Kamis 31 Oktober 2019, 15:01 WIB

Memulihkan Kerusakan Lingkungan Pasca Tambang Melalui Geopark

Denny Susanto | Nusantara
Memulihkan Kerusakan Lingkungan Pasca Tambang Melalui Geopark

MI/Denny Susanto
Kalsel akan kelola bekas tambang yang masuk dalam Geopark Gunung Meratus menjadi kawasan wisata.

 

SIAPA yang tidak kenal Taman Tebing Breksi obyek wisata di Desa Sambirejo, Kabupaten Sleman yang instagrameble dan menjadi salah satu obyek wisata wajib dikunjungi di Yogyakarta. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa obyek wisata berupa bukit karst tersebut awalnya merupakan tempat penambangan batu alam untuk material bangunan.

Masyarakat desa yang menggantungkan hidup dari tambang batu ini menentang keras penutupan tambang, terkait upaya pengembangan taman bumi (geopark) dan konservasi geologi kawasan tersebut. Namun sejak 2014, pemerintah daerah akhirnya berhasil menutup kegiatan pertambangan. Sri Sultan Hamengkubuwono X berperan penting dalam menyadarkan masyarakat desa tentang pelestarian lingkungan.

Kini lokasi tambang batu tersebut sudah berubah menjadi obyek wisata andalan bagi pemerintah daerah dan mampu mendongkrak ekonomi masyarakat secara luas.

"Dulu masyarakat desa menentang ditutupnya tambang untuk geopark. Tetapi kini masyarakat dapat menikmati hasil dari pengelolaan wisata dengan PAD mencapai Rp4 miliar per tahun," tutur Kholik Irawan, Ketua Pokdarwis Taman Tebing Breksi Yogyakarta.
           
Selain Taman Tebing Breksi ada beberapa lokasi bekas tambang yang berhasil disulap obyek wisata kekinian dan wisata edukasi. Budi Martono, General Manager Geopark Gunung Sewu yang juga Presiden Jaringan Geopark Indonesia mengakui banyak tantangan dihadapi pihaknya dalam upaya pengembangan geopark Pegunungan Sewu ini.

"Banyak masyarakat yang menentang dalam pengembangan geopark dengan alasan masuk akal karena akan mematikan sumber pencarian mereka dan dapat merusak budaya atau kearifan lokal di sana. Tetapi geopark adalah konsep manajemen yang mengedepankan penyelamatan geologi, budaya dan kearifan lokal, keanekaragaman hayati dan biodiversity," ujarnya.

Sehingga konsep geopark ini sejalan dengan konsep pelestarian lingkungan secara komplek dengan melibatkan beragam stakeholder. Tujuan akhirnya adalah  peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

"Motto geopark global adalah memuliakan warisan bumi dan menyejahterakan masyarakat lokal," tutur Budi didampingi Kepala Bagian Pemberitaan Humas dan Protokol Pemprov Kalsel.

Menurut data yang ada jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan geopark Pegunungan Sewu yang meliputi wilayah Gunung Kidul di DI Yogyakarta, Wonogiri Jawa Tengah dan Pacitan, Jawa Timur pada 2012 lalu sebanyak 2 juta orang meningkat menjadi 5,5 juta orang. Demikian juga dengan PAD juga meningkat dari Rp8,8 miliar menjadi Rp41,5 miliar.

Contoh yang terjadi di Pegunungan Sewu bisa dilakukan oleh Pemprov Kalsel dengan Pegunungan Meratus. Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan penetapan kawasan Pegunungan Meratus sebagai Geopark Nasional juga ikut membantu upaya pengembangan pariwisata daerah tersebut. Geopark Meratus meliputi 67 geosite yang tersebar di 10 kabupaten/kota, terbanyak berada di kawasan pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah. Adapun geosite yang ditetapkan berupa hutan, goa, air terjun, danau, perbukitan, pegunungan karst, lembah dan sebagainya. Termasuk kawasan pendulangan intan Cempaka Kota Banjarbaru.

baca juga: Kepala Desa Dobo Diduga Korupsi Dana Desa

Kepala Bidang Air Tanah Dinas ESDM Kalsel, Ali Mustofa mengatakan pemerintah pusat telah menjadikan pembangunan geopark sebagai program prioritas nasional melalui Perpres 9/2019 tentang pengembangan geopark. Kalsel menargetkan geopark nasional Pegunungan Meratus menjadi Unesco Global Geopark pada 2021 mendatang. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More