Sabtu 02 November 2019, 05:20 WIB

BPBD Petakan Wilayah Rawan Bencana

Lilik Darmawan | Nusantara
BPBD Petakan Wilayah Rawan Bencana

MI/Widjajadi
Antisipasi Bencana Longsor dan Banjir, BPBD Wonogiri Bersama FPRB Siapkan dan Tanam Bibit Tanaman Keras.

 

MENJELANG musim hujan, sejumlah daerah terus melakukan antisipasi bencana yang bisa terjadi akibat hujan. Antisipasi dilakukan untuk meminimalkan dampak bencana, seperti banjir dan longsor.

Antisipasi antara lain dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), dengan memetakan daerah rawan banjir dan tanah longsor. Berdasarkan pemetaan, wilayah rawan longsor di Cilacap berada di 64 desa yang tersebar di lima kecamatan, sedangkan daerah rawan banjir berada di 30 desa.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy mengatakan 64 desa yang rawan longsor itu berada di Kecamatan Karangpucung, Dayeuhluhur, Cimanggu, Wanareja, dan Gandrungmangu­. “Kami telah memetakan dae-rah­ rawan longsor. Kami meminta kepada masyarakat untuk waspada, terutama pada saat musim hujan tiba,” katanya, kemarin.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan setiap desa agar menyiagakan warga, terutama penduduk yang berada di wilayah rawan longsor. Karena itu, lanjutnya, pemerintah desa juga perlu proaktif untuk menyosialisasikan ancaman bencana kepada masyarakat agar mereka waspada dan bersiaga, terutama ketika hujan deras.

Tri mengungkapkan, selain rawan longsor, ada 30 desa yang rawan banjir. Wilayah yang paling rawan banjir ialah Kecamatan Sidareja sebab daerah berada di cekungan sehingga ketika terjadi hujan, sangat potensial terjadi banjir.

“Kami berharap masyarakat setempat siap siaga, apalagi sudah lama tidak hujan. Bisa saja intensitas hujan tinggi ketika memasuki musim hujan,” tambahnya.

Perkuat tanah

BPBD Kabupaten Wonogiri tanpa kenal lelah terus menyosialisasikan mitigasi bencana ke berbagai desa karena wilayah tersebut rawan longsor dan banjir.

“Kegiatan mitigasi adalah salah satu cara strategis menggerakkan atau menyiapkan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana alam. Kami membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) sebagai bentuk keseriusan­ dalam mengantisipasi bencana,” ujar Kepala BPBD Wonogiri Bambang Haryanto.

BPBD, antara lain telah membuat kesepakatan dengan FPRB di wilayah rawan bencana tanah longsor dan banjir untuk menanam bibit pohon yang mampu memperkuat tanah atau tebing, antara lain bibit tanaman beringin, mahoni, jati, sengon, dan kelor.

Di sisi lain, BPBD Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan potensi banjir lahar hujan di lereng Gunung Merapi relatif masih kecil. Kepala Bidang Kedaru-ratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan, menyebutkan, aktivitas Gunung Merapi memang memunculkan lava yang terdiri dari 397 ribu meter kubik material vulkanis, tetapi di kawasan puncak Merapi belum terjadi hujan deras sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Kondisi topografi Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang berada di kemiringan­ dan dikelilingi beberapa gunung, juga rawan longsor saat curah hujan tinggi. Oleh karena itu, Stasiun Meteorologi Gewayantana Flores Timur mengimbau kepada warga untuk mewaspadai bahaya banjir dan tanah longsor. (WJ/AU/FB/PT/RF/DG/AD/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More