Sabtu 02 November 2019, 04:00 WIB

Menata Hidup seusai Maut

Galih Agus Saputra | Weekend
Menata Hidup seusai Maut

MI/SUMARYANTO BRONTO
Aldi Novel Adilang (kanan) bersama ayahnya Alfian Adilang.

PEMUDA asal Manado, Sulawesi Utara, Aldi Novel Adilang pernah terapung di lautan lepas selama 49 hari. Peristiwa itu terjadi pada Juli 2018.

Ketika itu Aldi sedang bekerja sebagai penjaga rompong ikan di laut. Sialnya, hari itu jangkar yang mengikat rompong terputus dan membuatnya terhanyut. Hari demi hari Aldi lewati sembari berharap adanya daratan sekalipun hanya ada lautan sepanjang mata memandang. Kesulitan kemudian mulai terasa ketika persediaan bahan makanan Aldi sudah habis. Oleh karena itu, ia lantas memenuhi kebutuhan dengan cara memakan ikan mentah dan meminum air laut.

Aldi terapung sejak dari pesisir Manado dan ditemukan di perairan Guam, Jepang. Kala itu ia masih berusia 18 tahun, dan kisahnya tampak menjadi perwujudan nyata dari sosok Pi, tokoh utama dalam film yang disutradarai Ang Lee, Life of Pi. Beruntungnya, Aldi lantas diselamatkan oleh kapal laut berbendera Panama, pada 31 Agustus 2018, hingga kemudian dihubungkan dengan KJRI Osaka, Jepang, yang membawanya pulang ke Indonesia.

Kakak Aldi, Tisya Ayunita menceritakan bahwa selama Aldi terapung di atas laut, banyak gosip yang beredar di masyarakat. Ada yang menganggap pemuda itu sudah dimakan ikan, bahkan ada pula yang berceloteh untuk membuatkan upacara peringatan 40 hari kepergian Aldi. “Saya marah, saya bilang dia masih hidup. Di mata keluarga kami, dia masih ada dan dia pasti pulang. Kami sekeluarga bilang selama belum melihat mayatnya, dia masih hidup,” tutur Tisya.

Tidak lagi melaut

Terapung di laut selama puluhan hari, lantas membuat Aldi tak ingin lagi melaut. Ia ingin fokus melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita. Namun demikian, hingga saat ini Aldi masih ingat bagaimana pengalaman hidupnya di atas rompong untuk mencari ikan. Biasanya ia menjaga tempat berukuran 6 x 2,5 meter tersebut setiap hari. Pernah dia tidak pulang ke rumah selama satu tahun.

Sebelumnya, Aldi mengaku juga pernah beberapa kali hanyut di laut. Hanya saja, pada pengalaman sebelumnya ia mudah ditemukan dalam kurun waktu satu atau dua hari. Aldi biasa hidup sendiri untuk menjaga tangkapan ikan di laut dan hanya berkomunikasi dengan sesama penjaga rompong melalui handy talky (HT).

“Waktu itu ada angin kencang dan jangkarnya putus. Waktu putus saya juga tahu, sempat berkomunikasi juga dengan teman yang ada di rompong lain maupun yang di darat. Mereka sempat kejar saya, tetapi tidak dapat karena semakin lama semakin jauh. Awalnya saya juga tidak panik karena sudah tahu ada yang mengejar dari darat, tetapi ternyata tidak bisa,” tutur Aldi.

Sementara itu, kedua orangtua Aldi ada di rumah sakit untuk berobat. Ibunya sakit jantung. Sang ayah, Alfian Adilang menceritakan kondisi Aldi begitu saja hingga kemudian kondisi kesehatan sang ibu semakin menurun. “Saya beripikir kalau Aldi sudah begitu (meninggal –red),” tutur Alfian seraya mengenang peristiwa yang menimpa anak laki-lakinya tersebut.
Sementara itu, Aldi mengaku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup di atas rompong. Beruntungnya, dia juga tidak kehabisan akal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aldi memancing dan mengonsumsi dua ikan mentah setiap hari, sedangkan untuk kebutuhan cairan ia memeras air laut menggunakan kaus yang kemudian ditampung menggunakan gelas untuk mengurangi rasa asin.

Ikan besar

Selama hanyut, Aldi juga mengatakan bahwa ia hidup bersama hiu yang setiap saat dapat ditemukan dan dilihat di sekeliling rompong. Ikan-ikan itu datang dalam jumlah banyak dan berukuruan besar. “Ikan besar semuanya. Saya kalau dimakan dia pasti habis,” tuturnya.

Pada suatu waktu, Aldi juga mengaku sempat ingin bunuh diri. Ia merasa tidak dapat menemukan satu orang pun karena sebatas mata memandang hanyalah lautan. Ia ingin menceburkan diri ke laut hingga tidak dapat kembali ke daratan.

Namun begitu, Aldi mengaku mendengar bisikan yang memperteguh hati. Suara-suara itu memberikan semangat dan keyakinan bahwa suatu saat ia dapat bertemu orangtua kembali, hingga kemudian terjawablah keyakinan itu dengan adanya kapal yang datang menghampiri. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More