusi pendidikan, termasuk perguruan tinggi (PT), yang komit mengembangkan karakter berusaha menjadikan dirinya sebagai mikrokosmos dari masyarakat sipil yang peduli dan berkeadilan. Hal ini dilakukan dengan menciptakan suasana dekat dan peduli satu sama lain. Kedekatan ini mencakup pengembangan hubungan antarmahasiswa, baik di dalam maupun di luar kampus, antarstaf, antara mahasiswa dan staf.

Hubungan yang penuh kepedulian ini menumbuhkan keinginan mahasiswa belajar dan menjadi orang baik. Di PT yang penuh dengan perhatian dan kepedulian ini, kehidupan sehari-hari di ruang kelas dan di seluruh bagian lingkungan PT, seperti koridor dan kantin dijiwai iklim kepedulian dan penghormatan terhadap sesama.

Pada etika, seperti halnya dalam ranah intelektual, mahasiswa ialah pembelajar konstruktif, mereka paling baik belajar melalui tindakan. Untuk mengembangkan karakter yang baik, mereka perlu diberi kesempatan banyak dan beragam untuk menerapkan nilai-nilai kasih sayang, tanggung jawab, dll. Lalu, diskusi dan melalui kegiatan layanan masyarakat. Di sini sering kali terlihat sisi lemah pendidikan karakter kita, terlalu banyak petuah dan kurang pada tindakan.

Dengan bergulat bersama tantangan kehidupan nyata dengan membagi pekerjaan dalam sebuah kelompok pembelajaran kooperatif, bagaimana mencapai konsensus dalam suatu diskusi, bagaimana mengurangi perselisihan dalam organisasi kemahasiswaan. Lalu, bagaimana melaksanakan sebuah proyek sosial dan merefleksikan pengalaman, mahasiswa belajar banyak mengembangkan pemahaman praktis tentang persyaratan bekerja sama dengan orang lain.

Ketika mahasiswa berhasil mengerjakan tugas perkuliahan dengan baik, mereka merasa kompeten dan mandiri, lebih merasa berharga dan percaya diri. Karena mahasiswa yang datang ke PT memiliki beragam keterampilan, minat dan kebutuhan, program akademik yang ditawarkan harus cukup canggih.

Ini berarti PT hendaknya memberikan kurikulum yang secara inheren menarik dan bermakna bagi mahasiswa. Kurikulum yang bermakna, termasuk metode pengajaran dan pembelajaran aktif, seperti pembelajaran kooperatif, pemecahan masalah, dan proyek berbasis pengalaman.

Selain itu, pendidik karakter yang efektif selalu mencari titik temu antara konten akademik yang ingin diajarkan dan kualitas karakter yang ingin dikembangkan. 'Koneksi karakter' ini dapat mengambil berbagai bentuk, seperti saat membahas isu-isu etis terkini dalam ilmu pengetahuan, memperdebatkan praktik dan keputusan yang sangat memengaruhi perjalanan sejarah.

 

Penguatan karakter

Karakter sering didefinisikan sebagai 'melakukan hal yang benar ketika tidak ada orang yang melihat' (Lickona dkk: 2007). Dengan demikian, alasan etik terbaik yang mendasari seseorang mengikuti aturan, semestinya, rasa hormat terhadap hak dan kebutuhan orang lain, bukan karena takut hukuman atau keinginan untuk mendapat hadiah.

Demikian pula, kita tentu menginginkan mahasiswa bersikap baik kepada orang lain karena keyakinan batin bahwa berbuat kebaikan itu memang baik, ingin menjadi orang baik. Harapan penulis, Mendikbud juga memberi perhatian khusus pada penguatan karakter generasi muda bangsa.

Pemimpin masa depan ialah sosok pilihan yang memiliki karakter kuat, tapi bijak. Kualitas demikian dapat diraih dengan melakukan tilawah, ta'lim, tazkiyah, dan hikmah secara simultan. Budaya tilawah ialah keniscayaan bagi semua warga perguruan. Tidak terbatas membaca teks untuk memperoleh informasi, tetapi bacaan yang mendalam terhadap setiap fenomena kehidupan sehingga bermanfaat bagi upaya penguatan spiritualitas.

Ta'lim hendaknya menjadi tradisi sehari-hari pemangku kepentingan pendidikan, asah asih asuh. Semua komponen pendidikan harus melatih diri saling berbagi pengetahuan, ketrampilan, dan praktik baik.

Semua sivitas akademika perlu melakukan tazkiyah, yaitu upaya terus-menerus membersihkan hati. Kegiatan harian yang secara konsisten mesti dilakukan untuk melahirkan generasi yang langkah hidupnya terbimbing hati nurani, bukan kepentingan pragmatis.

Pada akhirnya kita harus menjadi ahli hikmah, melakukan olah batin dengan critical reflection, mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang dialami atau dilihatnya. Dalam bahasa Rumi, 'Ketika samudra melanda, jangan biarkan aku hanya mendengarnya. Biarkan ia memercik di dalam dadaku'.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More