Minggu 03 November 2019, 17:55 WIB

Larangan Cadar dan Celana Cingkrang tidak Terkait Radikalisme

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Larangan Cadar dan Celana Cingkrang tidak Terkait Radikalisme

ANTARA
Larangan Cadar dan Celana Cingkrang tidak Terkait Radikalisme

 

BELAKANGAN Menteri Agama Fachrul Razi menjadi perbincangan akibat membahas wacana pelarangan menggunakan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Yusny Saby menilai, aturan tersebut tidak ada hubungannya dengan masalah radikalisme atau manipulator agama. Sebab, ini merupakan ketentuan berpakaian bagi para pegawai negeri.

Oleh karena itu, Yusny mengimbau masyarakat agar tidak menyalahartikan ucapan Menag tersebut.


Baca juga: Soal Cadar & Celana Cingkrang, Wamenag: Masih Dilakukan Evaluasi


"Saya kira tidak (ada hubungan dengan radikalisme). Seperti begini, kamu masuk tentara maka harus berpakaian biru atau loreng. Lalu kamu bilang, nggak mau saya mau pakaian putih, ya anda masuk instansi lain. Masalah ini kesatuan aturan sebuah kantor, sebuah unit, sebuah instansi jadi sudah ada ketentuan, bukan Pak Menteri menciptakan yang baru," kata Yusny kepada Media Indonesia, Minggu (3/11).

Yusny memandang, Menag hanya bermaksud melakukan penertiban pakaian para ASN yang bekerja di lingkungan Kementerian Agama. Selain itu, menurutnya, aturan itu dimaksudkan agar para pegawai menggunakan pakaian yang setara sebagai identitasnya sebagai ASN.

"Saya tidak merasa ada itu dan beliau saya kira sangat sadar. Kalau di luar kantor (pakai cadar dan celana cingkrang) di pasar, ya silakan, tapi bahwa di kantor kamu harus pakai pakaian sesuai aturan. Kalau nggak mau begitu, ya nggak usah ke kemari," tandasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More