Jumat 01 November 2019, 20:02 WIB

Kunci Whatsapp dengan Sidik Jarimu!

Irana Shalindra | Weekend
Kunci Whatsapp dengan Sidik Jarimu!

AFP/STAN HONDA
Whatsapp merilis fitur baru di tengah isu peretasan oleh perusahaan teknologi Israel.

WhatsApp telah mengumumkan bahwa aplikasinya sekarang dapat dikunci dengan sidik jari di Android, menyusul penambahan keamanan biometrik ke versi iOS-nya awal tahun ini. Mengaktifkan fitur tersebut berarti Anda harus menggunakan sidik jari untuk membuka kunci aplikasi bahkan setelah membuka kunci ponsel. Tingkat keamanan ekstra mirip dengan apa yang mungkin Anda temukan di aplikasi perbankan.

WhatsApp mengatakan Anda akan dapat beralih pada keamanan tambahan dari dalam menu pengaturan Privasi aplikasi. Ada beberapa opsi untuk membiarkan aplikasi tetap tidak terkunci selama satu atau 30 menit setelah Anda membukanya, dan ada juga sakelar untuk mencegah konten pesan Anda muncul dalam pemberitahuan.

1. Ketuk menu berupa titik tiga vertikal di sebelah kanan atas WhatsApp.
2. Pilih Setelan atau Setting
3. Pilih Akun atau Account.
4. Pilih Privasi atau Privacy.
5. Pilih Kunci sidik jari atau Fingerprint lock.
6. Konfirmasikan sidik jari Anda.
7. Anda juga bisa memilih dalam berapa menit kunci akan di aktifkan. Terdapat tiga pilihan, kunci segeram setelah 1 menit, atau setelah 30 menit.

Bersamaan dengan pengimplementasian fitur ini, warganet diramaikan pula dengan peretasan yang terjadi pada aplikasi tersebut. Awal pekan ini, Facebook, pemilik Whatsapp, menggugat perusahaan keamanan siber asal Israel, NSO Group, di pengadilan federal California. Gugatan itu terkait dugaan serangan malware yang terjadi pada ribuan pengguna WhatsApp.

Menurut Facebook, malware itu tidak dapat menembus enkripsi atau penyandian WhatsApp. Akan tetapi, malware tersebut dapat menginfeksi ponsel korban, sehingga NSO bisa mengakses pesan yang dipecah sandinya di perangkat penerima. Selain NSO Group, perusahaan afiliasi Q Cyber juga kena gugat.

Disebutkan, NSO memakai software Pegasus tidak hanya untuk mengakses pesan yang dikirim via WhatsApp, tapi juga platform lain seperti iMessage, Skype sampai Telegram. Pihak NSO diduga  membuat akun WhatsApp untuk mengirimkan 'komponen malware' pada perangkat yang diincar. Sasaran dari spionase siber NSO  itu antara lain, jurnalis dan aktivis HAM.

NSO kemudian dapat mengambil alih smartphone dari target yang disasar dengan komputer yang mereka kendalikan. WhatsApp menyatakan sudah menghubungi 1.400 user yang amat mungkin terdampak serangan ini.

Lebih lanjut, Facebook meminta pengadilan untuk memblokir setiap upaya NSO untuk mengakses sistem WhatsApp maupun Facebook. Pasalnya, aksi semacam itu melanggar privasi dan kemerdekaan individu. (The Verge/BBC/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More