Minggu 03 November 2019, 00:20 WIB

Desisan yang Menggoda

Suryani Wandari Putri | Weekend
Desisan yang Menggoda

MI/SUMARYANTO BRONTO
Oishii steak dan 3 bumbu khas J.Setak.

API seketika membubung tinggi di atas pan panas setelah daging sapi dimasukkan. Percikan minyak menyentuh api di atas kompor yang memantiknya.

Teknik searing atau menggoreng daging dengan sedikit minyak itu menjadi pertunjukan menarik bagi beberapa pengunjung. Pasalnya, dapur restoran ini sengaja dibuka agar pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan steik dari daging yang dipesan.

“Biasanya saat datang, pengunjung memesan jenis daging dan beratnya. Kami langsung potong, ditimbang, dan langsung diproses sehingga pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan sebelum tersaji ke hadapannya,” kata Dhitya, salah satu owner J.Steak Meat Eaters Ville, Jakarta, Jumat (4/10).

Proses memasak ini penting diketahui pengunjung, lanjut Dhitya, sebagai kunci kesuksesan hidangan mereka. “Daging kami tak melalui marinade atau marinasi yang direndam dengan bumbu, kami pakai garam saja,” ungkap Dhitya.

Saat berkunjung ke J.Steak, Media Indonesia memilih potongan daging rib eye dengan berat 170 gram. Setelah ditaburi garam, daging di-sear beberapa detik, lalu dipindahkan ke grill guna mencapai kematangan medium dan memberikan warna yang pas.

Tak sampai 15 menit, steik ala Jepang bernama Oishii ini hadir di meja dengan suara mendesis dan asap membumbung disertai aroma yang menggiurkan. Disajikan di atas hot plate, daging diberikan taburan irisan bawang bombai, potongan jagung bakar, dan irisan wortel rebus guna menambah cita rasa dari daging tersebut.

Restoran ini menyediakan tiga jenis bumbu pelengkap yang disediakan di setiap meja. Ketiga bumbu ini diracik khusus oleh para pemiliknya, di antaranya desainer Didiet Maulana dan selebritas Uya Kuya.

Rasa manis dan gurih dari bawang putih menjadi ciri khas bumbu J.Steak Spesial. Selain itu, ada Negigo yang kuat rasa wijen. Terakhir ialah Wasabi Glaze yang manis khas teriyaki bercampur aroma segar dari wasabi.

“Bumbu ini bisa jadi cocolan, bisa juga disiram langsung ke steiknya hingga rasanya bisa menyatu. Yang terpenting sebelum menyantapnya, lebih baik cium aromanya terlebih dahulu,” ucapnya lagi.

J. Steak memang ingin mengedukasi penikmatnya untuk tidak hanya asal makan, tetapi melibatkan indra penciuman saat makan. Pasalnya, aroma dari makanan akan lebih meningkatkan kelezatan bersantap.

Daging

Di restoran ini tersedia enam jenis hidangan dari tiga jenis potongan daging. Selain Oishi dengan pilihan potongan daging rib eye, ada ichiban dengan potongan daging tenderloin asal Australia. Daging dengan potongan ini memiliki serat, tapi tidak ada lemak.

Sementara itu, Meatville menggunakan daging striploin Australia yang memiliki tekstur lebih firm. Ada pula Kia Ora dengan potongan sirloin asal Selandia Baru dan J Steak untuk daging sapi lokal. Terakhir ialah Teppan Gohan, yaitu steak yang sudah dipotong-potong disajikan dengan nasi dan omelet.

Setelah menentukan jenis makanan yang ingin disantap, pe­ngunjung bisa memilih berat da­ging. Lalu jangan lupa beri tahu tingkat kematangan daging yang diinginkan.

“Harga di menu adalah untuk per gram, jadi pengunjung bisa bayar dengan berat yang ia pesan, tapi minimal 150 gram. Langsung dipotong ketika memesan,” lanjut Dhitya.

Harga per gram ini tentu disesuaikan dengan tingkat kelezatan da­gingnya, seperti tenderloin dibandrol Rp1.850 per gramnya, sedangkan daging sapi lokal dibandrol Rp475 per gram.

Tambahan nasi

Saat di sini juga jangan lupa menyantap Teppan Gohan. Hidangan ini sebenarnya masih menggunakan daging sebagai signature-nya, tetapi dalam bentuk sedikit berbeda. Jika steik dipesan sesuai berat gram, menu ini dibandrol Rp130 ribu dalam satu porsi.

Dagingnya telah dipotong dadu dan dimasak sekaligus dengan bumbu pilihan pemesan dari tiga bumbu yang tadi. Media Indonesia memilih bumbu J.Steak Spesial untuk bumbu daging Teppan Gohan. Benar saja wangi bawang putih langsung menyeruak ke dalam hidung saat disajikan ke meja.

Rasanya tentu tak berbanding jauh, uniknya khas bawang putih tak terlalu kuat. Rasa bawangnya justru gurih karena berpadu pula dengan bawang bombai yang dimasak bersama potongan daging.

Tak hanya daging, tampilannya tampak menarik, yang mana hot plate dilapisi telur omelet berwarna kuning yang menjadi alas daging dan nasi putih di atasnya. Hidangan modifikasi itu pun menurut owner sangat disukai pengunjung anak-anak.

Menu di J.Steak memang tak terlalu banyak, mengingat para owner memang lebih fokus pada kudapan daging yang memang lebih ingin mengenalkan steik ala Jepang ke masyarakat Indonesia. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More