Kamis 31 Oktober 2019, 12:30 WIB

Modus Penipuan Kini Gunakan Foto Medsos dan OTP

Rifaldi Putra Irianto | Megapolitan
Modus Penipuan Kini Gunakan Foto Medsos dan OTP

Dok Media Indonesia
Ilustrasi penipuan

 

PLT Direktur Pengendalian Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Sabirin Mochtar mengatakan adanya pergeseran modus penipuan yang terjadi di kalangan masyarakat.

Jika dulu modus penipuan melalui media Short Message Service (SMS), kini beralih dengan penggunan foto dari media sosial dan pemanfaatan one-time password (OTP).

“Saat ini, telah terjadi pergeseran modus penipuan. Jika selama ini media aksesnya lewat SMS dengan kontennya “Mama Minta Pulsa”, saat ini telah bergeser dengan penggunaan foto dari media sosial dan pemanfaatan OTP atau one-time password,” kata Sabirin, dalam keterangan resmi, Kamis (31/10).

Ia menjelaskan, penggunaan foto dari media sosial biasanya digunakan sebagai foto profil dalam aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.

Kemudian pelaku menerapkan teknik sosial engineering untuk melakukan penipuan dan pemerasan.

Baca juga: Klarifikasi Video Asusila, Gisel Dicecar 19 Pertanyaan

Target teknik itu, pelaku bisa mendapatkan nomor OTP yang bisa digunakan untuk mengambil alih akun media sosial atau layanan pesan instan.

"Modus penipuan sebagaimana disebutkan tadi diawali dari melakukan registrasi kartu prabayar yang menggunakan NIK dan nomor KK orang lain. Kemudian kartu tersebut digunakan untuk mengaktifkan nomor WA dan memakai paket data nomor yang berbeda,” jelasnya.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan layanan pesan instan dengan cara tidak mudah membagi data pribadi.

"Masyarakat diharapkan agar lebih bijak dalam bermedia sosial. Dengan tidak melakukan sharing data pribadi dan tidak mudah percaya dengan iming-iming hadiah atau penawaran apapun. Serta tidak memberikan OTP atau pin kepada orang lain jika tidak melakukan transaksi (melalui online),” imbaunya.

Berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada September 2019 tercatat 1.316 aduan penipuan penggunaan kartu prabayar melalui kanal Twitter @aduanbrti dan Call Centre 159

Adapun, dari setiap aduan yang masuk. Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan verifikasi terhadap kebenaran laporan, terutama dalam hal kesesuaian antara nomor kartu SIM dengan nama yang terlaporkan.

“Jika hasil verifikasi antara identitas yang disampaikan dengan nomor yang digunakan untuk melapor sesuai, akan dapat diproses lebih lanjut. Terhadap nomor-nomor kartu prabayar yang terbukti digunakan untuk penipuan yang disertai data pendukung maka terhadap nomor tersebut dapat diblokir oleh operator seluler atas persetujuan BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia),” pungkasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More