Sabtu 02 November 2019, 02:30 WIB

Bertahan di Hutan tanpa Makanan

Gas/M-4 | Weekend
Bertahan di Hutan tanpa Makanan

MI/SUMARYANTO BRONTO
Indra Wijaya Arta Kusuma

KISAH berikutnya dialami Pemuda asal Palangkaraya, Indra Wijaya Arta Kusuma. Ia sempat hilang selama enam hari di Gunung Muro, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, pada Juli 2019. Sebelumnya, Indra mengawali pendakian di gunung dengan ketinggian 927 mdpl itu pada Jumat (31/5). Ia berangkat seorang diri, tanpa persiapan yang cukup matang, bahkan kurang mengenal medan.

“Itu sebenarnya bukit. Kalau dikatakan gunung kurang terlalu tinggi. Waktu itu saya solo hiking. Saya hanya membawa tiga roti dan satu camilan, karena saya prediksi dengan ketinggian demikian hanya membutuhkan waktu satu jam untuk pulang-pergi. Saya juga membawa 1 liter air,” tuturnya.

Indra lantas terperosok atau jatuh ke jurang setinggi 50 meter saat turun. Berharap menemukan jalur pendakian kembali, ia justru semakin tersesat di tengah hutan lebat. Lima hari sudah ia bertahan hidup tanpa bekal makanan, dan mulai pasrah akan nasibnya pada hari keenam.

Sang ibunda, Margaretha tidak dapat membayangkan bagaimana nasib anaknya bertahan selama berhari-hari di tengah hutan tanpa perbekalan. Upaya pencarian yang dilakukan Basarnas juga belum mendapatkan hasil. Namun sebaliknya, menurut Margaretha, mukjizat dari Tuhan justru terlihat ketika ia mengirimkan tiga pemburu yang secara tidak sengaja menemukan Indra.

Sementara itu, Indra mengaku dalam kondisi prima saat berangkat mendaki. Ia mulai kehilangan arah dalam perjalanan pulang karena ternyata pemandangan dan suasana tampak berbeda pada saat malam. Kala itu Indra menemukan suatu jalan di semak-semak yang ternyata ialah jurang saat diinjak.

“Jatuh ke tebing pertamanya kurang lebih 5 meter. Beruntungnya juga saya cuma terperosok dan tidak jatuh berguling-guling. Setelah itu semakin turun hingga 50 meter, dan waktu itu saya ada dua pilihan, naik lagi ke puncak atau bertahan. Tetapi karena saat itu jiwa petualang saya yang kuat, akhirnya saya telusuri. Itu salahnya,” tutur Indra.

Indra berusaha mencari jalan pulang sejak hari pertama hingga kedua. Kala itu ia sudah tidak memiliki bekal apa pun kecuali air minum. Bekal rotinya pun hanya dimakan satu pada saat berangkat mendaki, sedangkan sisanya ia buang saat ter­sesat atau perjalanan pulang. Menurut Indra, masyarakat di sana percaya jika seseorang tersesat, maka ia tidak perlu membawa bekal. Bekal hanya akan menarik perhatian ‘penunggu’ yang menghuni kawasan sekitar, dan oleh karena itu pula ia hanya minum dari air kali dan pisang yang ditemukan di hutan.

Indra juga sempat menemukan suatu pondok di tengah hutan pada hari ketiga. Tempat itu lantas ia pakai untuk istirahat, dan tempat bermalam setelah menghabiskan waktu untuk menyusuri jalan pulang, termasuk kembali lagi ke puncak. “Karena saya tidak membawa kompas, saya jadi tidak tahu arah. Saya hanya tahu kanan, kiri, depan, belakang, dan itu semua sudah saya telusuri tetapi tidak menemukan jalan,” tutur Indra.

Beberapa hari berikutnya, Indra lantas ditemukan tiga pemburu di dalam hutan. Salah satu pemburu, yang kemudian juga diangkat menjadi ayah angkat Indra secara adat, yaitu Hosang, menemukan pemuda itu dalam kondisi lemah. “Pertolongan pertama yang kami berikan waktu itu ialah makan. Waktu itu kami juga bawa sarden, dan kemudian setelah satu jam lalu kami bawa pulang,” tutur Hosang, yang mengaku mengetahui ciri-ciri pemuda hilang itu dari SAR ketika berangkat berburu. (Gas/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More