Minggu 03 November 2019, 04:00 WIB

Goresan Indonesia di Tangan Henk Ngantung

Try/M-4 | Weekend
Goresan Indonesia di Tangan Henk Ngantung

MI/FATHIA NURUL HAQ
Lukisan karya Henk Ngantung.

SKETSA-SKETSA seperti potret realitas zaman Hindia Belanda yang bercerita mengenai tentara PETA semasa pendudukan Jepang sampai Perundingan Linggarjati (1946) dipampang pada muka ruang peran seni rupa Museum Seni Rupa Indonesia, Kota dan Perubahannya.

Lukisan itu berjumlah sekitar 20 yang dibuat dengan teknik pensil di atas kertas. Semuanya merupakan karya Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau akrab dengan sebutan Henk Ngantung (1921-1991) yang dikumpulkan sejak 1930-an.

Pada tiap garis sketsa, dia mendokumentasikan peristiwa penting dalam sejarah nasional denga gaya mooi indie. Dia melukis sosok yang berperan penting masa perjuangan kemerdekaan, antara lain sketsa gestur Presiden Soekarno saat melakukan pertemuan, sketsa diskusi antara Bung Ketjil (Sutan Syahrir) dan Van Mook (Hubertus Johannes van Mook (Van Mook), yang secara de facto ialah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang terakhir yang menjabat setelah Jepang menguasai Hindia Belanda.

Beberapa lukisan wajah sosok penting lainnya yang mengisi negara pascakemerdekaan, antara lain AR Baswedan, Hadji Agoes Salim, Dr Leimena, dan AK Gani. Tidak ke­tinggalan, ditampilkan juga sketsa patung di Lapangan Banteng atau patung Pembebasan Irian Barat. Saat itu geliat nasionalisme lagi giat-giatnya dan Soekarno gemar membuat landmark Kota Jakarta.

Gelanggang Seniman Merdeka

Henk Ngantung, Pria kota Manado Sulawesi Utara ini telah aktif melukis dan berpameran. Namanya muncul di beberapa surat kabar umum yang terbit di Hindia Belanda. la terus bekerja sebagai pelukis di masa Jepang dan kemerdekaan.

Salah satu lukisan terkenalnya, Memanah, yang ia buat di masa Jepang sering muncul dalam dokumen foto-foto perjuangan kemerdekaan.

Lukisan itu terpajang di tembok menjadi latar dan saksi berbagai peristiwa politik nasional yang penting dalam pendirian bangsa. Pada 1946, bersama Chairil Anwar, Rivai Apin, dan beberapa nama lain, Ngantung menggagas perkumpulan seniman Gelanggang Seniman Merdeka.

Beberapa tahun kemudian, ia bergabung ke Lembaga Kebudayaan Rakyat. Ngantung dikenal tidak hanya sebagai pelukis, tetapi juga ­aktivitas struktural sebagai Gubernur DKI-Jakarta (1964-1965).

Selain momen bersejarah nasional, dalam ruangan tersebut juga menampilkan lukisan Ngantung yang bertema sosial dengan pengemudi becak dan pedagang keliling sebagai objeknya. Dalam lukisan, Ngantung ingin merasakan bagaimana masyarakat kelas bawah bekerja keras menyambung hidup di Kota Jakarta. Di lukisan itu ia juga ingin memperlihatkan simpatinya kepada mereka.

Kurator pameran Sally Texania Marita Joesoef mengatakan pameran Lini Narasi Baru ingin menampilkan koleksi dari Museum Seni Rupa dan Keramik. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 17 Oktober 2019 hingga 31 Januari 2020. Kegiatan pameran ini diadakan untuk menandai sebuah langkah baru dalam mendidik para pengunjung untuk mengapresiasi berbagai nilai sejarah yang terkandung dalam Museum Seni Rupa Jakarta, sekaligus memberikan pengalaman bereksplorasi yang berbeda dari sebelumnya.

“Pada ruang pameran, pengunjung dapat melihat sejarah seni rupa Indonesia dari masa perjuangan kemerdekaan hingga periode Orde Baru,” jelas Sally, Rabu (23/10).

Memang kekhasan dari koleksi kali ini yang ingin ditonjolkan salah satunya ialah ruang Henk Ngantung. Di sini terdapat irisan praktik seni rupa dan pembangunan kota yang mana diperlihatkan beberapa dokumentasi peristiwa Linggarjati dalam bentuk sketsa. “Baru kemudian kita masuk ke ruang-ruang narasi utama yang menunjukkan sejarah seni rupa Indonesia,” jelas Sally.

Rentang waktu lukisannya, kata Sally, sejak periode Raden Saleh 1880 hingga periode 2000-an. Sekitar 40 perupa terlibat dipamerkan karyanya dalam pameran ini, antara lain karya Basuki Abdullah, Mochtar Apin, S Sudjono yang bercerita mengenai angkatan ‘66,  Harijadi Sumadidjaja, Itji Tarmizi, Sapto Hudoyo, Amri Yahya, Abas Alibasyah, Soedibio, dan masih banyak lagi.

Bersampingan dengan area lukisan Ngantung, dipamerkan lukisan karya Dede Eri Supria dengan lukisan Kota Urban. Sejak 1970-an, sebagai pelukis muda, Dede Eri Supria dikenal karena kemampuannya melukis dengan teknik realis.

Dia menghasilkan lukisan-lukisan yang mudah dipahami pemirsa. Meskipun demikian, lukisan Supria menyimpan pesan mendalam tentang dinamika kehidupan di kota besar, khususnya Jakarta. (Try/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More