Minggu 03 November 2019, 06:00 WIB

Situs Mbah Gilang dan Reog Kendang

Galih Agus Saputra | Weekend
Situs Mbah Gilang dan Reog Kendang

MI/Ebet
Reog Kendang

DESA Tapan dewasa ini dipercaya sebagai lokus paling bersejarah di Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Desa yang terletak di bantaran Sungai Brantas itu memiliki sejumlah situs penting, yang mana jika dirunut sejarahnya dapat tertuju pada masa kejayaan Kerajaan Kediri.

Ekosistemnya masih terjaga hingga saat ini, termasuk situs Mbah Sentono Gilang yang juga dapat dikaitkan dengan salah satu Penguasa Kerajaan Kediri, Raja Bhameswara.

Situs Mbah Sentono Gilang pada dasarnya bukanlah satu-satunya peninggalan yang masih terjaga di Desa Tapan. Masih ada satu situs lagi yang menunjukkan kesamaan jika dilihat berdasarkan ciri-cirinya. Arkeolog Dwi Cahyono memastikan bahwa lingga prasasti yang ada di situs Mbah Gilang memiliki kemiripan dengan prasas­ti lain yang diwariskan periode Bhameswara, yang merupakan pendahulu Jayabhaya.

“Mengacu pada candrasengkala yang sudah aus, dapat dibaca bahwa kedua prasasti merujuk pada 1041 Saka (1119 M) dan 1046 Saka (1124 M). Meski sudah sangat sulit dibaca, akan tetapi para arkeo­log memperkirakan kedua prasasti berhubungan dengan anugerah sirna atau simathani,” atau kurang lebih seperti itulah sebagaimana tercatat dalam keterangan tertulis tentang Desa Tapan, yang dibaca Media Indonesia kala berkunjung ke Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa waktu silam.

Kedua situs tersebut selanjutnya turut menjadi akar kebudayaan dan identitas tersendiri bagi segenap warga Desa Tapan. Salah satu Perupa dari Desa Tapan, Budi Santoso, mengatakan bahwa warga desa tersebut melestarikan situs Mbah Gilang dengan Reog Kendang. Seturut dengan tradisi nenek moyang, lanjut Budi, warga Desa Tapan selalu berusaha menghormati segala peninggalan yang ada, layaknya orang merawat keris, pakaian, atau senjata dari masa lalu.

Dirawat dengan ritus

Begitu juga dengan prasasti, situs tersebut selalu dirawat menggunakan ritus yang dilaksanakan setiap Malam Satu Suro, atau yang bertepatan dengan peringatan 10 Muharam. Reog Kendang sendiri, menurut Budi, pada dasarnya ialah salah satu kesenian tradisional di desa tersebut yang lahir dari tari kreasi, merujuk pada bentuk umum tari jaranan, dan awam ditemukan di berbagai daerah di Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Reog Kandang menjadi bagian dari ritus yang dikenal dengan Grebek Sura untuk merawat situs Mbah Gilang, dan disebut Reog Kendang karena dalam koreografinya setiap penari yang turut tampil di dalamnya selalu membawa kendang.

“Pada saat Grebek Sura itulah biasanya kami menyajikan berbagai macam pergelaran kesenian tradisional, salah satunya jaranan. Jaranan khas dari Tulungagung sendiri biasanya dikenal dengan Jaranan Sentherewe, tetapi ada juga jaranan kreasi lain di desa kami yang disebut Reog Ken­dang,” tutur Budi.

Menurut Budi, dewasa ini warga Desa Tapan menganggap bahwa Reog Kendang merupakan kesenian yang sangat merakyat. Ia juga mudah dipelajari, tidak seperti seni mendalang yang butuh kemampuan atau pendalaman lebih. Maka itu, sebagian besar warga lantas antusias untuk mempelajari, sampai akhirnya menjadi identitas desa dan selalu ditampilkan saat Grebek Sura di situs Mbah Gilang.

Ekspresi dan ekonomi

Saking antusiasnya dengan jaranan, menurut Budi, saat ini masyarakat di sekitaran Desa Tapan, bahkan sudah berhasil membentuk tujuh grup kesenian. Banyak dari mereka yang mau belajar dan memiliki semangat yang cukup tinggi, termasuk dalam hal membuat perangkat pendukung, seperti pakaian atau berbagai macam atribut yang dimodifikasi masyarakat sendiri.

Adapun kreasi jaranan menjadi Reog Kendang sendiri, seingat Budi, sudah dimulai sejak 1970-an. Semangat dan kreatifitas menjadi alasan utama, yang mana pada kesempatan selanjutnya turut menggerakan seluruh ekosistem budaya yang ada di sana.

Warga Desa Tapan menganggap keseninan dan prasasti sama-sama penting kedudukannya. Maka dari itu pula, mereka lantas mengabadikannya dalam bentuk seni lukis. “Kalau biasanya orang-orang mengabadikan momen-momen kesenian seperti ini menggunakan foto, sebagian dari kami memilih untuk mengabadikan seni dengan seni lukis,” tutur Budi.

Menyoal perangkat, Reog Kendang sendiri pada dasarnya juga menggunakan beberapa alat lain yang lazim digunakan untuk kesenian jaranan, seperti kenong, demung, dan peking. Beberapa daerah di Tulungagung juga menggelar tarian seperti ini, selain ada juga jenis reog lain yang memadukannya dengan campursari, hingga kemudian lahirlah Reog Campursari.

Secara sederhana, jaranan atau reog di Tulungagung, kata Budi, dapat dibedakan dalam tiga jenis, mulai jaranan Sentherewe, Campursari, dan Reog Kendang. Beberapa jenis tersebut lahir dari antusiasme dan kreativitas yang dibawa setiap grup. Layaknya Reog Ponorogo, yang selalu membawa simpul merak besar, Reog Kendang juga membawa simpul tersebut, tapi berukuran kecil. Ia hanya menjadi penutup atau mahkota kepala saja, tak seperti Reog Ponorogo, yang selalu menampilkan kepala singa dan simpul merak sebagai daya tari utamanya.

Jaranan atau reog sendiri masih memiliki makna terkait pertarungan antara yang baik dan buruk. Dalam atributnya selalu ada kuda lumping dan barongan yang melambangkan kebajikan dan kejahatan. Namun, dua hal tersebut pada dasarnya bersifat relatif atau tergantung pada orang yang mengalaminya sendiri. Kunci untuk menyikapi kedua hal tersebut ialah lapang dada agar setiap orang dapat bijaksana ketika diuji.

Berangkat dari ekosistem budaya yang ada di kampung halamannya, Budi mengaku ingin peninggalan para pendahulu tersebut turut memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Maka dari itu, ia selalu membuat lukisan ini karena selain untuk memenuhi hasrat estetis, ia juga ingin memenuhi hasrat ekonomis.

Beberapa warga di Dusun Tapan, dewasa ini juga bersedia menerima pesanan dari berbagai daerah untuk membuat pakaian, kuda lumping, atau barongan untuk kesenian reog. Melalui cara-cara seperti itulah, menurut Budi, situs Mbah Gilang, Reog Kandang, dan berbagai macam produk kesenian lainya turut menghidupi masyarakat di Desa Tapan.

“Ke depan kita juga ingin memiliki balai budaya. Saya pikir, dengan seperti itu kita semua dapat menampung berbagai macam kesenian yang diproduksi warga. Selain itu, harapannya pada masa yang akan datang, kalau sewaktu-waktu ada wisatawan domestik atau mancanegara yang ingin mampir ke Tulungagung, mereka bisa mampir terlebih dahulu ke desa kami untuk menyaksikan dan mengapresiasi, atau juga bisa membeli berbagai barang kerajin­an yang kami produksi,” tutur Budi. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More