Kamis 31 Oktober 2019, 19:53 WIB

Budayawan: Adab dan Budaya Bangsa dalam Titik Kritis

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Budayawan: Adab dan Budaya Bangsa dalam Titik Kritis

Antara Foto/M Agung Rajasa
Radhar Panca Dahana

 

BUDAYAWAN sekaligus seniman Radhar Panca Dahana menilai, kondisi sosial budaya di Indonesia tengah menunjukkan penurunan yang sangat drastis. Hal ini ditunjukkan dengan lenyapnya relasi antar manusia dengan sumber-sumber adab dan budaya yang menciptakan kekeringan atau kian tandusnya hubungan antar manusia, mulai dari hubungan terdekat dalam keluarga sampai hubungan sosial dalam struktur.

Masyarakat kehilangan jati diri, baik secara individual maupun komunal dan semakin meluas diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang mengidentifikasi kenyataan dirinya dengan acuan-acuan primordialnya.

"Adab dan budaya yang kami anggap mengalami kemerosotan paling drastis di tingkat peradaban kebudayaan kita. Ini hampir tidak tertolong kalau orang-orang sudah kehilangan adab budaya," kata Radhar Panca Dahana dalam acara Temu Mufakat Budaya Indonesia (MBI) di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (31/10).

Selain itu, sistem pendidikan hingga sosial kemasyarakatan yang diproduksi dan diterapkan oleh pemerintah cenderung mendestruksi atau cenderung mengasasinasi eksistensi adat dan budaya masyarakat. Kemudian pretext yang ada pada program pariwisata di banyak daerah dipandang ambisius.

Pendeta Bali Ida Pedanda Gede Putra Kekeran mengatakan, bangsa Indonesia perlu mengembalikan identitas aslinya yang memiliki sopan santun, penyabar, cerdas, bijak, memiliki rasa kebersamaan, gotong royong dan menjunjung nilai-nilai Pancasila.

"Tidak boleh anti dengan nilai-nilai kita sendiri, sementara orang lain mengakui nilai-nilai yang kita punya," kata Ida.

Indikasi akan hilangnya adab dan budaya di masyarakat pun sudah tampak di mana-mana, seperti munculnya paham-paham radikalisme dan kekerasan hingga tergerusnya sopan santun.

"Jadi benar kalau dikatakan budaya kita sedang mengalami turbulance, contohnya seperti kasus di Papua. Di mana-mana seolah-olah kekerasan merupakan identitas kita. Kalau kita mau kembali ke identitas kita, tidak mesti begitu, itu pengaruh luar yang dibawa sama kita. Kita itu bermusyawarah, mendengarkan orang lain itulah nilai kita," ungkapnya.

Untuk mencegah semakin parahnya kondisi adab dan budaya masyarakat, MBI telah menyusun sejumlah rekomendasi seperti, menyarankan pemerintah memberikan perlindungan menyeluruh termasuk payung hukum yang kuat bagi keberadaan dan keberlangsungan budaya (adat dan tradisi lokal) terutama dalam upaya menghindar dari eksploitasi atau destruksi gerak industrialisasi.

Moratorium atau mereduksi secara drastis jumlah aturan atau perundang-undangan dari jumlah yang fantastis saat ini (43 ribu jumlah aturan menurut Mendagri) pada jumlah yang seminim mungkin, tapi mampu mengakomodasi kebutuhan modern terutama kekayaan dan pertumbuhan adab dan budaya. Kemudian memberikan pengakuan dan keabsahan pada keberlakuan hukum adat di beberapa kasus penyimpangan di masyarakat.

Menyusun peta jalan adab dan budaya bangsa kita ke masa depan yang lebih jauh. Menyelenggarakan program bela budaya sebagai bagian utama dalam menciptakan sistem pertahanan budaya semesta yang melibatkan seluruh elemen masyarakat atau bangsa, baik berupa program yang governmental atau non-govermental.

Adab dan budaya perlu menjadi bagian utama dari pariwisata, namun wajib diposisikan secara dominatif pada semua kegiatan leisure dan selebratikal serta berorientasi material.

"(Solusi) itu bisa diselenggarakan oleh pemerintah, yang penting kita memberikan jalan keluar," tandas Radhar.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More