Sabtu 02 November 2019, 23:00 WIB

Meniti Jejak Histori di Sarajevo

Patna Budi Utami | Weekend
Meniti Jejak Histori di Sarajevo

MI/Patna Budi Utami
Seperti halnya tempat bersejarah lainnya, jembatan yang memiliki panjang sekitar 20 meter itu pun ramai oleh wisatawan.

HIJAUNYA puncak pegunungan yang me­ngelilingi Kota Sarajevo terlihat menyembul di antara hamparan awan putih yang menutupi langit kota. Pemandangan cantik yang bisa dilihat dari jendela pesawat di ketinggian itu menyambut beberapa menit sebelum roda pesawat menyentuh landasan bandara ibu kota Bosnia dan Herzegovina pagi itu.

Letak Kota Sarajevo yang berada di tengah pegunungan membuat udaranya menjadi lebih sejuk ketimbang daerah lainnya di negeri pecahan Yugoslavia tersebut. Tidak mengherankan jika suatu pagi temperatur berada di angka 9 derajat Celsius, kendati jam telah menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat di penghujung musim panas, akhir September lalu.

Penduduk yang tinggal di dataran yang lebih tinggi dari pusat kota seolah bisa menggapai awan putih yang menyelimuti.

Perjalanan di negeri berpenduduk sekitar 3,8 juta itu dimulai dengan menyusuri Kota Sarajevo, kota yang pernah porak poranda oleh perang antara 1992-1995. Sisa-sisa perang masih terlihat di beberapa tempat, dengan adanya puing bangunan dan dinding bangunan yang penuh lubang akibat gempuran senjata api.

Beberapa jejak perang yang di­sertai pembantaian 8.372 penduduk muslim Bosnia oleh Tentara Serbia pimpinan Jenderal Ratko Mladic itu sengaja dibiarkan sebagai monumen bahwa negeri itu memiliki sejarah kelam. Namun, secara umum, Kota Sarajevo dan Bosnia secara keseluruhan, kini telah menjelma menjadi negeri yang banyak diminati wisatawan dari berbagai negeri. Tidak mengherankan bila di sejumlah tempat tujuan utama wisata, terlihat banyak rombongan turis hilir mudik bersama pemandu mereka masing-masing. Kota Sarajevo telah menjadi kota layaknya negara Eropa lainnya. Gedung-gedung menjulang tinggi, deretan butik produk Eropa Barat, dan kafe-kafe yang selalu ramai pengunjung membuat lupa bahwa negeri ini pernah digempur dan hancur.

Kota tua Bascarsija

Salah satu tempat favorit para wisatawan yang merupakan kota khas Bosnia ialah ‘kota tua’ Bascarsija. Kawasan ini dipenuhi toko-toko suvenir dan kedai kopi. Kesukaan penduduk Bosnia menyeruput kopi membuat hampir seluruh kedai di Bascarsija yang menyediakan meja di luar kafe selalu penuh ­pengunjung. Mereka berbaur dengan wisatawan yang juga punya kesukaan yang sama.

Bagi mereka yang bukan penyuka kopi, kedai-kedai itu juga menyediakan teh, cokelat panas, jus buah segar, dan aneka minuman lainnya. Secangkir kopi dan minuman lainnya, harganya rata-rata sekitar 3 mark Bosna. Satu mark Bosna berkisar Rp8.500.

Di antara aroma kopi yang me­nguar, tercium juga kuliner khas salah satu negeri di Semenanjung Balkan tersebut, yakni burek. Burek ialah roti dengan aneka isi, antara lain keju, bayam, dan daging giling. Rasanya? Sangat lezat! Apalagi selalu disajikan dalam kondisi panas karena dibuat sesuai pesanan. Selain disajikan di restoran yang berbaur dengan deretan kedai kopi, burek juga dijual di toko roti atau pekara dalam bahasa Bosnia.

Sementara itu, toko suvenir selain menjual cendera mata berupa t-shirt dan magnet untuk ditempel di pintu lemari es, lebih banyak lagi menjual perangkat minum kopi. Perlengkap­an minum kopi khas Bosnia yang terbuat dari logam terdiri dari satu ceret kecil mirip dandang bergagang panjang dilengkapi cangkir kecil tanpa gagang.

Setiap set ada yang terdiri dari satu ceret dan dua cangkir, satu ceret dan empat cangkir, bahkan  ada pula yang dilengkapi dengan wadah gula. Harganya berkisar 20 mark hingga 60 mark Bosnia per set.

Bascarsija yang dibangunan pada 1462, oleh Jenderal Ottoman ­bernama Isa-Beg Ishakovic merupakan landmark paling terkenal di Kota Sarajevo, juga sekaligus ­menjadi tempat utama untuk berkumpul serta sebagai sentra suvenir khas Bosnia.

Di tengah Bascarsija, terdapat air mancur ikonik ala Ottoman yang disebut Sebilj, yakni air mancur dengan bangunan dari kayu yang dibangun Mehmed Pasha Kukavica pada 1753. Wisatawan mana pun selalu menyempatkan diri berfoto di sekitar Sebilj. Alhasil, lokasi itu tidak pernah sepi sepanjang hari hingga tengah malam.   

Di salah satu sisi, Sebilj terdapat ribuan merpati yang beterbangan dan menjadi tempat favorit berikutnya untuk berfoto. Untuk memudahkan mengundang merpati agar mendekat, di lokasi juga terdapat penjual pakan burung seharga 1 mark Bosnia per kantung. Kita bisa membeli dan menebarkannya agar gerombolan merpati mengerubuti dan menjadi momentum menarik untuk berfoto.

Ferhadija nan modern

Puas menikmati Bascarsija dengan eksotisme, sejarah, dan keramaiannya, kita bisa melewati sisi lain Bascarsija yang jauh berbeda, yakni sepanjang Jalan Ferhadija. Di jalan ini berderet bank, toko-toko dalam gedung megah, butik, rumah makan internasional, dan hotel mewah.

Di ujung Jalan Ferhadija juga terdapat api abadi. Api yang menyala di tengah ring warna hijau itu ditempatkan di depan monumen dengan dinding berbentuk melengkung. Monumen tersebut diperuntukkan bagi para pahlawan pembebas ­Sarajevo pada Perang Dunia II menjelang terbentuknya Yugoslavia, meskipun kemudian pada 1990-an, Yugoslavia akhirnya terpecah menjadi sejumlah negara yang terdiri dari Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia dan Herzegovina, Montenegro, Masedonia, serta dua daerah otonom yang menjadi bagian Serbia; Kosovo dan Vojvodina.

Pada siang hari, api yang tidak pernah padam itu banyak dikunjungi wisatawan untuk berfoto, sedangkan malam hari, pengunjung tidak hanya datang untuk sekadar mengabadikan nyala api di pusat kota yang ramai pengunjung pusat perbelanjaan sekitarnya, tetapi juga untuk menghangatkan diri.

Meski suasana sebagian besar pusat Kota Sarajevo kini mulai terasa seperti halnya negara-negara Eropa Barat, pada saat tiba waktu salat akan terdengar azan berkumandang dari sejumlah sudut kota. Sebab, sebagian besar penduduk Bosnia dan Herzegovina beragama Islam sehingga banyak masjid di kota tersebut.

Di sekitar Bascarsija terdapat Masjid Gazi Husrev-Beg atau Masjid Beg yang dibangun pada abad ke-16. Di sudut kota lainnya ada juga Masjid Ali Pasha 1561–1562, yang dibangun Hadim Ali Pasha, Gubernur Emperium Usmaniah Wilayah Distrik Budapest dan Bosnia Pashaluk sebagai wakaf abadi.

Bahkan, di Sarajevo juga terdapat Masjid Istiklal yang dibangun pemerintah Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Mesjid yang terdiri dari dua lantai itu merupakan hadiah dari masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina sebagai tanda solidaritas dan persahabatan antara kedua negara. Bagian lantai dasar mesjid diperuntukkan bagi jemaah laki-laki, dan lantai atas untuk jemaah perempuan.

Masjid berukuran total sekitar 840 meter persegi yang bercat biru muda dengan kombinasi putih itu, berdiri megah di atas lahan 2.800 meter persegi sehingga memiliki halaman yang luas. Sekelilingnya tumbuh pohon-pohon peneduh serta ditanami aneka bunga.

Bagian depan Masjid Istiklal atau Istiklal Dzamija dilengkapi dengan dua menara yang mengapit pintu masuk utama. Kedua menara tersebut merupakan lambang persahabatan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina.

Miljacka pembelah kota

Berkeliling Kota Sarajevo tidak afdal jika tidak menyusuri jalan sepanjang tepian Sungai Miljacka, yang membelah kota tersebut. Di sungai sepanjang 21 kilometer ­itulah terdapat banyak jembatan yang membentang di atasnya. ­Salah ­satunya ialah jembatan Latin atau Latin Bridge, yang letaknya dekat gedung Balai Kota yang hanya beberapa langkah dari kota tua Bascarsija.

Jembatan Latin selain merupakan jembatan tertua di antara jembatan lainnya, juga memiliki sejarah mengerikan. Sebab, di jembatan itulah  Pangeran Franz Ferdinand dari kerajaan Austria-Hungaria yang tengah berkunjung ke kota itu dibunuh bersama sang istri, Putri Sophie Cothek, oleh seorang ­aktivis kemerdekaan beretnik ­Serbia bernama Gavrilo Principe pada 28 Juni 1914. Peristiwa itulah yang kemudian memicu dimulainya Perang Dunia I.

Seperti halnya tempat bersejarah lainnya, jembatan yang memiliki panjang sekitar 20 meter itu pun ramai oleh wisatawan. Pada hari Minggu, di ujung jembatan biasanya ditempatkan replika mobil terbuka, seperti mobil yang ditum­pangi Pangeran Franz Ferdinand saat ditembak pembunuhnya.

Sambil menyusuri Sungai Miljacka pula kita bisa kembali menemukan saksi bisu dari perang yang mendera negeri seluas 51.129 km2 itu. Sebab, di tepian sungai itulah, di antara bangunan-bangunan cantik masih terlihat beberapa bangunan yang hancur akibat perang.

Seperti monumen perang lain di Sarajevo, bangunan tersebut bukan tidak sengaja teronggok begitu saja, tetapi memang sengaja tidak diperbaiki. Di sudut satu perempatan, umpama, terlihat bangunan berlantai empat dengan balkon-balkon dihiasi bunga segar. Namun, jika disimak, dinding balkon sarat dengan lubang bekas peluru. Ternyata, dinding luar apartemen itu pun juga sengaja tidak dipelester ulang untuk mengingatkan penduduk tentang masa lalu yang kelam sekaligus menyiratkan harapan agar perang tak terulang. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More