Minggu 03 November 2019, 03:00 WIB

Menjaga Sinergi dan Harmoni

Adang Iskandar, Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Menjaga Sinergi dan Harmoni

Dok. Pribadi
Adang Iskandar, Redaktur Bahasa Media Indonesia

TAHAPAN pesta demokrasi lima tahunan telah usai. Hasilnya, DPR dan pemerintahan baru pun terbentuk. Di lembaga eksekutif, Presiden Joko Widodo telah membentuk Kabinet Indonesia Maju. Meski ada pro-kontra, susunan kabinet di periode keduanya ini mencerminkan keinginan untuk lebih mengutamakan kepentingan bangsa.

Kesediaan Prabowo Subianto menjadi menteri pertahanan untuk membantu Presiden Jokowi menunjukkan jiwa besar keduanya untuk menyampingkan ego masing-masing demi keutuhan bangsa dan negara.

Seperti diketahui, Pilpres 2014 dan 2019 lalu mempertontonkan dikotomi yang sangat mengkhawatir­kan antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Namun, dengan adanya sinergi di antara kedua tokoh besar itu diharapkan muruah untuk tetap menjaga kebersamaan kembali tertanam. Kuncinya ialah tetap menjaga sinergi dan harmoni di antara sesama anak bangsa.       

Dalam konteks kebahasaan, kata sinergi dan harmoni ternyata perlu juga dikawal agar tidak ‘dirusak’ oleh para penggunanya. Dalam berbagai kesempatan, saya sering mendengar dan melihat, kedua kata itu ‘diselewengkan’, terutama terkait dengan penggunaan akhiran -itas di belakang kedua kata itu. Akhiran -itas ialah bentuk kaidah penyerapan dari kata asing yang berakhiran dengan -ity (bahasa ­Inggris). Artinya, semua kata bahasa Indonesia yang berakhiran dengan akhiran -itas merupakan serapan dari bahasa asing. Contohnya, kata selebritas, komunitas, dan kreativitas dari bahasa Inggris celebrity, comunity, dan creativity.     

Kali ini, saya ingin mengutip ucapan salah satu menteri Kabinet Indonesia Maju baru-baru ini. “Ini harus menjadi bagian sinergitas yang tidak hanya antarkementerian, tapi juga....”   
Saya pun menggarisbawahi penggunaan kata sinergitas dalam ucap­an sang menteri itu. Mungkin, sepintas kita bisa menebak bahwa kata ini ialah bentukan dari sinergi ditambah akhiran -itas.

Baik, mari kita uji. Apakah ada kata synergity (bahasa Inggris) yang mendasari kata sinergitas itu? Pene­lusuran di kamus bahasa Inggris tidak ditemukan kata synergity. Lalu saya melongok Kamus Besar Bahasa Indonesia, tak tersua pula kata sinergitas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sinergitas ialah kata yang terbentuk akibat kelatahan sebagian orang dalam pemakaian akhiran -itas. Tentu kata ini tertolak secara kaidah bahasa mana pun. Padahal, penggunaan kata sinergi saja sudah tepat dalam konteks ucapan si menteri itu, tak perlu ditambahkan akhiran -itas.  

Demikian pula dengan kata harmonitas yang meluncur dari mulut pimpinan DPR setelah pelantikan presiden dan wakil presiden beberapa waktu lalu. Berikut kutipannya. “Prinsipnya adalah kita harus menjaga harmonitas yang ada di DPR....”

Sepintas kata harmonitas dalam ucapan pimpinan dewan itu ialah serapan dari kata bahasa Inggris harmonity. Ternyata dalam berbagai kamus bahasa Inggris itu pun tidak ditemukan kata harmonity. Jadi, kata harmonitas juga merupakan produk dari kelatahan, terutama di kalangan elite politik negeri ini. Entah karena mereka memang tidak tahu atau cuma ingin terkesan intelek walaupun salah.

Tentu bukan hanya kata sinergitas dan harmonitas, banyak pula deviasi kata lain yang diproduksi para elite politik. Jangan sampai kita membiarkan penyimpangan kata seperti itu dan akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Menjadi tugas para jurnalis pula untuk menyaring kata-kata ‘menyimpang’ yang tercetus dari para elite politik negeri ini.   

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More