Sabtu 02 November 2019, 10:05 WIB

Koleksi Barang Milik Sri Sultan Hamengku Buwono I Dipamerkan

Agus Utantoro | Nusantara
Koleksi Barang Milik Sri Sultan Hamengku Buwono I Dipamerkan

MI/Agus Utantoro
Koleksi milik Sri Sultan Hamengku Buwono I yang dipamerkan di

 

BERSAMAAN tradisi Sekaten, Keraton Yogyakarta menggelar pameran di Kagungan Dalem Pagelaran dan Siti Hinggil Keraton Yogyakarta. Pameran yang menampilkan barang-barang miliki Sri Sultan Hamengku Buwono I itu akan dibuka hingga Sabtu (9/11) mendatang.

Wakil Ketua Panitia Pameran, GKR Bendoro, Jumat (1/11) mengatakan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Sekaten tahun 1953 Saka (Jawa) ini tidak diikuti dengan pasar malam di Alun Alun Utara sebagaimana biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

GKR Bendoro menjelaskan, tidak diadakannya pasar malam itu sebagai upaya untuk mengembalikan tradisi tersebut ke inti pokok Sekaten.

"Dhawuh Ngarso Dalem (perintah Sri Sultan) untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat inti dan pokok Sekaten bukan pasar malam, tapi Sekaten itu sendiri," kata Gusti Kangjeng Ratu Bendoro.

Namun pada Sekaten tahun ini, Keraton Yogyakarta menggelar pameran yang menghadirkan tema besar tentang Sri Sultan Hamengku Buwono I.

"Untuk tahun ini kami mendedikasikan pameran Sekaten untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I," jelasnya.

Menurut Gusti Kangjeng Ratu Bendoro, sejarah panjang dari perjuangan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, Keraton Yogyakarta mencoba menggelar pameran tematik perdana dengan tema 'Sri Sultan
Hamengku Buwono I: Menghadang Gelombang, Menantang Zaman'.

Menurut GKR Bendoro, lewat pameran ini, masyarakat diajak untuk menafsirkan sejarah Pangeran Mangkubumi melalui berbagai karya budayanya.

"Ada biografi tentang beliau Sri Sultan Hamengku Buwono I dan bagaimana perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I  dalam membangun Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat," katanya.

Dalam pameran itu, terdapat kitab Babad Nyagogyakarta dan tandu Kangjeng Kyai Tandhu Lawak. Tandu Kangjeng Kyai Tandhu Lawak merupakan tandu tertua di Keraton Yogyakarta.

Tandu ini selalu digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika akan beraktivitas di luar keraton khususnya untuk melaksanakan solat jumat di Masjid Gede para era setelah 1790. Tandu ini diusung oleh empat orang di depan dan empat orang di belakang serta diikuti abdi dalem pembawa payung dan abdi dalem pembawa sapu.

Di sisi lain, kitab Babad Ngayogyakarta, menceritakan sejarah Yogyakarta  mulai dari Perjanjian Gianti (Palihan Nagari) 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.

Dalam manuskrip tersebut dijelaskan pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) hingga jatuhnya Keraton Yogyakarta ke tangan Inggris (1812) pada peristiwa Geger Sepehi (Perang Sepoy). (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More