Minggu 03 November 2019, 05:30 WIB

Sang Badranaya

Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia | Weekend
Sang Badranaya

MI/Ebet
Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia

KINI politik di negeri ini tidak lagi hanya menyandang embel-embel dinamis dan cair, tetapi juga emboh alias sulit dipahami. Ini terkait dengan langkah kompetitor pilpres yang kalah lalu menyeberang dan bergabung dengan pemenang (pemerintah).

Realitas politik itu dinilai berkonsekuensi tidak adanya ‘oposisi’ kuat yang mengontrol pemerintah. Tidak ada mekanisme checks and balances. Hal ini dianggap tidak baik dalam demokrasi. Pemerintah akan sangat dominan sehingga dikhawatirkan terjerumus ke otoritarian.

Terkait dengan hal itu, ada cerita menarik dalam dunia wayang. Meski ceritanya sekitar kekuasaan monarki absolut, tetapi ternyata masih ada kontrol terhadap pemerintahannya. Pengontrolnya itu ialah Semar Badranaya.     

Memberi pencerahan

Dalam seni pedalangan, Semar ialah tokoh sentral panakawan. Ia disanggitkan sebagai dewa yang mengejawantah di marcapada, yang bertanggung jawab memomong kesatria. Semar, dalam mengemban tugasnya, ditemani tiga putranya, Gareng, Peruk, dan Bagong.

Ada sejumlah versi yang menceritakan asal-usul Semar, di antaranya Semar disebut sebagai putra Sanghyang Tunggal yang tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir. Semar lahir dari sebutir telur.

Menurut kisahnya, suatu ketika Sanghyang Tunggal memuja sebuah telur ajaib yang memancarkan sinar menyilaukan. Gaibnya, telur itu lalu pecah menjadi tiga bagian yang kemudian masing-masing menjelma anak. Yang dari kulit luar dinamai Antaga, dari putih telur (albumen) diberi nama Ismaya, dan yang dari kuning telur diberi nama Manikmaya.

Ketika dewasa, Manikmaya menjadi raja di Kahyangan Jonggring Saloka, sedangkan Antaga dan Ismaya diperintahkan turun ke bumi. Antaga mendampingi kelompok ‘kiri’ atau jahat dengan nama Togog, Ismaya sebagai pamong golongan ‘kanan’ atau para kesatria dengan nama Semar.

Pada awalnya, Semar mengabdi kepada Resi Manumanasa, leluhur Pandawa. Namun, dalam pakeliran, Semar banyak diceritakan menjadi pamongnya Pandawa di Negara Amarta.

Sebagai pamong, Semar berjasa besar membentuk karakter para ndara-nya, Pandawa hingga anak dan cucu-cucunya. Banyak kendala dan lika-liku yang dihadapi. Namun, Semar tidak pernah mundur dari misi utamanya membentuk para kesatria berkarakter luhur dan mulia.

Semar menyertai Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) hidup laralapa (prihatin) sejak terusir dari Istana Astina. Rumah mereka sekaligus tempat lahir yang merupakan warisan bapaknya (Pandudewanata) dirampas Kurawa, saudara sepupu mereka sendiri. Pandawa menjadi hidup berpindah-pindah dari hutan satu ke hutan lain.

Ketika mengarungi hidup yang penuh kepahitan itu, Semar senantiasa memberikan pencerahan. Ia membimbing dan menuntun Pandawa, cucu Begawan Abiyasa, untuk selalu teguh di jalan keutamaan.

Puncaknya, Semar ikut mengantarkan Pandawa mendirikan istana yang dinamakan Indraprastha atau Amarta. Tempat tinggal yang kemudian berkembang menjadi negara makmur itu berdiri di atas lahan bernama Wanamarta, yang sebelumnya berupa hutan belantara.

Ketika Pandawa hidup mapan dan berada di istana serta memegang tampuk pemerintahan negara, Semar memilih tinggal di Klampisireng, dusun terpencil jauh dari kota. Dari rumahnya nan sederhana, Semar meneropong jalannya pemerintahan Pandawa. Ia tidak segan-segan menginterupsi dan meluruskan momongannya ketika melenceng.

Melupakan Semar

Pada suatu masa, Amarta sedang dilanda paceklik dan pagebluk multidimensi. Selain mahalnya kebutuhan sandang-pangan-papan, rakyat banyak yang menderita sakit dan tidak mampu berobat. Kriminalitas dan kejahatan pun subur terjadi di mana-mana.

Pada bagian lain, para elite melenggang dengan nafsu serakah mereka sendiri-sendiri. Berebut kekuasaan dan memperkaya diri dengan cara-cara rekayasa. Mereka memuaskan diri dengan hidup berfoya-foya.

Sebagai pemimpin, Puntadewa memohon pertolongan Sanghyang Manon. Siang-malam ia bermunajat di sanggar pamujan, mengiba petunjuk dari Sang Mahaadil untuk pulihnya Amarta yang tenteram dan adil-makmur.

Puntadewa mendapat bisikan gaib bahwa yang bisa mengembalikan ketenteraman Amarta ialah Semar. Ketika itu Puntadewa langsung tercenung. Ia baru sadar dan menyesali bahwa memang sudah sekian lama Pandawa melupakan Semar. Ia lalu mengutus nayaka praja mengundang Semar agar datang ke istana Amarta.

Singkat cerita sampailah Semar di istana Amarta. Ketiga anaknya tidak mengikuti masuk ke sitihinggil. Mereka memilih istirahat di bawah pohon beringin yang tumbuh rindang di tengah alun-alun.

Semar duduk bersila di depan sang raja dan menghaturkan salim taklim. Tidak lupa, Semar juga menyampaikan salam kepada semua yang hadir dalam kesempatan tersebut, termasuk Prabu Kresna, kakak sepupu Pandawa yang juga raja Dwarawati. Lalu, ia memohon dhawuh (sabda) raja.

Puntadewa meminta maaf kepada Semar karena sudah sekian lama Pandawa melupakannya. Ia meminta saran Semar untuk memulihkan Amarta yang sedang dilanda bebendu (kutukan). Amarta di ambang kehancuran.

Semar mesem sambil manggut-manggut. Sesaat kemudian Semar mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya sudah lama merasakan keprihatinan yang mendalam atas rusaknya bangsa dan negara Amarta.

Menurut Semar, Amarta yang serbakacau itu karena Pandawa sedang kehilangan jimat Kalimasada. Maksudnya, semua pemimpin tidak amanah, lupa daratan. Elite asyik dengan kehidupannya sendiri. Tidak ada keteladanan bagi rakyat. Untuk memulihkannya, semua harus bersama-sama menemukan Kalimasada, kembali ke fitrahnya.

Rakyat jadi oposisi

Hikmah dari kisah itu ialah Semar menjadi representasi rakyat yang melakukan mekanisme kontrol kepada Pandawa yang dalam pemerintahannya melenceng. Pandawa lupa bahwa tujuan membangun negara untuk membawa  rakyat hidup adil-makmur, sejahtera, ayem-tenteram.

Secara etimologi, Semar berarti penuntun makna kehidupan. Semar juga bernama Badranaya. Badra dari kata bebadra yang artinya membangun, sedangkan naya dari kata nayaka, yang artinya utusan. Arti bebas Badranaya ialah utusan mahakuasa yang membangun manusia mencapai kesejahteraan.

Konteks dengan situasi kebangsaan saat ini, meski secara resmi di parlemen tidak ada kekuatan signifikan untuk mengontrol jalannya pemerintahan, bukan berarti tidak ada checks-balances. Rakyat bisa menjadi ‘oposisi’, seperti sang Badranaya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More