Kamis 31 Oktober 2019, 14:35 WIB

Pilih Penceramah Edukatif bukan Provokatif

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Pilih Penceramah Edukatif bukan Provokatif

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Pendakwah berceramah saat acara Tabligh Akbar di Mesjid Al-Bantani di Kompleks Pemprov Banten di Serang

 

GURU Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Yusny Saby mengungkapkan tidak semua penceramah di Tanah Air memiliki sifat arif/bijaksana. Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah penceramah yang justru menyampaikan pesan provokasi pada masyarakat.

"Kenapa dia berbuat begitu, karena dia juga cari makan di situ. Kalau lembut-lembut saja dia nggak dapat duit, nggak diundang lagi. Orang-orang kita kan cenderung senang tema-tema ceramah yang lucu, porno, agitatif/provokatif," tutur Yusny dalam acara Temu Mufakat Budaya Indonesia di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu (30/10).

Selain untuk mencari uang, ceramah berbau provokasi juga digunakan untuk kepentingan politik untuk mengumpulkan pendukung serta kepentingan lainnya.

"Kadang-kadang kenapa kita ada usul seharusnya penceramah punya sertifikat, bukan apa-apa, agar dia mencerahkan (umat) bukan memperosokkan. Masalah agama tidak boleh sembarang," tuturnya.

Baca juga: Penceramah Harus Ajarkan Islam Wasathiyah

Agar masyarakat tidak terpapar isu provokatif yang kemudian dapat memecah belah umat, Yusny menyarankan masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih penceramah.

Dia menjelaskan, beberapa kriteria penceramah yang baik dan patut didengarkan adalah edukatif, sopan, menghormati orang lain, mampu memberikan pencerahan dan punya sifat toleransi.

"Kalau dia tidak edukatif, tidak toleran, dan provokatif, nggak usah pakai saja itu bukan ajaran agama. Agama itu lembut jangankan pada sesama seagama, yang lain agama pun harus lembut. Ketika anti agama lain, siapapun itu, dia sudah keluar dari jalur agama," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More