Minggu 03 November 2019, 20:00 WIB

Kesepakatan Perdagangan Terbesar Dunia Ditunda hingga 2020

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Kesepakatan Perdagangan Terbesar Dunia Ditunda hingga 2020

AFP
Perdana Menteri India Narendra Modi

 

PENANDATANGANAN pakta perdagangan terbesar di dunia kemungkinan akan diundur ke 2020, menurut draf pernyataan para pemimpin Asia Tenggara. Kesepakatan itu amat didambakan oleh Tiongkok untuk mengimbangi perang tarif yang menyakitkan dengan Amerika Serikat.

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang beranggotakan 16 negara mencakup dari India hingga Selandia Baru dan mencakup 30% dari PDB global dan setengah dari penduduk dunia.

Keberatan oleh India telah memupus harapan untuk menyelesaikan pakta tersebut pada pertemuan puncak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akhir pekan ini di Bangkok, Thailand. Anggota blok beranggotakan 10 negera telah bergabung dengan perdana menteri India dan Tiongkok.

"Sebagian besar negosiasi akses pasar telah selesai dan beberapa masalah bilateral yang belum diselesaikan akan diselesaikan pada Februari 2020," kata rancangan perjanjian yang diperoleh AFP.

Negosiasi telah tertatih-tatih selama beberapa tahun, tetapi pernyataan itu mengatakan teks dari semua 20 bab sekarang telah lengkap sambil menunggu resolusi satu anggota, diyakini India.

Semua anggota berkomitmen untuk menandatangani RCEP tahun depan di Vietnam, yang akan mengambil alih kursi ASEAN.


Baca juga: 13 Tewas dalam Serangan Bom Mobil Dekat Perbatasan Turki-Suriah


"New Delhi khawatir sektor bisnis kecil kami akan terpukul oleh banjir barang-barang murah Tiongkok yang menciptakan defisit perdagangan yang tidak berkelanjutan," ujar Perdana Menteri India, Narendra Modi, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Bangkok Post.

Beijing memandang RCEP sebagai pilar utama dari strategi perdagangannya untuk kawasan Asia, dan didukung oleh para pemimpin ASEAN dan yang mewakili pasar yang kuat dengan 650 juta jiwa.

RCEP--yang meliputi 10 negara anggota ASEAN bersama dengan Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru--menyumbang 40% dari perdagangan global.

Strategi saling membalas tarif yang dilobi oleh AS dan Tiongkok pada barang-barang senilai miliaran dolar dapat menyeret pertumbuhan ke tingkat terendah dalam lebih dari satu dekade, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia berharap untuk menandatangani kesepakatan dengan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, untuk membatalkan beberapa tarif. Ia mengatakan kepada wartawan pada akhir pekan perjanjian dapat ditandatangani di Iowa, AS.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengatakan pada hari sebelumnya bahwa negaranya tetap berkomitmen kuat untuk mendukung sentralitas ASEAN sebagai bagian dari ikatan regionalnya. (AFP/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More