Sabtu 02 November 2019, 23:20 WIB

Tenun dan Batik untuk Jiwa Muda

Suryani Wandari | Weekend
Tenun dan Batik untuk Jiwa Muda

FOTO-FOTO: DOK IMAGE.NET/JAKARTA FASHION WEEK
Peragaan busana dari kain tenun dan batik di Jakarta Fa­­­­shion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta.

GAUN panjang berpinggang tinggi dan rok semibalon itu berkesan romantis etnik, tapi juga seksi dan edgy. Itu karena material kain tenun bernuansa ungu pada bagian rok dan cut-out pada bagian dada.

Kesan muda makin kuat dengan hiasan kepala berupa rangkaian bola-bola warna-warni yang mengingatkan akan penari Betawi.

Itulah salah satu busana koleksi desainer Defrico Audy dalam peragaan di Jakarta Fa­­­­shion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta, Selasa (22/10). Meski hiasan kepala tadi mengingatkan pada budaya Betawi, sesungguhnya keindahan budaya yang ingin ditonjolkan Defrico berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai dengan kerja samanya dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT untuk koleksi dan peragaan itu.

Hiasan kepala yang girly ialah salah satu cara menguatkan kesan muda dari koleksi itu. Seperti disampaikan Defrico, potongan yang ia pilih sengaja kekinian karena sasaran pasar yang merupakan segmen anak muda.

Pada 19 set busana lainnya yang ia keluarkan, napas serupa juga terlihat, baik dalam gaun koktail, gaun dengan outer panjang, maupun jumpsuit. Defrico bahkan tidak ragu mengeluarkan gaun yang lebih playful, tapi juga berisiko, yakni gaun dua sisi yang menampilkan dress selutut di satu sisi dan gaun panjang di sisi yang lain. Kain tenun tampil menyeluruh pada bagian gaun yang panjang.

Defrico menjelaskan kain-kain yang ia gunakan meliputi tenun ikat, buna, dan sotis. Sesuai namanya, tenun ikat dibuat dengan cara mengikat benang sebelum ditenun. Kain dengan ikatan itu dicelupkan pada zat pewarna.

Tenun buna dibuat dengan cara terlebih dulu mencelup benang yang akan ditenun. Sementara itu, tenun sotis bisa dikatakan paling rumit karena mencakup teknik menenun dan menyulam beberapa motif. Dalam satu kain akan terlihat motif seperti tiga dimensi karena ada jahitan yang timbul.

Tak hanya koleksi Defrico, dalam peragaan itu juga ditampilkan 30 koleksi dari tujuh desainer lokal NTT.  Mereka ialah Noverda Tse, Alex Lajar, Jey Tallo, Victor Dino, Nur Ayu Widyaningtyas, Atiq Sikka, dan Liliana Maria Tuames.

Batik

Pada peragaan lainnya di JFW 2020, Alleira menampilkan batik yang bergaya muda. Gaya itu bukan lewat warna mencolok, melainkan potongan yang santai dan bebas.

Chief Operating Officer Alleira, Zakaria Hamzah mengungkapkan motif batik yang digunakan berasal dari Tanah Liek, Padang.  “Siluetnya dibikin bebas agar masuk pada market anak muda dengan maxi dress, oversize dengan tunik yang bisa dipakai saat berhijab maupun tidak (modest),” kata Zakaria kepada Media Indonesia.

Kali ini Alleira pun seperti keluar dari zona nyamannya, yang biasanya menggunakan satu motif dalam artikel, kini mereka menabrakkan dua hingga tiga motif berbeda warna pada satu tampilan seperti gaun, long outer, kemeja, hingga celana pensil.

“Ya, karena kami lebih menonjolkan motifnya, dibuat satu tampilan menggunakan hingga tiga motif sekaligus karena menurut kami batik ini memiliki keunikan dalam hal motifnya seperti rumah gadang, pakis, hingga bunga,” pungkasnya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More