Jumat 01 November 2019, 02:00 WIB

Hannah Al Rashid: Perluas Edukasi Kesetaraan Gender

Fathurrozak | Hiburan
Hannah Al Rashid: Perluas Edukasi Kesetaraan Gender

MI/Andri Widiyanto
Aktris Hannah Al Rashid

 

AKTRIS Hannah Al Rashid, 33, dikenal konsisten mengampanyekan isu kesetaraan gender. Hannah pun membawa sikapnya ke pekerjaan yang ia geluti di dunia seni peran. Ia mengaku selalu mengambil peran yang tidak melanggengkan stereotip perempuan.

"Kenapa gue suka action atau horor? Karena ada pertentangan dari karakter perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap stereotip. Biar pun jadi bad girl di film action atau jadi antagonis, tapi perempuan juga bisa main ini lo, ini adalah suatu pernyataan," ungkap aktris yang bermain di reboot film Ratu Ilmu Hitam (2019), saat berkunjung ke Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa, (29/10).

Dalam film terbarunya, Ratu Ilmu Hitam yang tayang pada November ini, Hannah berperan sebagai perempuan yang memiliki karakter dengan inisiatif dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, alih-alih sekadar pemanis kisah.

"Dia aktif dalam memecahkan permasalahan yang menimpa keluarganya. Ini menunjukkan peran yang sangat penting, tidak hanya jadi orang yang pasif dan jadi tempelan. Banyak karakter perempuan yang seperti itu. Jadi, (ketika berperan sebagai aktor) tidak langgengkan stereorip," terang pemain Critical Eleven tersebut.

Sebagai penyintas kekerasan berbasis gender, Hannah juga kerap memberi peringataan kepada sesama rekan kerjanya. Industri perfilman, imbuhnya, masih memberi ruang yang memungkinkan pelaku pelecehan seksual memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Hannah mengungkapkan, penting baginya agar pelaku industi film, termasuk sutradara dan produser memahami isu yang sering ia angkat.

"Setidaknya, dalam kontrak ada pasal yang mengatur soal pelecehan. Itu penting. Artinya produser menganggap serius isu ini. Namun, ini juga belum terjadi di semua rumah produksi, masih beberapa saja," ujar aktris yang bernama asli Hannah Aidinal Al Rashid itu.

Ia menambahkan, masalah yang sering terjadi ialah korban kekerasan yang menyuarakan kebenaran cenderung balik disalahkan. Hal tersebut terjadi di ruang publik, lingkungan kerja, dan bahkan lingkungan rumah.

"Bayangkan jika atasan kita memang enggak mengerti isu ini, betapa negatifnya dalam ruang kerja. Enggak hanya bisa sekadar masukkan pasal. Harus ada edukasi secara luas untuk isu kekerasan berbasis gender ini," tegas perempuan kelahiran 25 Januari 1986 tersebut.


Humanisme

Aktris yang juga bermain di The Night Comes for Us (2018) ini menganggap selain memperluas edukasi, dalam kesetaraan dan kekerasan berbasis gender, prinsip yang harus dipegang ialah humanisme.

"Intinya punya open minded mau meresapi ilmu dari mana saja. Harus peduli sesama dan balik ke humanisme saja sih. Kalau enggak mau diperlakukan demikian, ya sesama manusia harus adil dan introspeksi diri," tukasnya.

Hannah juga mengungkapkan, meski banyak pihak menafikkan kasus pelecehan seksual, ada banyak bukti dari lembaga yang menyurvei pelecehan seksual di ruang publik yang dialami perempuan.

Ia menambahkan, menghadapi kekerasan serupa bukan hal yang mudah, terlebih bila para pelaku memiliki kuasa. Ancaman kehilangan peluang dan kesempatan mendapat pekerjaan bisa saja tiba-tiba menimpa dirinya. Namun, Hannah tetap konsisten untuk tetap bersuara lewat media atau kanal personal yang ia miliki. (H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More