Jumat 01 November 2019, 10:47 WIB

Membuka Pintu Relasi Transpuan dengan Kelompok Agama di Madura

Mohammad Ghazi | Nusantara
Membuka Pintu Relasi Transpuan dengan Kelompok Agama di Madura

MI/Mohammad Ghazi
Sofa (kanan) bersama seorang transpuan Bangkalan, Ica (tengah) dan aktivis GAYa Nusantara, Khanis Suvianita di Bangkalan.

 

"Terima kasih kepada keluarga, tetangga dan teman-teman yang menerima kami apa adanya. Terima kasih juga atas dukungan semangat yang diberikan, sehingga kami bisa menjalani kehidupan dengan baik," kata Sofa, seorang transpuan, saat ditemui di salah satu kafe di Kota Bangkalan, Jawa Timur, pertengahan Oktober.

Tidak ada yang menyangka, Sofa yang sedari kecil terlihat oleh masyarakat umum seperti laki-laki. Kini wajah, gaya rambut dan bentuk tubuhnya menampakkan bahwa dirinya seorang perempuan.

Mengenakan blaser warna ungu, Ia baru saja bertemu dengan beberapa orang sesama transpuan dan gay Bangkalan. Pertemuan tersebut rutin dilakukan sebagai sarana berdiskusi dan saling memberi dukungan semangat serta bertukar kreasi.

"Sesekali, pertemuan ini, menghadirkan anggota komunitas lain seperti. Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos) atau GAYa Nusantara," katanya menjelaskan soal pertemuan tersebut.

Di kalangan transpuan di Bangkalan, nama Sofa cukup dikenal. Waria yang tercatat sebagai guru PNS di salah satu sekolah negeri di Bangkalan tersebut cukup aktif mendata dan melakukan pendampingan kelompok transpuan di kotanya.

Ia juga aktif memberikan dorongan kepada kelompok jenis kelamin ketiga itu untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar, tanpa khawatir dengan stigma buruk sebagai sampah masyarakat.

"Di antaranya dengan memberikan mereka pelatihan usaha tata rias, kursus menari dan bentuk usaha lainnya," kata Sofa.

Waria dari empat bersaudara itu juga tidak henti-hentinya melakukan pendekatan ke birokrasi dan kalangan tokoh agama melalui kegiatan bersama. Serta diskusi bertemakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan keberagaman gender.

Langkah itu dinilainya penting dilakukan, selain agar para waria tersebut tidak merasa selalu dikucilkan. Juga memberi penyadaran pada masyarakat bahwa ada kelompok lain yang harus diterima kehadirannya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan ternyata, kata Sofa, secara perlahan upaya itu menunjukkan hasil positif. Keberadaan kelompok tersebut mulai diterima meskipun berada di Madura yang dijuluki sebagai Serambi Madinah, atau kawasan dengan pola beragama yang fanatik. Beberapa waria dan gay juga ada yang diterima bekerja di sektor publik, seperti guru, pegawai dan karyawan perusahaan.

Pada beberapa momen, kelompok tersebut mulai tampil ke publik. Bahkan, pada beberapa kali acara HUT Kemerdekaan RI, mereka mengikuti beberapa lomba yang dilaksanakan, seperti lomba gerak jalan dan bola volly.

"Memang masih ada kalangan yang belum bisa menerima kami," katanya sambil tersenyum tanpa bersedia menyebut kalangan yang dia maksudkan.

Salah satu keinginan yang saat ini sedang diperjuangkan bersama Perwakos adalah membangun relasi dengan tokoh lintas agama. Dan saat ini sudah ada beberapa kiai muda yang mendukung langkahnya itu.

"Sudah ada beberapa kiai muda dari pesantren ternama yang sering kami ajak diskusi," katanya tanpa mau menyebut nama kiai muda tersebut.

Selama ini, kata waria kelahiran Maret 1969 itu, kehidupan kelompok waria di Madura belum punya kesempatan luas menunjukkan eksistensinya. Mereka seringkali dianggap sebagai sampah masyarakat yang mengganggu ketentraman dan dirazia. Bahkan, di salah satu kabupaten di Madura, kata dia, beberapa waktu lalu kelompok waria dirazia hingga ke tempat kos dan rambut mereka digunduli.

Di lingkungan tempat tinggal, mereka kerap tidak mendapat posisi yang layak seperti warga lainnya, sering dianggap sebagai bahan lelucon serta menjadi sasaran godaan.

Itulah sebabnya, kata Sofa, membangun komunikasi dengan para waria, awalnya bukan hal yang mudah. Berbagai tantangan dialami, mulai dari penolakan, kecurigaan hingga pandangan sinis. Untuk meyakinkan bahwa yang dilakukannya untuk kebaikan sesama mereka, butuh waktu lama dan ketelatenan.

"Saya paham, mereka menolak karena dampak kejiwaan dari kondisi yang mereka alami," katanya.

Sofa pernah mengalami hal yang sama saat masa-masa awal menunjukkan diri sebagai seorang transpuan, penolakan dari lingkungannya sempat ia dapatkan. Beruntung, saat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, ia mendapatkan dukungan dari Perwakos. Anak ketiga dari empat bersaudara itu pun menyatakan diri bergabung dengan organisasi para waria tersebut.

Sejak saat itu, keinginannya untuk memberi dukungan moral kepada sesama waria mulai tumbuh. Diawali dari kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan waria dan gay, kegiatan yang bersifat penyadaran HAM dan pemberdayaan ekonomi juga ia lakukan.

Sikap "kuekueh" dengan jati diri gendernya itu, membuahkan hasil. Keluarga mau menerima keadannya yang berbeda dengan tiga saudara kandungnya yang lain. Begitu pula dengan teman-temannya, hingga akhirnya ia diterima sebagai guru negeri di salah satu sekolah milik pemerintah.

baca juga: Pangdam Bukit Barisan Tutup TMMD ke 106

"Keluarga saya hanya meminta agar saya berhati-hati dan tidak meninggalkan ajaran agama," kata alumni Pasca Sarjana jurusan Bahasa Indonesia itu sambil tersenyum.

Sejak saat itu ia makin aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan mendorong kawan-kawannya untuk menunjukkan eksistensi tanpa harus kawatir mendapatkan stigma buruk. (OL-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More