Kamis 31 Oktober 2019, 17:40 WIB

Harga Gas Industri Lebih Murah Ketimbang Gas Rumah Tangga

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Harga Gas Industri Lebih Murah Ketimbang Gas Rumah Tangga

ANTARA/ARIF FIRMANSYAH
Teknisi Perusahaan Gas Negara (PGN) memeriksa jaringan gas rumah tangga di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Menteng Asri, Kota Bogor.

 

PEMERINTAH dinilai tidak perlu membatalkan rencana menaikan harga gas industri. Pasalnya, harga gas industri sudah tujuh tahun tidak naik. Harga gas industri bahkan masih lebih murah ketimbang harga gas rumah tangga.

Direktur Energy Watch Mamit Setiawan mengungkapkan hal tersebut saat menanggapi penundaan rencana kenaikan harga gas industri oleh Kementerian ESDM.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berkirim surat ke Presiden yang isinya menolak rencana kenaikan harga gas industri. Surat tersebut diduga menjadi pertimbangan pemerintah untuk menunda rencana kenaikan.

“Sebetulnya, penaikan harga gas industri itu wajar karena beban Badan Usaha Hilir Gas sudah berat. Toh, harga gas di hulu sudah naik juga. Ingat juga, harga gas industri masih lebih murah dibandingkan harga gas rumah tangga," ujar Mamit Setiawan kepada para wartawan di Jakarta, Kamis (31/10).

Menurutnya, beban harga gas, pembangunan infrastruktur jaringan gas, dan harga gas bumi hilir, merupakan harga agregasi, yakni dari berbagai harga pasokan gas bumi. Selain itu juga biaya infrastruktur penyaluran gas bumi dari lokasi produsen sampai ke konsumen akhir. Dari 71% dari harga gas hilir berasal dari harga gas hulu.

Mamit menambahkan, saat ini harga gas industri di Singapura jauh lebih mahal ketimbang Indonesia. Jadi, sudah selayaknya kenaikan harga gas itu.

"Gas industri hanya Rp4.000/m3. Sementara harga gas rumah tangga sekitar Rp6.000/m3. Jadi, rasanya tak adil. Mestinya Kadin lebih bijak," tegasnya.

Menurut Mamit, laba Badan Usaha Hilir Gas terus tergerus karena sudah tujuh tahun tidak menaikkan harga gas industri.

Apalagi, Badan Usaha Hilir Gas harus memperhitungan pembangungan infrastruktur jaringan gas yang menjangkau ke banyak daerah. Ini tidak mudah dan membutuhkan investasi besar. Belum termasuk biaya perawatan dan pemeliharaan fasilitas milik Badan Usaha Hilir Gas.

"Untuk semua investasi itu, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan biaya investasi tersebut," tuturnya. (Ant/A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More