Sabtu 02 November 2019, 08:15 WIB

Hanya Ada Satu Borussia

Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Sepak Bola
Hanya Ada Satu Borussia

Seno
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

 

DI tengah kompetisi Liga Eropa yang menjemukan karena memunculkan tim yang itu-itu saja, kompetisi Bundesliga musim ini menyuguhkan persaingan yang sangat menarik. Raksasa lama sepak bola Jerman muncul kembali sebagai kekuatan yang pantas diperhitungkan.

Sampai sembilan pertandingan yang sudah dimainkan, Borussia Moenchengladbach mampu duduk di puncak klasemen mengungguli klub raksasa seperti Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund. Marco Rose pun mulai dipandang sebagai pelatih bertangan dingin. Setelah dua musim berturut-turut membawa Red Bull Salzburg menjuarai Liga Austria dan merebut Piala Austria, Rose ‘pulang kampung’ untuk membangun kembali kebesaran klub yang dijuluki Die Fohlen (‘Anak Kuda’).

“Kalau ada orang yang ikut membentuk saya seperti sekarang, dia ialah (pelatih Liverpool) Juergen Klopp. Saat saya masih bermain di Mainz, dialah pelatih yang banyak memberikan pelajaran berharga kepada saya, terutama bagaimana cara berkomunikasi dengan pemain,” ujar Rose jujur.

Klopp tidak merasa heran apabila Rose akan bisa menjadi pelatih yang hebat. Saat ia menangani Mainz, Rose sebenarnya lebih banyak ia tempatkan di bangku cadang­an. Namun, ketika waktu istirahat ataupun sesudah pertandingan, Rose pandai untuk menerjemahkan apa yang diinginkan dirinya dan memotivasi pemain yang lain.

“Saya sangat percaya kepada kemampuan Marco,” ucap Klopp tentang bekas anak asuhnya. “Marco akan mendapatkan pekerjaan di mana saja dan pasti bisa melaksanakannya. Sekarang dia merupakan pelatih yang paling banyak dibicarakan karena prestasi timnya yang luar biasa.”

Klopp mengaku masih sering berkomunikasi dengan Rose dan memuji apa yang sudah ia lakukan. Klopp tidak kaget apabila Die Fohlen sekarang bisa memimpin klasemen Bundesliga dan bukan mustahil apabila Rose kelak bisa membawa Moenchenglad­bach menjadi juara.

Hilang dari peredaran

Die Fohlen sebenarnya bukanlah klub kemarin sore. Mereka tidak hanya mempunyai tradisi yang panjang karena sudah berdiri sejak 1900, tetapi juga pernah menjadi kekuatan besar di persepakbolaan Jerman.

Ketika Bayern masih membangun dirinya, Moenchenglad­bach sudah menjadi raksasa. Di era 1970-1977, mereka lima kali menjuarai Bundesliga. Bahkan dua kali mereka tercatat sebagai juara Piala UEFA 1975 dan 1979. Sekali Die Fohlen sempat tampil di final Piala Champions 1977, tetapi dipaksa menyerah oleh Liverpool.

Tidak mengherankan apabila Die Fohlen pernah menjadi salah satu pilar kekuatan tim nasional Jerman di era 1970-an. Pemain belakang, yang mampu mematikan pergerakan bintang Belanda, Johan Cruyff, di final Piala Dunia 1974, ialah pemain asal Moenchengladbach, Berti Vogts. Dua gelandang Moenchengladbach yang juga menjadi pilar kekuatan Die Mannschaft di Piala Dunia 1974, yaitu Guenther Netzer dan Rainer Bonhof.

Era keemasan Die Fohlen ber­akhir ketika pelatih Hennes Weisweiler dikontrak oleh klub besar Spanyol, Barcelona. Namun, Moenchengladbach masih sempat melahirkan bintang besar sepak bola Jerman, seperti kapten kesebelasan dan bintang Piala Dunia 1990 Lothar Mathaeus dan bintang Piala Eropa 1996 Stefan Effenberg.

Setelah hampir tiga dekade tenggelam, sekarang Rose mencoba membangun kembali kebesaran itu. Ia jeli untuk menemukan pemain-pemain yang punya potensi besar, tetapi tidak terlihat di klub lamanya.

Rose mampu meyakinkan Direktur Olahraga Monchengladbach  Max Eberl untuk menginvestasikan kembali hasil penjualan Thorgan Hazard ke Dortmund.
Dengan dana 25 juta pound sterling, Rose mendatangkan tiga pemain baru, yaitu penyerang asal Swiss Breel Embolo, bek kiri asal Salzburg Stefan Lanier, dan putra bintang Piala Dunia Prancis Lilian Thuram yang bermain di klub Guingamp, Marcus Thuram.

Dengan penyerang asal Prancis Alassane Plea yang sudah bergabung sejak 2018, Rose kini mempunyai tiga penyerang yang bisa diandalkan. Thuram benar-benar menjadi tandem yang cocok bagi Plea yang sudah mencetak dan memberikan assist bagi terciptanya 24 gol Die Fohlen dalam 41 kali penampilannya di Bundesliga.

Embolo memainkan peran sebagai penyerang ketiga yang bergerak dari belakang. Kolumnis sepak bola Sam Planting menilai trio penyerang Die Fohlen ini sebagai barisan penyerang yang paling produktif di Bundesliga karena dari setiap 13 kali tendangan mereka ke gawang lawan pasti satu akan menghasilkan gol.

Seperti halnya Klopp yang menyukai pola dasar 4-3-3, Rose pun cenderung menerapkan pola yang dipakai ‘gurunya’ itu. Untuk menopang trio Thuram-Embolo-Plea di depan, ia memercayai dua pemain muda Florian Neuhaus dan pemain asal Slovakia Laszlo Benes sebagai gelandang menyerang. Adapun gelandang asal Swiss Denis Zakaria bertugas menjaga keseimbangan tim.

Ketiga gelandang itu bukan hanya memiliki kontrol bola yang baik, melainkan juga punya visi permainan kuat dan pandai menempatkan posisi baik ketika menyerang maupun saat bertahan. Ketiga pemain berusia 22 tahun itu pun memiliki kemampuan menggiring bola yang baik.

Belakang solid

Moenchengladbach bisa bermain agresif karena memiliki barisan belakang yang tangguh. Kiper Yann Sommer merupakan kiper terbaik di Bundesliga saat ini karena mampu membuat beberapa penyelamatan yang spektakuler.

Sebagai kapten kesebelasan, Sommer juga disiplin untuk selalu mengingatkan empat pemain belakang dalam mengambil posisi. Dua center back Matthias Ginger dan Nico Elvedi sangat lincah dalam bergerak dan kompak untuk saling menutup kelemahan yang ada.

Lanier juga cepat sekali beradaptasi di Bundesliga dan mampu menjalankan peran sebagai penjaga sektor pertahanan kanan. Pemain asal Swiss ini padu sekali dengan pemain kawakan asal Swedia, Oscar Wendt, yang bertugas sebagai bek kiri.

Namun, Rose tidak mau berspekulasi terlalu jauh tentang prestasi yang akan ditorehkan timnya. Ia tahu bahwa pendukung Die Fohlen sangat berharap masa kejayaan tiga dekade lalu bisa diraih kembali. Namun, dua kekalahan yang dialami dari dua kandidat juara, Red Bull Leipzig dan Dortmund, menunjukkan banyak hal yang masih harus ia benahi.

Satu yang membuat Rose puas ialah kemampuan anak-anak asuhnya untuk cepat bangkit dari kekalahan dan meraih kembali kemenangan. Setelah kalah 1-3 dari Leipzig, Die Fohlen membukukan empat kemenangan beruntun atas FC Koeln, Fortuna Duesseldorf, Hoffenheim, dan Augsburg. Ketika dua pekan lalu dikalahkan tuan rumah Dortmund 0-1, Moenchenglad­bach bangkit untuk menghajar Eintracht Frankfurt 4-2.

Malam ini perjuangan tim asuhan Rose berlanjut dengan bertandang ke markas Bayer Leverkusen. Pertandingan itu merupakan laga balas dendam bagi Moenchengladbach karena di musim lalu Bayer membuyarkan­ mimpi mereka untuk menempati urutan keempat Bundesliga dan tampil di ajang Liga Champions.

Bayer Leverkusen sedang terpuruk setelah ditinggal bintang mudanya Julian Brandt yang diboyong Dortmund. Mereka tidak pernah menang dalam tiga pertandingan terakhir di Bundesliga. Moenchengladbach­ sebaliknya konsisten, baik ketika bermain di kandang maupun tandang.

Namun, Rose tidak mau sesumbar dan berpesan kepada para pemainnya untuk fokus pada setiap pertandingan. “Tidak usah berpikir dulu terlalu jauh, sekarang selesaikan saja pekerjaan yang ada di depan mata. Kalau kita bisa menjalankannya dengan baik pasti gelar itu akan bisa diraih,” pesan pelatih berusia 43 tahun ini.

Para pendukung Die Fohlen tidak mau tahu, kejayaan Borussia Moenchengladbach harus segera dikibarkan. “Es gibt nur eine Borussia.
Hanya ada satu Borussia,” demikian lagu kebanggaan yang selalu dinyanyikan dengan penuh semangat oleh para pencinta Moenchengladbach­ di stadion kebanggaan mereka, Borussia-Park. Borussia Dortmund yang kini menjadi saingan mereka dianggap tidak pantas menyandang nama yang dalam bahasa Latin berarti Prussia, nama Kerajaan Jerman lama.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More