Jumat 01 November 2019, 14:18 WIB

Melestarikan Pertanian Berkelanjutan

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Melestarikan Pertanian Berkelanjutan

MI/Ardi Teristi Hardi
Tugiman dan Mukijo menggarap sawah dengan sistem pertanian berkelanjutan. Panen yang dihasilkan tidak lagi dikuasai tengkulak.

 

TUGIMAN (63) dan Mukijo (60), Minggu (20/10) siang, tampak sibuk membuat galian di tengah hamparan sawah yang sebentar lagi siap panen. Dengan linggis dan cangkul, dua lelaki paruh baya itu tidak menghiraukan teriknya sengatan matahari yang berada di atas kepala mereka.

"Sedang membuat rumah burung hantu. Sudah beberapa yang jadi dan dihuni burung hantu," kata Tugiman sambil menunjuk salah satu rumah burung hantu yang jaraknya sekitar 50 meter.

Selain rumah burung hantu, lanjut dia, juga sedang dibangun rumah karantina bagi burung hantu. Letaknya di pekarangan rumah anaknya Ketua Kelompok Tani Boga Lestari di Dusun Samben, Desa Argomulyo, Bantul. Tugiman sedikit bercerita, burung hantu merupakan predator tikus yang menjadi hama di area persawahan. Burung hantu sangat membantu petani
memangsa tikus sehingga hasil panen tetap bagus.

Ditemui di dekat rumahnya, Ketua Kelompok Tani Boga Lestari, Jakiman (66) menyampaikan, sekarang kelompok taninya sudah memiliki dua rumah burung hantu dan sudah dihuni burung hantu. Rencananya rumah burung hantu akan ditambah ditambah 14 lagi.

Ia juga sedang membuat tempat karantina jika ada burung ataupun anak burung yang jatuh ataupun sakit. Pembuatan rumah dan karantina burung hantu merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Tani Boga Lestari dalam menjaga area pertanian mereka.

"Kami melakukan kegiatan pertanian dari hulu hingga hilir. Dari pembibitan, penanganan hama, hingga pemasaran hasil pertanian," kata dia.

Dengan model pertanian tersebut, mereka mampu mengelola 16 hektar lahan pertanian dan menyejahterakan sekitar 40 anggota aktif dari total 180 anggota yang terdaftar. Lahan pertanian mereka mampu menghasilkan 1 ton per 2000 meter2 setiap kali panen.

Kelompok tani membeli gabah dari petani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar agar jangan sampai petani menjual ke tengkulak atau penebas karena itu merugikan petani. Tidak hanya itu, beras yang dihasilkan setelah digiling juga dijual ke petani dengan harga di bawah harga pasar. Kelompok taninya dapat menjual beras dengan harga lebih murah karena tidak ada tengkulak yang bermain dan telah memotong mata rantai dari penggilingan ke pemasaran. Dengan cara ini, petani lebih senang karena harga murah, beras tidak ada campuran, serta keuntungan yang didapat kelompok tani nantinya juga kembali ke mereka.

"Walau tidak banyak, kami sudah memiliki SHU yang dibagikan ke anggota serta bisa membantu warga yang orang jompo, masing-masing lima kilogram untuk 4 orang," kata petani yang enggan menyebut jumlahnya.

baca juga:

Jakiman menceritakan, kebanyakan petani di dusunnya adalah buruh bangunan. Bertani merupakan profesi turun-temurun. Mereka biasa bertani di sawah pada pagi hari sebelum berangkat bekerja dan sore hari setelah pulang bekerja. Biasanya mereka juga tidak menggarap sawah mereka sendirian, tetapi ada kalanya juga membayar buruh tani. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More