Jumat 01 November 2019, 08:05 WIB

Gugah Kesadaran Masyarakat melalui Program Samtama

mediaindonesia.com | Megapolitan
Gugah Kesadaran Masyarakat melalui Program Samtama

Isitimewa/Pemprov DKI Jakarta
Warga mengembangkan budidaya maggot secara sukarela untuk mengurangi sampah dari hulu.

 

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan program Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama) dapat mengurangi produksi sampah di masyarakat khususnya rumah tangga hingga 20%. Program ini baru berjalan pada Agustus lalu di 22 RW dan melibatkan 209 relawan.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Andono Warih, program ini digalakkan guna mengurangi ketergantungan pada pembuangan sampah di Bantargebang. Samtama yang dicetuskan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga salah satu program dalam Kegiatan Strategis Daerah (KSD).

“Nantinya ini bakal diduplikasi oleh RW-RW se-Jakarta dengan didukung pengembangan bank sampah, pengembangan tempat pembuangan sampah (TPS) 3R (recycle center), kampanye, serta regulasi pembatasan penggunaan plastik sekali pakai,” kata dia kepada Media Indonesia, Kamis (24/10).

Samtama yang dirilis berdasarkan Undang-Undang Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Perda Nomor 3/2013 tentang Pengelolaan Sampah tersebut mengusung paradigma baru, yakni pengurangan sampah sejak dari sumber sampah seperti rumah tangga. “Strategi pengurangan sampah ini yang kita kembangkan dengan berkolaborasi bersama masyarakat,” ujarnya.

Dengan begitu, sampah yang dihasilkan berkurang dan semakin minim yang harus diangkut ke TPA untuk diolah dan akibatnya pembiayaan penanganan sampah pun berkurang. Artinya, kegiatan 3R (reduce, reuse, recycle), atau kurangi, guna ulang, dan daur ulang pada akhirnya mencapai siklus circular economy.

Budi daya maggot

Andono menjelaskan dalam menjalankan kegiatan Samtama, DLH DKI Jakarta bekerja sama dengan warga setempat seperti pembudi daya maggot atau hewan belatung. Budi daya maggot itu guna mempercepat penguraian sampah organik sehingga meminimalkan sampah organik yang terdiri dari sisa sampah makanan warga.

Program ini misalnya dijalankan di Kelompok Tani (Poktan) Daun Hijau di Jalan Cempaka Putih Timur, RT 03/10, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

“Budi daya ulat maggot ini baru kami lakukan setahun belakangan. Kami sudah melakukan tiga kali penetasan yang menghasilkan 15 kilogram ulat maggot,” kata Ketua Poktan Daun Hijau Cempaka Putih Adian Sudiana.

Ia mengatakan budi daya maggot dirasa banyak manfaatnya terlebih untuk proses pengurangan sampah organik rumah tangga.

“Lima kilogram ulat maggot setiap hari dapat menghabiskan 15 kilogram sampah organik dari rumah tangga. Jadi, dengan 15 kilogram ulat maggot yang ada saat ini, dalam sehari bisa menghabiskan hingga 45 kilogram sampah organik,” terangnya.

Ia menambahkan, untuk mengurangi sampah rumah tangga di RW 10, pihaknya menargetkan dapat mengurangi sampah rumah tangga hingga 20%. Rencananya, budi daya ulat maggot dalam skala besar bakal dilakukan melalui program corporate social responsibility (CSR). “Kami ingin berkontribusi melakukan pemilahan dan pengurangan sampah sejak dini agar lebih banyak lagi sampah yang tidak perlu dibuang hingga ke TPST Bantargebang,” tandasnya. (Put/S5-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More